RADARBONANG.ID – Kasus gagal ginjal semakin mencemaskan. Penyakit yang dulu identik menyerang orang dewasa dan lansia, kini justru banyak dialami oleh generasi muda yang masih berada di usia produktif.
Berdasarkan data RSUD dr. R. Koesma Tuban hingga Agustus 2025, jumlah pasien gagal ginjal rawat jalan tercatat mencapai 278 orang.
Angka ini belum termasuk data dari rumah sakit lain, sehingga jumlah penderita sebenarnya bisa lebih tinggi.
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr. R. Koesma Tuban, Erwin Era, menjelaskan sebaran usia pasien cukup mengejutkan.
Dari total pasien, terdapat 17 orang berusia di bawah 30 tahun, lalu 37 orang berusia 31–40 tahun, 75 pasien berusia 41–50 tahun, 105 pasien berusia 51–60 tahun, serta 44 pasien berusia di atas 60 tahun.
“Untuk usia 30 tahun ke bawah itu banyak yang masih muda. Kondisi ini menunjukkan bahwa penyakit ini tidak hanya dialami lansia, tapi juga generasi muda yang masih produktif,” ungkapnya.
Erwin menegaskan, penyebab utama meningkatnya kasus gagal ginjal pada usia muda adalah pola makan dan gaya hidup tidak sehat.
“Secara usia, mereka (yang umur di bawah 30 tahun) semestinya masih sehat, tapi karena gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat, sehingga banyak yang mengalami gagal ginjal. Dan mereka yang cuci darah itu sudah mengalami kerusakan ginjal 70–80 persen,” jelasnya.
Data RSUD Koesma menunjukkan, 136 pasien sudah berada di stadium 5 sehingga harus menjalani proses cuci darah dua kali setiap minggu.
Jika tidak dilakukan, kondisi pasien dapat memburuk dan berisiko meninggal dunia dalam hitungan minggu.
Minuman Kemasan Picu Gagal Ginjal Usia 15 Tahun
Kasus yang paling menyita perhatian adalah pasien cuci darah termuda, yakni seorang remaja berusia 15 tahun.
“Dari hasil analisa, pasien tersebut mengalami gagal ginjal karena sejak kecil telah terbiasa mengonsumsi minuman kemasan dengan kadar gula yang tinggi,” terang Erwin.
Jika pada lansia gagal ginjal biasanya dipicu penyakit kronis, pada anak muda justru lebih banyak karena pola makan tidak sehat.
Faktor Lain Penyebab Gagal Ginjal
Selain konsumsi gula dan garam berlebihan, ada pula faktor lain seperti penggunaan obat antinyeri tanpa resep dokter dan faktor genetik.
Namun, Erwin menyebut dua faktor ini jauh lebih jarang terjadi dibanding pengaruh buruk makanan sehari-hari.
“Untuk pasien stadium 1–4, masih kami lakukan penanganan dengan obat-obatan. Namun jika mencapai stadium 5, harus dilakukan cuci darah untuk menyaring racun yang tidak dapat diproses oleh ginjal,” tambahnya.
Pemilik Klinik Keluarga Era Sehat itu mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak menjaga pola makan.
Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta garam jika dibiarkan, bisa memperburuk kondisi kesehatan generasi mendatang.
“Kalau tidak diperhatikan, bukan tidak mungkin angka pasien cuci darah di Tuban akan meningkat,” tandasnya.
Fenomena ini menjadi alarm bagi generasi usia 15 tahunan ke atas agar lebih waspada.
Menjaga gaya hidup sehat sejak dini adalah langkah penting untuk mencegah gagal ginjal yang kini semakin dominan menyerang usia produktif. (*)
Editor : Amin Fauzie