RADARBONANG.ID – Minum es teh setelah makan sudah menjadi kebiasaan banyak orang Indonesia.
Rasanya segar, manis, dan seolah menjadi penutup sempurna setelah menyantap hidangan berat.
Namun di balik sensasi menyegarkan itu, kebiasaan minum es teh usai makan ternyata menyimpan risiko kesehatan yang sering luput disadari, terutama bagi sistem pencernaan.
Secara medis, waktu dan jenis minuman yang dikonsumsi setelah makan dapat memengaruhi cara tubuh mencerna makanan.
Baca Juga: Nyanyi Bareng Ribuan Orang, Kenapa Rasanya Nagih? Ini Efek Psikologis Konser yang Jarang Disadari
Es teh, yang mengandung suhu dingin dan senyawa tertentu dari daun teh, bisa memberi efek kurang baik jika diminum tepat setelah perut bekerja mencerna makanan.
Suhu Dingin Bisa Perlambat Pencernaan
Salah satu alasan utama es teh tidak disarankan diminum setelah makan adalah suhunya. Minuman dingin dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah di sekitar lambung.
Kondisi ini berpotensi memperlambat proses pencernaan karena kerja enzim pencernaan menjadi kurang optimal.
Saat makanan belum tercerna dengan baik, perut bisa terasa penuh lebih lama. Beberapa orang bahkan mengeluhkan perut kembung, begah, atau tidak nyaman setelah makan dan minum es secara bersamaan.
Kandungan Tanin dalam Teh
Teh mengandung senyawa tanin yang memiliki sifat mengikat zat besi dan protein.
Jika dikonsumsi tepat setelah makan, tanin dapat menghambat penyerapan nutrisi penting, terutama zat besi non-heme yang banyak terdapat pada sayuran dan makanan nabati.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berisiko menurunkan penyerapan zat besi secara konsisten, terutama pada kelompok rentan seperti remaja, ibu hamil, dan perempuan yang sedang menstruasi. Dampaknya bisa berupa mudah lelah hingga anemia ringan tanpa disadari.
Risiko Asam Lambung dan Nyeri Perut
Bagi orang yang memiliki masalah lambung, seperti maag atau GERD, minum es teh setelah makan bisa memperparah keluhan.
Suhu dingin dan kandungan kafein ringan dalam teh dapat memicu produksi asam lambung berlebih pada sebagian orang.
Akibatnya, muncul sensasi nyeri di ulu hati, mual, hingga rasa panas di dada. Gejala ini sering dianggap sepele karena tidak langsung muncul parah, padahal bisa menjadi kebiasaan yang memperburuk kondisi lambung dalam jangka panjang.
Kenikmatan Sesaat yang Menipu
Sensasi segar setelah minum es teh sering disalahartikan sebagai tanda tubuh merasa nyaman. Padahal, rasa segar tersebut lebih bersifat sementara dan menipu.
Sistem pencernaan justru sedang bekerja lebih keras untuk menyesuaikan suhu dan memproses makanan secara bersamaan.
Inilah sebabnya banyak ahli gizi menyarankan untuk memberi jeda antara makan dan minum minuman dingin. Tubuh membutuhkan waktu agar proses pencernaan berlangsung optimal tanpa gangguan.
Alternatif yang Lebih Aman
Bukan berarti minum setelah makan sepenuhnya dilarang. Pilihan minuman dan waktunya yang perlu diperhatikan.
Air putih hangat atau suhu ruang adalah pilihan terbaik setelah makan. Minuman ini membantu proses pencernaan tanpa mengganggu kerja lambung.
Jika tetap ingin minum teh, sebaiknya tunggu sekitar 30–60 menit setelah makan. Dengan jeda tersebut, risiko gangguan pencernaan dan hambatan penyerapan nutrisi dapat diminimalkan.
Kebiasaan Kecil, Dampak Besar
Kebiasaan minum es teh setelah makan sering dianggap sepele karena sudah dilakukan sejak lama. Namun, jika dilakukan setiap hari tanpa disadari dampaknya, risiko kesehatan bisa muncul perlahan.
Mengubah kebiasaan kecil seperti memilih minuman yang tepat setelah makan bisa memberi manfaat besar bagi kesehatan pencernaan.
Tubuh tidak menolak kenikmatan, tetapi membutuhkan perlakuan yang lebih bijak.
Menikmati es teh tetap boleh, asalkan tahu waktu yang tepat. Dengan begitu, sensasi segar tetap didapat tanpa mengorbankan kesehatan lambung dan penyerapan nutrisi tubuh. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah