Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Ternyata Ini Cara Gita Savitri Menghadapi Anxiety Tanpa Drama—Cukup Realistis dan Apa Adanya!

Siska Yudianti • Rabu, 22 Oktober 2025 | 21:15 WIB
Inspirasi dari Gita Savitri Devi: Cara Mengelola Kesehatan Mental dan Tekanan Hidup di Tengah Ramainya Media Sosial.
Inspirasi dari Gita Savitri Devi: Cara Mengelola Kesehatan Mental dan Tekanan Hidup di Tengah Ramainya Media Sosial.

RADARBONANG.ID — Nama Gita Savitri Devi tentu sudah tidak asing bagi publik Indonesia.

Dikenal sebagai content creator, aktivis perempuan, dan sosok inspiratif yang kritis dan cerdas, Gita juga sering membagikan pandangannya soal mental health dan realita kehidupan.

Di balik kesuksesan dan ketenangan yang terlihat di layar, Gita ternyata juga pernah mengalami anxiety dan tekanan mental yang tidak ringan.

Namun yang menarik, cara Gita menghadapi hal itu justru bukan dengan menutupi atau menyangkal, melainkan dengan sikap realistis dan penerimaan diri yang kuat.

Ia percaya bahwa tidak ada manusia yang benar-benar sempurna, dan berusaha menjadi perfeksionis justru bisa memperburuk kesehatan mental.

  1. Tekanan Dunia Digital dan Anxiety yang Nyata

Sebagai selebgram dan content creator dengan jutaan pengikut, Gita Savitri paham betul tekanan hidup di era digital. Setiap unggahan, opini, bahkan gaya hidup bisa jadi bahan komentar publik.

Fenomena ini sangat relate dengan banyak anak muda. Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain di media sosial bisa memicu anxiety, burnout, hingga krisis identitas.

Menurut Gita, kuncinya bukan menutup diri, tapi membatasi ekspektasi dan fokus pada hal yang bisa dikendalikan.

  1. Realistis, Bukan Pesimis

Banyak orang mengira “realistis” itu berarti menyerah, padahal sebaliknya.

“Kalau kamu realistis, kamu tahu kapan harus berusaha dan kapan harus istirahat,” kata Gita dalam salah satu podcast-nya.|

Gaya berpikir ini membuat Gita terlihat tenang di tengah tekanan publik. Ia tidak berusaha menampilkan citra sempurna, melainkan menunjukkan versi dirinya yang manusiawi.

Gita juga sering menekankan pentingnya self-awareness—menyadari kapan diri sedang lelah secara mental, dan berani untuk mengambil jeda. “It’s okay untuk nggak produktif tiap hari. Kita bukan robot,” ujarnya.

  1. Anti Perfeksionis: Fokus ke Proses, Bukan Hasil

Salah satu pesan kuat dari Gita adalah “nggak perlu jadi yang terbaik, cukup jadi versi terbaik dari diri sendiri.”

Perfeksionisme sering kali justru membuat seseorang terjebak dalam lingkaran stres dan rasa tidak cukup. Gita percaya bahwa menerima ketidaksempurnaan adalah bentuk kekuatan mental yang sebenarnya.

Ia menambahkan, “Kalau hidup cuma buat memenuhi ekspektasi orang lain, kapan kamu bahagia beneran?”

Pernyataan ini mencerminkan mindset growth yang sehat dan membumi—bahwa kesalahan dan kegagalan adalah bagian dari proses belajar, bukan bukti kelemahan.

  1. Mental Health Awareness di Kalangan Publik Figur

Gita Savitri termasuk figur publik yang berani membicarakan kesehatan mental tanpa stigma.

Di Indonesia, isu mental health masih sering dianggap tabu atau “lebay”. Tapi Gita berhasil mengubah persepsi itu lewat konten yang edukatif dan jujur.

Ia menunjukkan bahwa mencari bantuan profesional bukan tanda lemah, melainkan langkah cerdas untuk memahami diri lebih dalam.

Dengan caranya yang lugas, Gita membantu banyak pengikutnya untuk lebih jujur terhadap perasaan sendiri dan tidak lagi berpura-pura baik-baik saja demi citra sempurna.

  1. Pesan Penutup: Hidup Nggak Harus Sempurna untuk Bahagia

Dari cara Gita menghadapi anxiety, kita belajar bahwa kebahagiaan bukan soal pencapaian besar atau validasi orang lain.

Tapi tentang bagaimana kita menerima diri apa adanya—termasuk kekurangan dan kegagalan di dalamnya.

“Selama kamu bisa jujur sama diri sendiri dan tetap berusaha, itu udah cukup,” tutup Gita dengan senyum. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#cara mengatasi perfeksionisme #self acceptance dan realita hidup #Gita Savitri #tekanan media sosial 2025 #kesehatan mental anak muda