TUBAN-Toxoplasma gondii adalah parasit bersel tunggal yang menyebabkan penyakit toksoplasmosis pada manusia.
Parasit penyebab penyakit toksoplasmosis ada di seluruh dunia dan dapat bertahan dalam jangka waktu lama pada inangnya.
Melansir dari Departemen Kesehatan Hawaii, orang yang memiliki daya tahan tubuh normal, toksoplasmosis jarang menunjukkan gejala penyakit.
Namun, dapat berdampak lebih parah pada orang yang memiliki sistem imunitas lemah, penderita penyakit kanker, AIDS, dan ibu hamil atau anak–anak.
Gelaja awal dapat berupa flu, demam, sakit kepala, nyeri pada sekujur tubuh, dan sakit tenggorokan.
Tidak tertutup kemungkinan gejalanya lebih parah jika parasit ini memasuki otot, sistem saraf, mata, dan jantung.
Pada ibu hamil, toksoplasmosis akan mengakibatkan kecacatan pada anak, bahkan dapat menyebabkan keguguran.
Sedangkan pada penderita AIDS dapat menyebabkan kematian. Gejala toksoplasmosis bisa terjadi 5 sampai 23 hari setelah terpapar parasit.
Kebanyakan orang hanya tahu jika pembawa penyakit ini adalah kucing.
Toxoplasma gondii memang berkembang biak dalam saluran usus kucing.
Selain kucing, hewan pemakan daging yang kurang matang juga dapat menjadi potensi penularan parasit ini.
Hewan tersebut, antara lain, burung, ikan, kelinci, anjing, babi, kambing, dan hewan mamalia lainnya.
Dilansir dari my.clevelandclinic.org, toxoplasma gondii dapat menginfeksi manusia melalui beberapa cara berikut:
1. Mengonsumsi makanan yang tidak dimasak sampai matang dan tidak dicuci dengan bersih.
2. Melakukan kontak langsung dengan kotoran kucing yang terdapat parasit toxoplasma gondii ketika sedang membersihkan litter box.
3. Menular melalui ibu hamil ke janinnya melalui plasenta.
4. Mengonsumsi air yang terkontaminasi toxoplasma gondii.
5. Transplantasi organ dan transfusi darah dengan orang yang terpapar toxoplasma gondii.
Toxoplasma gondii tidak dapat menginfeksi secara langsung sesama manusia.
Hanya melalui hewan, ibu ke janin, maupun makanan yang terkontaminasi.
Parasit ini dapat berada di paru – paru, otot, dan otak selama bertahun – tahun.
Toxoplasma gondii dapat aktif kapan saja. Namun, sistem kekebalan tubuh manusia akan langsung melawan penyakit ini, sehingga tidak menimbulkan gejala pada orang yang terinfeksi.
Penyakit ini akan membahayakan apabila aktif dalam kondisi imun tubuh tidak pada keadaan prima atau karena sedang melakukan pengobatan tertentu.
Hal ini akan menyebabkan sakit pada orang yang terinfeksi.
Toksoplasmosis yang aktif kembali dapat menyebabkan beberapa gejala yang berhubungan dengan otak dan sumsum tulang belakang.
Gejala tersebut, antara lain, sakit kepala, merasa linglung atau kebingungan, kejang, dan demam.
Gejala lain, kelumpuhan pada wajah, mati rasa, hilang atau melemahnya kemampuan motorik, serta koma.
Sedangkan pada anak atau orang yang telah terinfeksi toksoplasma sejak dalam kandungan akan memiliki gejala penyakit kuning, ruam, serta pembesaran pada hati dan limpa.
Anak atau orang telah terinfeksi sejak dalam kandungan juga memunculkan gejala ukuran kepala lebih kecil, kejang, dan keterlambatan perkembangan motorik.
Untuk mendiagnosis infeksi toksoplasmosis, perlu dilakukan pemeriksaan fisik, seperti tes darah, biopsi, MRI atau CT Scan, dan jika hamil akan dilakukan amniosentesis atau USG.
Toksoplasmosis dapat diobati menggunakan kombinasi antiparasit dan antibiotik untuk menghentikan perkembangan toxoplasma gondii dalam tubuh.
Selain itu asam folinat juga akan diberikan selama pengobatan toksoplasmosis berlangsung.
Pengobatan ini berguna mengurangi efek samping dari antiparasit.
Pengobatan toksoplasmosis dilakukan pada semua orang yang terinfeksi parasit ini.
Pengobatan ini hanya berhasil jika parasitnya sedang aktif.
Umumnya, pengobatan toksoplasmosis akan berlangsung selama 2 sampai 6 minggu, namun bisa jadi akan lebih cepat.
Meski telah merasa lebih baik, seseorang yang terinfeksi tetap harus menjalani pengobatan dalam kurun waktu yang cukup lama sampai parasit toxoplasma gondii aktif dapat hilang. (*)