RADARBONANG.ID - Saat orang lain mengejar waktu tidur, penderita hipersomnia justru terjebak tidur berkepanjangan atau kantuk ekstrem di siang hari—meski sudah cukup tidur di malam hari.
Kondisi ini bukan kelelahan biasa, melainkan gangguan tidur yang perlu mendapat perhatian medis.
Gejalanya meliputi rasa kantuk berat sepanjang hari, sulit bangun, tidur siang panjang tanpa merasa segar, kesulitan berkonsentrasi, sakit kepala, mudah marah bahkan halusinasi.
Tidur malam bisa berlangsung lebih dari 10 jam, namun mereka tetap merasa lelah dan malas.
Hipersomnia dibagi menjadi dua kategori: primer—dengan penyebab genetik atau neurologis, dan sekunder—karena kondisi medis seperti hipotiroidisme, apnea tidur, depresi, atau konsumsi alkohol dan obat-obatan tertentu.
Diagnosis dimulai dari catatan pola tidur (sleep diary), wawancara medis, dan pemeriksaan fisik.
Tes lanjutan seperti Epworth Sleepiness Scale, polisomnografi, dan Multiple Sleep Latency Test (MSLT) dilakukan untuk memastikan gangguan ini.
Pengobatan tergantung penyebab. Pendekatan umum mencakup:
- Perubahan gaya hidup: tidur dan bangun dalam jadwal teratur, hindari kafein, olahraga rutin, serta higiene tidur yang baik.
- Terapi tidur: CBT untuk mengelola stres dan kecemasan akibat insomnia.
- Obat stimulan seperti modafinil, armodafinil, atau sodium oxybate, jika dibutuhkan.
Jika tidak diatasi, hipersomnia dapat menurunkan kualitas hidup, merusak hubungan sosial, bahkan meningkatkan risiko kecelakaan saat berkendara karena kantuk mendadak.
Kesimpulannya, tidur berlebihan bukan solusi kesehatan—justru bisa jadi alarm gangguan serius.
Mengenali gejala dan mencari bantuan profesional sejak dini akan membantu penderita menjalani hidup lebih produktif dan aman.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah