RADARBONANG.ID - Pernah merasa panik, cemas berlebihan, atau bahkan sesak napas saat lampu dimatikan? Jangan langsung menyalahkan diri sendiri sebagai penakut.
Kondisi ini bisa jadi tanda nyctophobia, atau fobia terhadap kegelapan, yang termasuk dalam kategori gangguan kecemasan.
Meski sering dianggap sepele, fobia gelap dapat mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan kualitas tidur seseorang.
Menurut American Psychiatric Association (APA), nyctophobia tergolong sebagai specific phobia, yakni ketakutan irasional terhadap objek atau situasi tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya.
Apa Itu Nyctophobia?
Kata nyctophobia berasal dari bahasa Yunani, yaitu nyx (malam) dan phobos (ketakutan).
Orang yang mengalaminya bisa merasakan kecemasan ekstrem saat berada di ruangan gelap, bahkan hanya dengan membayangkannya saja.
Banyak kasus bermula sejak masa kecil atau remaja akibat pengalaman traumatis, lalu berkembang menjadi fobia berkepanjangan hingga dewasa.
Ada beberapa faktor yang diyakini menjadi pemicu utama nyctophobia, antara lain:
- Pengalaman traumatis di masa kecil, misalnya pernah dikunci dalam ruangan gelap.
- Kecemasan berlebihan terhadap hal-hal tak terlihat.
- Paparan tontonan horor atau cerita seram secara berlebihan.
- Faktor genetik dan lingkungan, terutama jika orang tua juga memiliki ketakutan serupa.
Menariknya, secara biologis otak manusia memang lebih waspada saat gelap karena keterbatasan penglihatan.
Mekanisme ini memicu otak masuk ke mode fight or flight sehingga tubuh merespons dengan rasa takut berlebih.
Gejala Nyctophobia yang Perlu Diwaspadai
Nyctophobia bukan sekadar takut biasa. Beberapa gejala yang sering muncul meliputi:
- Jantung berdebar cepat saat berada di ruangan gelap.
- Kesulitan tidur atau insomnia parah.
- Serangan panik dengan sesak napas, berkeringat, hingga gemetar.
- Menghindari situasi gelap meski dalam kondisi tidak berbahaya.
Cara Mengatasi Fobia Gelap
Kabar baiknya, nyctophobia dapat diatasi dengan penanganan yang tepat.
Beberapa metode yang direkomendasikan psikolog antara lain:
- Terapi Perilaku Kognitif (CBT), membantu mengubah pola pikir negatif terkait kegelapan.
- Desensitisasi Bertahap, mulai dengan tidur menggunakan lampu remang, lalu kurangi intensitasnya sedikit demi sedikit.
- Latihan Pernapasan dan Relaksasi, efektif menenangkan tubuh saat gejala muncul.
- Konsultasi dengan Psikolog atau Psikiater, langkah penting jika gejala semakin berat atau mengganggu aktivitas.
Menurut data National Institute of Mental Health (NIMH), sekitar 11% orang dewasa dan 35% anak-anak mengalami ketakutan berlebihan terhadap kegelapan.
Angka ini menunjukkan bahwa nyctophobia merupakan kondisi yang cukup umum dan tidak bisa dianggap remeh.
Kesimpulannya, takut gelap bukan sekadar tanda kelemahan, melainkan respon psikologis yang bisa diatasi dengan pendekatan medis dan psikologis.
Semakin dini dikenali, semakin cepat pula penanganan yang bisa dilakukan.
Ingat, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.
Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala nyctophobia, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. (*)