TUBAN-Bayangkan kalian baru saja menjalani operasi prostat yang penuh keyakinan dan optimisme untuk pemulihan testis.
Namun, beberapa minggu kemudian, kalian dihadapkan pada kenyataan pahit: testis diangkat tanpa persetujuan kalian.
Kasus pengangkatan testis atau orkidektomi ini menimpa Subandi, warga Pasuruan, Jawa Timur.
Sekarang ini, Subandi menuntut RSUD Bangil atas kelalaian medis.
Kasus ini memicu kehebohan di media sosial dan membuka pertanyaan penting: kapan pengangkatan testis benar-benar diperlukan?
Pengangkatan testis merupakan prosedur medis yang kompleks dengan konsekuensi signifikan.
Tindakan ini umumnya dilakukan sebagai langkah terakhir untuk mengatasi kondisi medis yang mengancam jiwa.
Berikut beberapa alasan medis yang mendasari pengangkatan testis, dilansir dari National Cancer Institute (NCI) dan Mayo Clinic:
1. Trauma
Cedera parah pada testis yang tidak dapat diperbaiki dengan operasi rekonstruksi.
2. Infeksi
Infeksi parah pada testis yang tidak merespons pengobatan antibiotik.
3. Kanker testis
Kanker testis merupakan kanker paling umum pada pria muda. Pengangkatan testis menjadi langkah awal dalam pengobatan kanker, diikuti dengan kemoterapi atau radiasi.
4. Skrotum terpuntir
Kondisi darurat medis ini terjadi ketika aliran darah ke testis terputus, menyebabkan rasa sakit yang parah dan kerusakan jaringan.
Tindakan cepat untuk meluruskan skrotum dan mengembalikan aliran darah terkadang memerlukan pengangkatan testis yang terancam.
5. Hidrokel
Penumpukan cairan di skrotum yang menyebabkan pembengkakan dan rasa tidak nyaman.
Dalam kasus hidrokel yang parah atau berulang, pengangkatan testis mungkin diperlukan.
Penting untuk dicatat bahwa pengangkatan testis bukan keputusan yang mudah diambil.
Dokter akan mempertimbangkan berbagai faktor. Termasuk usia pasien, kondisi kesehatan secara keseluruhan, dan tingkat keparahan penyakit, sebelum merekomendasikan prosedur ini.
Pasien memiliki hak untuk informed consent, di mana mereka harus diberi informasi yang lengkap dan akurat tentang risiko dan manfaat pengangkatan testis sebelum memberikan persetujuan.
Kasus Subandi menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya komunikasi yang jelas dan transparan antara pasien dan dokter.
Kepercayaan dan rasa hormat dalam hubungan dokter-pasien merupakan kunci untuk memastikan perawatan medis yang aman dan etis. (*)