RADARBONANG.ID – Rasulullah Muhammad SAW bukan hanya sosok pemimpin negara dan panglima perang.
Di balik kegigihan dan wibawa beliau, tersimpan kelembutan luar biasa yang mengalir untuk anak-anak dan keluarga.
Sosok beliau begitu hangat, penuh cinta, dan jauh dari kerasnya perlakuan.
Di tengah rutinitas dakwah dan medan perjuangan, Nabi tetap menunjukkan sisi paling manusiawi: menjadi ayah, kakek, dan suami yang penuh kasih.
Sikap beliau ini bukan sekadar kisah nostalgia dari masa lalu, tapi pelajaran hidup yang relevan sampai hari ini.
Pelukan dan Ciuman untuk Anak
Dalam banyak riwayat, Rasulullah SAW dikenal sangat gemar memeluk dan mencium anak-anak.
Suatu ketika, beliau mencium cucunya, Hasan bin Ali.
Lalu ada sahabat yang berkata, “Saya punya sepuluh anak dan tidak pernah mencium satu pun dari mereka.”
Rasulullah SAW langsung menegur, “Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa Nabi ingin menanamkan bahwa kasih sayang bukan kelemahan. Justru itu kekuatan yang menyuburkan akhlak dan menciptakan kehangatan dalam rumah tangga.
Di zaman ketika anak laki-laki lebih dihargai, Nabi justru mengangkat derajat anak perempuan.
Membela dan Memuliakan Fatimah
Cinta Nabi pada putrinya, Fatimah az-Zahra, menjadi teladan agung.
Setiap Fatimah datang, Nabi akan berdiri, mencium keningnya, dan mempersilakan duduk di tempat beliau.
Sebaliknya, Fatimah pun berbuat demikian.
Hubungan ini bukan sekadar ikatan darah, tapi wujud penghormatan, cinta sejati ayah kepada anak.
Dalam Fatimah, Nabi meneladankan penghargaan terhadap perempuan, yang kala itu kerap dipinggirkan dalam struktur masyarakat Arab.
Bermain Bersama Cucu
Di sela tugas kenabian, Nabi tidak segan menggendong Hasan dan Husain. Bahkan, beliau pernah sujud dalam salat dan tak kunjung bangun karena Hasan naik di punggungnya.
Para sahabat mengira ada wahyu turun, tapi ternyata Nabi tak ingin mengganggu cucunya yang sedang bermain.
Itulah kelembutan yang menyatu dalam ibadah.
Rasul mengajarkan, menjadi dekat dengan anak-anak tidak mengurangi wibawa, justru menambah cinta yang berkah.
Rumah yang Dipenuhi Doa dan Cinta
Dalam keluarga, Nabi selalu menjaga komunikasi, saling menasihati dengan lembut, dan tidak pernah memukul istri atau anak.
Rasulullah adalah orang yang paling santun terhadap keluarganya, dan beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Dalam kesederhanaan rumah Nabi, kita menemukan makna hakiki dari rumah tangga: tempat kembali, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara batin.
Teladan Nabi di Zaman Sekarang
Di tengah era serba cepat dan sibuk, teladan Nabi Muhammad SAW seharusnya makin relevan.
Kasih sayang bukanlah sikap manja, melainkan dasar pembentukan karakter anak.
Nabi SAW menunjukkan bahwa waktu bersama keluarga adalah investasi jangka panjang, bukan penghambat kesuksesan.
Mari kita renungkan kembali: sudahkah kita mendengar anak-anak kita? Sudahkah kita memeluk mereka hari ini? dan Sudahkah kita, seperti Nabi, menjadi rumah yang nyaman bagi keluarga? (*)
Editor : Amin Fauzie