RADARBONANG.ID — Siapa yang sanggup menolak aroma gorengan panas di sore hari? Suara “kriuk” saat digigit, rasa gurih yang bikin nagih, dan harganya yang murah meriah menjadikannya camilan paling dicintai semua kalangan. Tapi di balik nikmat itu, tersimpan ancaman kesehatan yang sering disepelekan.
“Setiap sore saya beli minimal lima gorengan. Rasanya nggak lengkap kalau nggak ada tempe goreng atau bakwan,” ujar Rian, karyawan swasta asal Jakarta.
Ia bukan satu-satunya. Di kota besar hingga pelosok desa, gorengan sudah menjadi bagian dari budaya kuliner rakyat.
Namun, menurut ahli gizi, kebiasaan ini bukan tanpa konsekuensi. Konsumsi gorengan setiap hari dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius—dan sering kali gejalanya muncul diam-diam.
- Kolesterol Naik Diam-Diam
Minyak goreng yang dipakai berulang kali mengandung lemak trans tinggi. Lemak ini bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL). Kombinasi maut ini menjadi pintu masuk penyakit jantung dan tekanan darah tinggi.
- Risiko Penyumbatan Pembuluh Darah
Endapan lemak dari gorengan dapat mempersempit pembuluh darah. Jika dibiarkan, bisa berujung pada stroke atau serangan jantung mendadak—sering kali tanpa gejala awal yang jelas.
- Pencernaan Kewalahan
Gorengan tinggi minyak membuat kerja lambung melambat. Akibatnya, tubuh lebih sering mengalami perut kembung, mual, begah, bahkan diare.
- Kulit Kusam dan Jerawatan
Lemak jenuh berlebih dapat memicu produksi minyak berlebihan pada kulit. Hasilnya? Jerawat membandel di wajah hingga punggung. Efek ini sering diabaikan padahal nyata dirasakan banyak orang.
- Efek Candu: Makin Makan, Makin Susah Berhenti
Kombinasi karbohidrat dan lemak dalam gorengan merangsang area “reward system” di otak—serupa dengan efek adiktif pada junk food. Bukan lapar, tapi dorongan ingin ngemil terus.
Kenapa Gorengan Susah Ditinggalkan?
Menurut dr. Nina Kartika, Sp.GK, makanan seperti gorengan memberi rasa nyaman (comfort food) yang sulit digantikan.
“Gurih, renyah, dan aromanya khas. Buat banyak orang, gorengan bukan sekadar camilan, tapi pelarian dari stres,” ujarnya.
Itu sebabnya, meski tahu risikonya, banyak orang tetap ‘balikan lagi’ ke gorengan setiap sore.
Cara Menikmati Gorengan Tanpa Bikin Tubuh Babak Belur
Menikmati gorengan sesekali sah-sah saja—asal tahu batasnya. Berikut cara aman menurut ahli gizi:
- Batasi konsumsi maksimal 2–3 kali seminggu.
- Pilih penjual yang menggunakan minyak bersih, bukan minyak hitam sisa pakai.
- Buat gorengan sendiri dengan minyak sehat (zaitun atau kelapa murni).
- Pilih gorengan sayur dan kurangi tepung tebal.
- Gunakan air fryer sebagai alternatif agar lebih minim minyak.
Nikmat Sesaat, Dampak Panjang
Gorengan memang enak, tapi jika dikonsumsi tiap hari, efeknya bisa menjadi bom waktu kesehatan. Kolesterol tinggi, tekanan darah melonjak, jerawat bandel, hingga risiko stroke di usia muda.
“Jangan tunggu sakit baru berhenti. Mulailah mengatur pola makan dari sekarang,” tegas dr. Nina.
Lidah boleh senang sesaat, tapi tubuh akan menagih harga mahalnya di masa depan. Bijaklah memilih camilan, sebelum gorengan membuat tubuhmu ‘membayar’ lebih dari sekadar Rp1.000 per biji. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah