RADARBONANG.ID - Pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, umat Islam di berbagai daerah mengisinya dengan beragam kegiatan keagamaan, mulai dari pengajian hingga acara syukuran sebagai wujud cinta kepada Rasulullah SAW.
Tahun ini, Maulid Nabi bertepatan pada Jumat, 5 September 2025, yang sesuai dengan 12 Rabiul Awal 1447 Hijriyah atau 12 Mulud 1949 dalam kalender Jawa.
Momen penuh berkah ini selalu menjadi pengingat akan kelahiran manusia agung pembawa rahmat bagi semesta alam.
Salah satu ulama kharismatik yang kerap mengulas keutamaan Maulid adalah KH. Bahauddin Nursalim atau Gus Baha.
Abu Lahab dan Barokah Maulid Nabi SAW
Dalam sebuah ceramah yang dikutip dari unggahan Daily Nasihat berjudul “Dalil Maulid Nabi Sayyid Muhammad Alawi Al-Hasani” pada 28 Agustus 2025, Gus Baha menegaskan bahwa barokah Maulid Nabi sudah dirasakan sejak zaman dahulu, bahkan sebelum ada organisasi Islam modern.
Dia menjelaskan bahwa kajian ilmiah pertama yang merasakan barokah Maulid justru datang dari kisah Abu Lahab, bahkan jauh sebelum munculnya ormas-ormas Islam.
Penjelasan ini merujuk pada kitab Haul Al-Ihtifal Bidzikri Al-Maulid An-Nabawi Asy-Syarif karya Al-Marhum Al-Magfur Lah, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani.
Sayyid Muhammad menegaskan, dalil yang membolehkan ikhtifal bi maulidin Nabi atau peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW bisa dilihat dari riwayat tentang Abu Lahab.
Dikisahkan, setiap hari Senin Abu Lahab mendapat keringanan azab karena rasa senangnya ketika Rasulullah SAW lahir.
Saat itu, dia memerintahkan budaknya, Suwaibah, untuk membantu Sayyidah Aminah yang baru saja melahirkan.
Padahal jelas bahwa Abu Lahab dikenal sebagai kafir. Namun, karena kegembiraannya atas kelahiran Nabi SAW, Allah memberinya keringanan siksa.
Dari sini, tampak betapa besar keutamaan dan barokah Maulid Nabi SAW.
Jika seorang Abu Lahab saja mendapat keringanan, apalagi orang beriman yang sepanjang hidupnya mencintai Nabi Muhammad SAW dan wafat dalam keadaan bertauhid.
Analogi Sederhana dari Gus Baha
Gus Baha kemudian menekankan logika sederhana dalam ceramahnya.
Dia mencontohkan, setiap orang pasti merasa senang ketika dikaruniai anak, meski belum tahu apakah anak itu kelak saleh atau tidak. Rasa senang itu datang secara alami tanpa dipertanyakan.
Maka, mengapa ada yang menggugat orang-orang yang bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, sosok pembawa cahaya bagi umat manusia?
Penegasan Dalil Maulid Nabi SAW dari Sayyid Muhammad
Lebih lanjut, Gus Baha mengutip penjelasan Sayyid Muhammad pada halaman 9 kitab tersebut: “Kalau ada orang yang tidak suka Maulid, itu sama saja dengan mengatakan, ‘Kenapa kalian bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW?’”
Pernyataan ini mempertegas bahwa rasa cinta kepada Nabi SAW yang diwujudkan melalui Maulid adalah bentuk penghormatan, bukan sesuatu yang layak diperdebatkan.
KH. Bahauddin Nursalim atau Gus Baha pun menutup penjelasannya dengan pesan mendalam.
Menurutnya, tidak pantas jika seorang Muslim meragukan kegembiraan atas lahirnya Rasulullah SAW.
Sebab, momen Maulid bukan sekadar tradisi, tetapi juga sarana memperkokoh kecintaan dan ikatan spiritual kepada Nabi Muhammad SAW. (*)
Editor : Amin Fauzie