RADARBONANG.ID – Tidak semua calon pendonor memahami prosedur sebelum mendonorkan darah.
Akibatnya, banyak kantong darah hasil donor akhirnya terbuang percuma karena kualitasnya tidak memenuhi standar medis.
Humas Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) Tuban, Sarju Effendi, menegaskan masih banyak masyarakat yang melakukan kesalahan umum.
“Seperti setelah makan langsung melakukan donor darah atau mengonsumsi obat-obatan yang seharusnya tidak dikonsumsi sebelum donor darah,” ungkapnya.
Meski begitu, Sarju menekankan bahwa donor darah juga tidak boleh dilakukan dalam kondisi perut kosong.
“Boleh makan, tapi dengan jeda dua sampai tiga jam sebelum donor,” jelasnya. Hal ini penting agar tubuh tetap bugar, namun kualitas darah tetap terjaga.
Selain soal makanan, konsumsi obat tertentu juga bisa memengaruhi kualitas darah.
“Beberapa jenis obat seperti aspirin atau antibiotik bisa membuat darah terlalu cair atau bahkan terlalu kental. Sehingga, darah tidak layak untuk digunakan,” paparnya.
Namun, PMI tidak bisa serta-merta menolak siapa pun yang berniat mendonorkan darah.
Pasalnya, sebagai organisasi kemanusiaan, mereka wajib menerima semua pendonor kecuali kondisi kesehatannya memang tidak memungkinkan, seperti kadar hemoglobin rendah.
Sarju juga mengungkapkan, PMI sebenarnya sudah menyiapkan formulir yang memuat riwayat kesehatan dan konsumsi obat.
Sayangnya, tidak sedikit masyarakat yang mengisi formulir tersebut secara asal-asalan.
“Kami ada form yang berisi riwayat kesehatan hingga riwayat konsumsi obat, tapi memang ada beberapa masyarakat yang mengabaikan isi form tersebut dan mengisi asal-asalan,” ujarnya.
Dia menambahkan, edukasi kepada masyarakat sebelum donor darah sangat penting.
Namun, aturan ketat justru bisa menurunkan minat masyarakat untuk berdonor.
“Justru kalau kami terlalu rinci dan memberikan syarat yang terlalu ketat, ditakutkan malah tidak ada yang mau melakukan donor darah. Beberapa kali di protes karena dianggap terlalu banyak aturan,” tandas Sarju.
Dengan kondisi tersebut, PMI dihadapkan pada dilema. Di satu sisi, mereka ingin memastikan kualitas darah yang terkumpul benar-benar layak digunakan.
Namun di sisi lain, mereka tetap harus menjaga partisipasi masyarakat agar stok darah tidak kekurangan. (*)
Editor : Amin Fauzie