Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Jejak Flu dalam Sejarah: Dari Papirus Mesir ke Herbal Kekinian

Muhammad Azlan Syah • Kamis, 12 Juni 2025 | 13:10 WIB

Ilustrasi flu zaman dahulu
Ilustrasi flu zaman dahulu

RADARBONANG.ID — Flu dan pilek, dua penyakit ringan yang kerap dianggap sepele, ternyata memiliki sejarah panjang yang jejaknya bisa ditelusuri hingga ribuan tahun silam. Sejak zaman Mesir Kuno, manusia sudah mengenali gejala-gejala gangguan pernapasan ini dan berusaha mengobatinya dengan cara-cara alami dan spiritual.

 

Papirus Ebers: Bukti Tertua Pengobatan Flu

Salah satu catatan medis tertua yang pernah ditemukan adalah Papirus Ebers, naskah Mesir Kuno yang diperkirakan berasal dari sekitar 1550 SM. Di dalamnya tercatat berbagai pengobatan penyakit, termasuk gangguan pernapasan seperti pilek dan batuk.

Pada masa itu, penyakit flu dianggap sebagai ketidakseimbangan tubuh yang dipengaruhi oleh roh atau kekuatan tak kasat mata.

Pengobatan yang digunakan adalah kombinasi antara mantra, doa, dan bahan alami seperti madu, bawang putih, dan ramuan herbal dari tanaman lokal. Mantra dibacakan oleh pendeta penyembuh, sementara ramuan herbal diracik berdasarkan pengetahuan turun-temurun.

 

Transisi dari Magis ke Empiris

Seiring berkembangnya peradaban, pengobatan penyakit flu beralih dari pendekatan magis menuju pendekatan yang lebih empiris.

Di masa Yunani Kuno, Hippokrates—yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran—sudah mulai menuliskan gejala-gejala flu dan merekomendasikan pengobatan berbasis observasi gejala, termasuk istirahat, cairan hangat, dan pengaturan pola makan.

Pengobatan alami terus bertahan dan berkembang. Di India, sistem Ayurveda mengenal penggunaan jahe dan kunyit untuk mengatasi gangguan pernapasan. Di Tiongkok, Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM) memanfaatkan kombinasi herbal seperti akar licorice dan ginseng.

 

Pengobatan Tradisional di Nusantara

Di Indonesia, ramuan tradisional untuk flu telah diwariskan secara turun-temurun. Minuman seperti wedang jahe, campuran jeruk nipis dan madu, serta rebusan daun sirih dikenal sebagai pereda alami flu.

Menurut informasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), obat tradisional yang digunakan masyarakat diperbolehkan asal telah melalui uji khasiat dan keamanan, serta memiliki izin edar dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).

Beberapa produk jamu modern bahkan sudah dikembangkan secara ilmiah dan digunakan sebagai pelengkap pengobatan flu ringan.

 

Era Modern: Flu dalam Kacamata Medis

Kini, flu diketahui disebabkan oleh virus influenza yang menyerang saluran pernapasan atas. Meskipun umumnya ringan, flu bisa menular dengan cepat dan berisiko lebih berat pada lansia, anak-anak, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kemenkes RI menganjurkan istirahat, minum cukup cairan, dan konsumsi makanan bergizi sebagai langkah utama penyembuhan.

Obat flu alami seperti jahe, madu, dan uap aromaterapi masih relevan digunakan sebagai pendukung, selama tidak menggantikan penanganan medis yang dibutuhkan.

 

Kuno namun Tetap Relevan

Dari papirus Mesir hingga ramuan herbal Nusantara, perjalanan pengobatan flu membuktikan bahwa manusia selalu berupaya mengatasi penyakit ini dengan cara terbaik yang tersedia pada zamannya.

Meskipun pendekatan medis modern telah berkembang pesat, banyak prinsip alami dari masa lalu yang tetap digunakan hingga hari ini.

Bagi masyarakat modern, memahami sejarah flu bukan hanya soal nostalgia medis, tapi juga upaya untuk merawat kesehatan secara holistik, menggabungkan sains dan kearifan lokal yang telah teruji zaman. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#sejarah flu #ramuan herbal tradisional #flu Mesir kuno #pengobatan flu kuno #obat pilek alami