RADARBONANG.ID - Tokek, si reptil bersuara lantang yang sering bikin merinding tengah malam.
Bukan cuma jadi tamu tak diundang di atap rumah, tokek juga punya reputasi lain yang cukup kontroversial: dipercaya sebagai obat mujarab.
Katanya, daging tokek bisa sembuhkan asma, kanker, bahkan AIDS. Tapi benarkah itu fakta? Atau hanya mitos yang kelewat populer?
Dalam artikel ini, kita akan menyusuri seluk-beluk tokek dari sisi yang jarang dibahas: bahaya dan potensi manfaat dagingnya.
Tokek bukan hewan biasa. Tubuhnya bisa kecil imut sampai sebesar penggaris, kulitnya beragam warna dari hijau, coklat, abu-abu, hingga totol-totol eksotis.
Tak hanya piawai memanjat dinding dan mengubah warna kulit, makhluk ini juga terkenal karena suaranya yang khas: tokkeeek!
Hewan ini banyak berkeliaran di kawasan tropis seperti Indonesia.
Tapi yang menarik, bukan cuma kemampuannya bertahan di berbagai lingkungan, melainkan rumor soal khasiat dagingnya.
Yuk, kita bahas lebih jauh!
Daging Tokek: Sumber Gizi atau Sumber Risiko?
1. Kandungan Gizi, Tapi Jangan Keburu Senang
Secara nutrisi, daging tokek memang punya beberapa zat penting seperti protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, hingga vitamin B12.
Tapi jangan buru-buru membayangkannya sebagai superfood.
Dibanding ayam, sapi, atau ikan, kandungan gizinya nggak terlalu menonjol.
Lebih dari itu, jika tokek tidak dimasak dengan benar, justru bisa jadi ladang bakteri, virus, hingga parasit yang membahayakan tubuh.
Jadi, bukan sekadar makan eksotis, tapi juga penuh risiko.
2. Meningkatkan Imun? Klaim Masih Abu-Abu
Salah satu klaim populer soal tokek adalah zat gecko factor (GF) yang katanya mampu memperkuat sistem imun dan menstimulasi sel pembasmi penyakit dalam tubuh.
Dokter asal Taiwan, Dr. Chen Shui-Cheng, sempat meneliti ini.
Tapi, sayangnya, penelitiannya masih di tahap awal dan belum pernah diuji secara klinis.
Apakah GF bisa benar-benar bekerja setelah dicerna manusia? Belum ada jawaban pasti.
3. Bisa Obati Kanker dan AIDS?
Kabar bahwa daging tokek mampu mengobati penyakit berat seperti kanker dan AIDS sering kali disebarkan dari mulut ke mulut.
Beberapa orang bahkan mengaku sembuh setelah rutin mengonsumsi tokek.
Namun, dunia medis belum memberikan lampu hijau. Tidak ada jurnal ilmiah atau data penelitian yang mengonfirmasi hal ini.
Justru, bagi penderita penyakit serius, konsumsi daging tokek malah bisa menimbulkan reaksi alergi, infeksi, atau gangguan terhadap pengobatan yang sedang dijalani.
Cara Konsumsi Daging Tokek
Kalau kamu masih penasaran dan ingin mencobanya, setidaknya lakukan dengan aman. Daging tokek biasanya dikonsumsi dengan beberapa cara:
- Dijual kering atau beku oleh penjual khusus.
- Dijadikan serbuk, kapsul, hingga minyak—sering dicampur dengan rempah seperti jahe dan madu.
- Dimasak langsung: digoreng, dikukus, atau direbus seperti masakan pada umumnya.
Tapi perhatikan hal-hal penting berikut sebelum mencicipinya:
- Pastikan asal tokek dari sumber bersih dan aman.
- Masak daging sampai benar-benar matang, jangan sampai ada bagian mentah.
- Jangan dikonsumsi bareng obat medis tanpa konsultasi dokter.
- Hindari konsumsi kalau kamu punya alergi, penyakit kronis, atau kondisi kesehatan khusus.
- Jangan konsumsi berlebihan—ingat, sesuatu yang ‘katanya’ menyehatkan pun bisa berbalik merugikan kalau tak dikendalikan.
Daging tokek sudah lama jadi buah bibir dari warung jamu hingga forum kesehatan alternatif.
Tapi, di balik klaim-klaim hebat soal khasiatnya, masih belum ada payung ilmiah yang kuat untuk memayunginya.
Bukannya sembuh, konsumsi sembarangan justru bisa membawa masalah baru.
Jadi, bijaklah sebelum mencoba. Kalau niat ingin sehat, lebih baik tetap pada jalur yang jelas: pola makan seimbang, istirahat cukup, olahraga teratur, dan konsultasi medis jika diperlukan.
Ingat, bukan semua yang terdengar tradisional itu otomatis aman. Bijak dalam memilih, cermat dalam memutuskan. (*)