RADARBONANG.ID – Duduk berjam-jam di depan layar kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Mulai dari bekerja di kantor, belajar daring, hingga menikmati hiburan di rumah, hampir semuanya dilakukan sambil duduk.
Aktivitas ini terlihat ringan dan tidak menguras tenaga. Namun di balik kenyamanannya, kebiasaan duduk terlalu lama menyimpan risiko kesehatan yang kerap diabaikan.
Tanpa disadari, tubuh justru mengalami penurunan fungsi secara perlahan. Bukan karena kerja fisik berat, melainkan akibat minimnya pergerakan dalam waktu lama.
Baca Juga: Nama Malaysia Disebut Ronaldo, JDT Jadi Tujuan Jika Al-Nassr Tur Asia
Duduk Lama, Tubuh Masuk Mode “Diam”
Ketika seseorang duduk terlalu lama, tubuh secara otomatis masuk ke kondisi metabolisme rendah.
Otot-otot besar, terutama di area kaki dan pinggul, hampir tidak aktif. Padahal, otot-otot ini berperan penting dalam membantu tubuh mengatur kadar gula darah dan proses pembakaran lemak.
Akibatnya, aliran darah menjadi lebih lambat dan pembakaran kalori tidak berjalan optimal. Energi yang tidak terpakai pun lebih mudah disimpan sebagai lemak.
Inilah alasan mengapa kebiasaan duduk lama sering dikaitkan dengan kenaikan berat badan, meski pola makan tidak terasa berlebihan.
Bukan Cuma Pegal, Tapi Bisa Picu Penyakit Serius
Keluhan yang paling sering dirasakan akibat duduk lama memang pegal di leher, punggung, atau pinggang.
Namun dampaknya tidak berhenti di situ. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius.
Beberapa di antaranya adalah penyakit jantung, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, gangguan postur tubuh, hingga nyeri punggung kronis.
Bahkan, orang yang rutin berolahraga tetap berisiko jika sebagian besar waktunya dihabiskan dengan duduk tanpa jeda.
Olahraga sesaat tidak sepenuhnya mampu menetralkan efek duduk selama 8–10 jam sehari.
Duduk Lama Juga Mengganggu Kesehatan Mental
Dampak duduk terlalu lama tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga mental. Minimnya aktivitas fisik membuat suplai oksigen ke otak tidak maksimal.
Kondisi ini bisa memicu kelelahan, menurunkan konsentrasi, dan memengaruhi suasana hati.
Tak heran jika banyak pekerja kantoran kerap merasa cepat mengantuk, sulit fokus, dan mudah stres meski beban kerja tidak selalu berat. Semua itu merupakan sinyal bahwa tubuh membutuhkan gerakan.
Posisi Duduk Salah, Masalah Makin Kompleks
Risiko kesehatan akan semakin besar jika posisi duduk dilakukan dengan cara yang keliru. Duduk membungkuk, terlalu condong ke layar, atau tanpa sandaran membuat tulang belakang menerima tekanan berlebih.
Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat memicu nyeri leher dan bahu, saraf terjepit, hingga perubahan postur tubuh.
Yang berbahaya, dampak tersebut sering baru dirasakan setelah bertahun-tahun, saat kondisi sudah cukup parah.
Duduk Sulit Dihindari, Tapi Bisa Disiasati
Di era kerja digital, duduk memang hampir tak terelakkan. Namun tubuh tidak menuntut olahraga berat. Yang dibutuhkan hanyalah jeda dan gerakan kecil secara rutin.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain berdiri atau berjalan ringan setiap 30–60 menit, melakukan peregangan singkat di sela pekerjaan, memilih tangga daripada lift, atau sesekali bekerja sambil berdiri.
Gerakan kecil yang konsisten jauh lebih bermanfaat dibanding olahraga berat yang jarang dilakukan.
Baca Juga: Soft Living, Cara Baru Generasi Z Menemukan Bahagia Tanpa Terjebak Hustle Culture
Bergerak Bukan Pilihan, tapi Kebutuhan
Tubuh manusia sejatinya dirancang untuk bergerak. Ketika aktivitas tersebut dibatasi, berbagai sistem di dalam tubuh ikut melambat.
Sayangnya, karena efeknya tidak terasa instan, banyak orang baru menyadari dampaknya setelah muncul keluhan.
Duduk terlalu lama adalah ancaman yang bekerja secara senyap—perlahan namun konsisten. Mulai sekarang, bukan hanya soal seberapa lama kita bekerja, tetapi seberapa sering kita memberi tubuh kesempatan untuk bergerak.
Karena kesehatan bukan sekadar apa yang kita konsumsi, melainkan juga seberapa lama kita bertahan tanpa bergerak.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah