RADARBONANG.ID - Virus dengue yang menyebabkan penyakit demam berdarah dengue (DBD) hanya bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti, bukan jantan.
Fakta ini menjadi penting untuk dipahami masyarakat agar lebih waspada terhadap bahaya nyamuk betina yang lebih berisiko menularkan penyakit mematikan ini.
Nyamuk Aedes aegypti betina menggigit manusia karena ia membutuhkan darah untuk membantu proses pematangan telur.
Sebaliknya, nyamuk jantan tidak menghisap darah dan hanya mengonsumsi cairan dari tumbuhan.
Maka dari itu, hanya nyamuk betina yang memiliki potensi menjadi vektor penular virus dengue.
Bahkan, disebutkan dalam sejumlah artikel, jika seekor nyamuk betina menggigit seseorang yang sudah terinfeksi virus dengue, ia bisa membawa virus tersebut dan menularkannya ke orang lain dalam radius sekitar 100 hingga 200 meter.
Hal ini menjadi sangat berisiko di lingkungan padat penduduk, apalagi di dalam rumah yang tidak memiliki sirkulasi udara dan cahaya yang baik.
Perlu ditegaskan pula bahwa penularan dengue tidak terjadi melalui kontak langsung dengan penderita, droplet, atau aerosol, seperti halnya penularan penyakit flu atau COVID-19.
Satu-satunya jalur penularannya adalah gigitan nyamuk betina Aedes aegypti yang sudah terinfeksi.
Untuk mencegah penyebaran nyamuk pembawa virus dengue, masyarakat dihimbau untuk menerapkan langkah 3M secara rutin, yaitu:
- Menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi atau ember.
- Menutup rapat tempat penyimpanan air agar nyamuk tidak bisa bertelur.
- Menimbun barang-barang bekas yang bisa menampung air hujan, seperti kaleng dan botol bekas.
Lakukan kegiatan tersebut minimal satu kali seminggu, termasuk membersihkan bagian rumah yang sering luput dari perhatian seperti kolong dispenser, pot bunga, atau tempat minum hewan peliharaan.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, vaksin dengue kini tersedia dan dapat diberikan kepada anak-anak mulai usia 6 tahun hingga dewasa usia 45 tahun.
Vaksin ini diberikan dalam dua dosis dengan jarak pemberian tiga bulan, dan memiliki efektivitas hingga 86 persen dalam mencegah dengue berat.
Teknologi lain yang sedang dikembangkan adalah penggunaan nyamuk Aedes aegypti yang dibekali bakteri Wolbachia.
Bakteri ini menghambat kemampuan nyamuk untuk menularkan virus dengue, sehingga dapat menjadi solusi jangka panjang dalam pengendalian wabah.
Pungkasnya, meski ukuran nyamuk Aedes aegypti betina kecil, bahayanya tidak bisa disepelekan.
Hanya nyamuk betina yang bisa menyebarkan virus dengue karena kebiasaannya menghisap darah.
Oleh karena itu, kewaspadaan dan langkah preventif seperti 3M, vaksinasi, serta dukungan pada inovasi teknologi perlu terus digaungkan demi mencegah penyebaran demam berdarah di tengah masyarakat. (*)
Editor : Amin Fauzie