Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Memahami Stunting pada Anak: Penyebab, Ciri – Ciri, dan Pencegahannya

Shafa Dina Hayuning Mentari • Sabtu, 18 Mei 2024 | 03:00 WIB
Ilustrasi ibu dan anak.
Ilustrasi ibu dan anak.

TUBAN-Stunting merupakan isu kesehatan global yang banyak diperbincangkan masyarakat dunia.

Menurut WHO, stunting merupakan gangguan proses tumbuh kembang anak yang terjadi akibat gizi buruk dan infeksi berulang.

Stunting dapat terjadi sejak anak dalam kandungan karena sang ibu tidak mencukupi kebutuhan nutrisi selama masa kehamilan.

Merujuk data Kemenkes, Indonesia adalah negara dengan jumlah angka stunting terbesar kelima.

Anak yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal.

Hal tersebut menjadikan anak akan lebih rentan terhadap segala jenis penyakit dan beresiko mengalami penurunan produktivitas di masa depan.

Secara umum, stunting menghambat pertumbuhan ekonomi suatu negara, meningkatkan kesenjangan sosial, dan juga meningkatkan angka kemiskinan.

Mengapa angka stunting cukup tinggi di tanah air?

Kondisi ini salah satunya dipengaruhi perubahan pola hidup masyarakat modern yang cenderung mengonsumsi makanan tinggi kalori, tinggi lemak jenuh, tinggi gula, dan rendah kandungan serat.

Hal ini mengakibatkan tak tercukupinya kebutuhan gizi anak pada usia seharusnya menunjukkan perkembangan pada aspek fisik, kemampuan motorik dan sensorik, emosi, dan sosial.

Anak yang mengalami stunting akan menderita beberapa kondisi seperti gangguan perkembangan otak dan fisik.

Mengacu hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, permasalahan stunting pada anak di Indonesia terdeteksi pada usia 2 – 3 tahun dengan presentase 26,2 persen.

Tingginya angka stunting yang tak segera diatasi dapat memengaruhi terkait sumber daya manusia di suatu negara.

Hal ini karena anak merupakan generasi penerus bangsa. Jika tak segera ditangani, maka akan berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.

Dikutip dari alodokter.com, berikut beberapa ciri stunting pada anak:

1. Mudah terjangkit penyakit

Kondisi ini terjadi akibat sistem imunitas atau kekebalan tubuh anak yang rendah, sehingga anak rentan terserang penyakit. Terutama penyakit infeksi.

2. Kulit, kuku, dan rambut tidak sehat

Ketika anak mengalami kekurangan gizi, tubuh secara otomatis akan mulai mengurai nutrisi pada jaringan tubuh untuk mendapatkan energi dan melanjutkan fungsinya.

Umumnya penguraian nutrisi dimulai dari lemak, jaringan otot, kulit, rambut, dan kuku.
Hal tersebut menyebabkan kulit anak tampak kering dan tak sehat.

Rambut anak juga menjadi lebih rapuh dan mudah rontok.

3. Pertumbuhan yang Lamban

Salah satu ciri anak mengalami stunting adalah tinggi dan beratnya cenderung lebih kecil dibandingkan dengan anak – anak seusianya.

Pertumbuhan yang tertunda dapat menjadi salah satu ciri jika anak mengalami stunting. Hal ini dikarenakan anak tak mendapatkan gizi yang mencukupi.

4. Keterlambatan perkembangan pada fungsi kognitif anak

Fungsi kognitif ini meliputi kemampuan berpikir, fokus, dan memori belajar pada anak.

Gangguan ini dapat menghambat performa perkembangan anak di lingkungan sosialnya.

Anak stunting cenderung kesulitan menangkap informasi secara lengkap dan tidak jarang gangguan ini memengaruhi cara anak dalam melakukan komunikasi.

Kondisi stunting pada anak dapat dicegah dengan memastikan anak mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Pencegahan berikutnya, memenuhi kebutuhan gizi anak sejak masa kehamilan sampai anak berusia 2 tahun.

Tak kalah pentingnya memberikan ASI eksklusif hingga anak berusia 6 bulan.
Juga rutin melakukan imunisasi pada anak. (*)

Editor : Amin Fauzie
#ciri-ciri #anak #stunting #pencegahan #penyebab