TUBAN-Kondisi medis yang mengakibatkan seorang pria tidak memiliki keturunan atau infertilitas umum terjadi.
Infertilitas terjadi karena proses pembentukan sperma pada pria tidak berjalan dengan baik.
Gejala infertilitas pada pria sering tidak disadari.
Karena itu, penting bagi para pria untuk memahami kebiasaan-kebiasaan yang dapat merusak kualitas sperma.
Dilansir dari laman Hello Sehat, berikut 5 kebiasaan yang dapat merusak kualitas sperma pria:
1. Konsumsi Alkohol Berlebihan
Alkohol dapat memberikan efek relaksasi, namun konsumsi berlebihan dapat berakibat fatal bagi kesehatan sperma.
Konsumsi alkohol dapat menurunkan jumlah dan kualitas sperma, serta mengganggu motilitas sperma.
Batasi konsumsi alkohol maksimal 1-2 gelas per hari.
2. Kurang Tidur
Tidur cukup penting untuk menjaga kesehatan tubuh, termasuk kesehatan sperma.
Kurang tidur dapat mengganggu produksi hormon testosterone dalam pembentukan sperma.
Pria dewasa diimbau untuk tidur selama 7-8 jam setiap malam.
3. Sering Terpapar Panas
Menjaga kesehatan area testis sangat penting dalam produksi sperma.
Untuk mempertahankan kesehatan tersebut, sebaiknya menghindari kebiasaan yang dapat meningkatkan suhu testis, seperti memakai celana dalam yang terlalu ketat, duduk terlalu lama, atau sering berendam air panas.
4. Merokok
Rokok mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat merusak DNA sperma dan bisa menurunkan kualitas dan motilitasnya.
Kebiasaan merokok dapat mengganggu produksi hormon testosteron.
Jika ingin memiliki keturunan yang sehat, berhenti merokok adalah langkah terbaik yang bisa dilakukan.
5. Mengonsumsi Makanan Tidak Sehat
Pola makan yang tidak sehat dapat memengaruhi kualitas sperma.
Konsumsi makanan olahan, fast food, dan makanan tinggi gula dapat meningkatkan stres oksidatif yang dapat merusak sperma.
Sebaiknya perbanyak konsumsi buah, sayur,dan protein untuk menjaga kesehatan sperma.
Dengan menghindari kebiasaan-kebiasaan tersebut, kalian dapat menjaga kualitas sperma dan meningkatkan peluang untuk memiliki keturunan.
Ingatlah bahwa menjaga kesehatan reproduksi sama pentingnya dengan menjaga kesehatan secara keseluruhan. (*)
Editor : Dwi Setiyawan