Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Menyikapi Tahun Baru Masehi, Gus Baha Mengutip Ayat Ini!

Amin Fauzie • Kamis, 26 Desember 2024 | 04:00 WIB

 

Gus Baha menyikapi Tahun Baru Masehi dalam salah satu ceramahnya. Foto adalah ilustrasi.
Gus Baha menyikapi Tahun Baru Masehi dalam salah satu ceramahnya. Foto adalah ilustrasi.

RADARBONANG.ID - Perayaan Tahun Baru Masehi sering kali menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat di berbagai belahan dunia.

Namun, bagi umat Islam, ada pandangan khusus terkait hal ini.

Gus Baha, atau KH Ahmad Bahauddin Nursalim, salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar al-Qur'an, memberikan pandangannya yang mendalam dan penuh hikmah mengenai perayaan Tahun Baru Masehi.

Melalui channel Youtube Gus Baha Official, Gus Baha mengatakan dalam ceramahnya, dalam Islam, penanggalan didasarkan pada dua sistem utama, yaitu Syamsiah (berdasarkan pergerakan matahari) dan Qomariah (berdasarkan pergerakan bulan).

Kalender Masehi, yang digunakan secara global saat ini, termasuk dalam kategori kalender Syamsiah yang didasarkan pada pergerakan matahari.

Meskipun begitu, Gus Baha mengingatkan umat Islam untuk tidak melupakan bahwa mereka memiliki kalender tersendiri, yaitu kalender Hijriah, yang diresmikan oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Kalender Hijriah ini menjadi simbol identitas umat Islam.

Dalam ceramah yang diunggah pada Minggu (22/12) ini, Gus Baha menjelaskan dengan jelas bahwa baik kalender Masehi maupun Hijriah pada dasarnya bersifat netral.

Kedua sistem penanggalan ini didasarkan pada fenomena alam yang diciptakan oleh Allah, seperti pergerakan matahari dan bulan.

"Bahwa matahari dan rembulan ini diciptakan Allah untuk hisab," ujar Gus Baha. "Artinya, matahari dapat dihitung sebagai tahun Syamsiyyah (Masehi), sedangkan bulan (Qomariyah) dihitung menjadi tahun Hijriyah."

Pernyataan Gus Baha ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ar-Rahman, ayat 5, yang berbunyi:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

"Assyamsu wal qomaru bihusban"

Artinya: "Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan." (Q.S. Ar-Rahman: 5)

Selain itu, dalam Surah Yunus, ayat 5, Allah juga berfirman:

وَالَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

"Walladzi ja'ala ash-shamsa diyyā’an wal-qamara nūran wa qaddarahu manāzilā lita'lamū 'adada as-sīnīn wa l-hisāba."

Artinya: "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu)." (Q.S. Yunus: 5).

Dengan pemahaman ini, Gus Baha menegaskan bahwa penggunaan kalender Masehi dalam kehidupan sehari-hari, seperti untuk keperluan pekerjaan atau pendidikan, tidaklah menjadi masalah.

Kalender Masehi, meskipun bukan berasal dari ajaran Islam, tetap memiliki nilai fungsional dan praktis yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Namun, Gus Baha memberikan perhatian khusus pada bagaimana umat Islam menyikapi perayaan Tahun Baru Masehi.

Ia menekankan bahwa umat Islam perlu berhati-hati dalam mengikuti tradisi yang bukan berasal dari ajaran Islam, terutama jika perayaan tersebut mengandung unsur yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, seperti kemaksiatan atau pemborosan.

Ustadz Kelahiran 1970 ini juga mengingatkan bahwa identitas sebagai umat Islam harus dijaga.

Dalam menghadapi berbagai budaya dan tradisi yang ada di masyarakat, umat Islam perlu memilah mana yang dapat diterima dan mana yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama.

Menurut beliau, menjaga identitas tidak berarti menolak semua bentuk budaya asing, tetapi lebih kepada sikap kritis dalam menyaring tradisi tersebut.

Sebagai contoh, Gus Baha menjelaskan bahwa jika perayaan Tahun Baru dilakukan dengan tujuan bersyukur kepada Allah atas nikmat umur dan kesehatan, serta diisi dengan kegiatan yang positif, maka hal tersebut dapat diterima.

Namun, jika perayaan tersebut dilakukan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat, seperti menghabiskan waktu dengan pesta pora atau kegiatan yang melalaikan, maka umat Islam sebaiknya menghindarinya.

Lebih lanjut, Gus Baha menekankan pentingnya introspeksi diri pada momen pergantian tahun.

Ia menyarankan agar umat Islam menjadikan momen ini sebagai waktu untuk muhasabah, mengingat kembali perjalanan hidup selama satu tahun terakhir, dan merencanakan perbaikan diri di tahun yang akan datang.

Introspeksi ini sesuai dengan ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk senantiasa memperbaiki diri.

Dalam ceramahnya, Gus Baha juga mengajak umat Islam untuk lebih menghargai kalender Hijriah.

Kalender ini bukan sekadar penanggalan, tetapi juga memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam.

Sebagai contoh, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW yang menjadi dasar penanggalan Hijriah adalah simbol perjuangan, pengorbanan, dan transformasi menuju kehidupan yang lebih baik.

Meskipun begitu, Gus Baha tidak mengajarkan untuk bersikap ekstrem dalam menyikapi perayaan Tahun Baru Masehi.

Beliau menekankan pentingnya toleransi dan hidup berdampingan dengan masyarakat yang berbeda agama dan budaya.

Menurutnya, Islam adalah agama yang rahmatan lil 'alamin, sehingga umat Islam harus mampu menjadi teladan dalam menjaga harmoni sosial.

Sebagai tambahan, Gus Baha juga mengingatkan umat Islam untuk tidak mudah terprovokasi dengan pandangan-pandangan yang mengharamkan sesuatu tanpa dasar yang jelas.

Beliau mengajak umat Islam untuk memahami agama dengan ilmu dan mencari jawaban dari para ulama yang kompeten.

Pandangan Gus Baha ini sejalan dengan prinsip Islam yang mengajarkan keseimbangan antara menjaga akidah dan membangun hubungan baik dengan sesama manusia.

Dalam konteks perayaan Tahun Baru, beliau menekankan bahwa yang terpenting adalah niat dan cara merayakannya, bukan sekadar mengikuti tradisi secara membabi buta. (*)

Editor : Amin Fauzie
#penanggalan #kalender #Tahun Baru Masehi #Gus Baha #cara merayakan #Qomariah #pandangan islam