RADARBONANG.ID – Kalau mendengar orang Tuban berbicara, sekilas mungkin terdengar seperti bahasa Jawa pada umumnya. Namun, coba dengarkan lebih lama.
Ada sejumlah kata, cara pengucapan, hingga pola imbuhan yang membuat percakapan warga Tuban memiliki warna tersendiri.
Bagi warga lokal, istilah tersebut mungkin sudah terdengar sangat biasa.
Bahkan, sebagian digunakan tanpa perlu dipikirkan lagi.
Namun bagi orang dari luar Tuban, beberapa kata bisa terdengar cukup membingungkan.
Bahasa Jawa yang digunakan masyarakat Kabupaten Tuban memang memiliki ciri khas tersendiri.
Penelitian Badan Bahasa mengenai geografi dialek bahasa Jawa di Kabupaten Tuban mencatat adanya kekhasan pada unsur bunyi dan leksikal.
Baca Juga: Niat Jadi YouTuber Minecraft, Bocah 9 Tahun Malah Bikin Uang Perusahaan Ayahnya Ludes Rp2 Miliar
Dari ratusan kata yang diteliti, terdapat sejumlah kosakata yang diduga menjadi ciri khas penggunaan bahasa di Tuban.
Menariknya, keunikan tersebut tidak hanya terletak pada pilihan kata.
Cara pengucapan serta penggunaan imbuhan tertentu juga ikut membentuk karakter dialek Tuban.
Ada "Leh" di Ujung Kalimat
Salah satu kata yang cukup mudah dikenali dalam percakapan masyarakat Tuban adalah "leh" atau "lèh".
Kata tersebut dapat muncul di berbagai jenis kalimat dan nuansanya bisa berubah sesuai konteks pembicaraan.
Dalam kalimat perintah, misalnya, "leh" dapat memberikan nuansa seperti kata "dong".
Sementara dalam kalimat berita, kata tersebut dapat terasa seperti "lho".
Dalam kalimat tanya, penggunaannya juga dapat memberikan nuansa seperti "kan".
Contohnya, "Ayo budhal nyang pasar, leh!" atau "Iya, leh."
Bagi penutur Tuban, penggunaan kata tersebut terasa natural.
Namun, bagi orang luar daerah yang baru mendengarnya, kata "leh" bisa menjadi salah satu bagian yang langsung menarik perhatian.
Imbuhan "-em" dan "-nem" yang Bikin Beda
Keunikan lainnya terdapat pada penggunaan imbuhan "-em" dan "-nem".
Imbuhan tersebut dapat digunakan untuk menunjukkan kepemilikan orang kedua atau dalam bahasa sederhana bermakna "-mu".
Penggunaannya bergantung pada bunyi akhir kata.
Kata yang berakhiran konsonan dapat menggunakan "-em", sedangkan kata yang berakhiran vokal dapat menggunakan "-nem".
Contohnya, "kipasem" dapat dimaknai sebagai "kipasmu".
Sementara "kopinem" dapat dimaknai sebagai "kopimu".
Bagi orang yang sejak kecil terbiasa menggunakan pola tersebut, bentuk seperti ini tentu tidak terasa aneh.
Namun, bagi penutur bahasa Jawa dari daerah lain, pola tersebut dapat terdengar berbeda.
Hal inilah yang menunjukkan bahwa variasi bahasa tidak hanya muncul dari perbedaan kosakata, tetapi juga dari pola pembentukan kata dalam percakapan sehari-hari.
"Ndhêngêr" Bukan Nama Orang
Nah, bagian ini mungkin bisa membuat orang luar Tuban salah paham.
Ada kata "ndhêngêr" yang digunakan untuk menyatakan makna paham atau mengerti.
Jadi, ketika seseorang mengatakan "wis ndhêngêr?", pertanyaan tersebut bukan berarti sedang memanggil seseorang bernama Ndhêngêr.
Maksudnya adalah menanyakan apakah lawan bicara sudah memahami sesuatu.
Selain "ndhêngêr", terdapat pula sejumlah kosakata lain yang memiliki makna khas.
"Nyagók" digunakan untuk menyebut sesuatu yang cocok.
Kemudian ada "mbaít" yang bermakna lihai.
Ada pula "kólúk" yang dapat digunakan untuk menggambarkan sesuatu atau seseorang yang dianggap hebat.
Sementara itu, "ngêmpròs" berarti berbohong, "mlété" digunakan untuk menyebut seseorang yang sombong, sedangkan "jêmbêr" memiliki makna jijik.
Kosakata tersebut memperlihatkan bagaimana bahasa lokal dapat memiliki pilihan kata yang berbeda, bahkan ketika digunakan untuk menyampaikan makna yang sebenarnya cukup umum.
Bukan Cuma Katanya, Pelafalannya Juga Khas
Keunikan dialek Tuban tidak berhenti pada kosakata.
Cara mengucapkan sejumlah kata juga menjadi bagian dari karakter bahasa yang digunakan masyarakat.
Dalam sumber yang membahas dialek Tuban, terdapat contoh seperti "eròh" yang bermakna tahu, "jirèh" yang berarti penakut, serta "putèh" yang berarti putih.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa identitas sebuah dialek tidak hanya ditentukan oleh kata yang digunakan.
Bunyi dan cara seseorang mengucapkan kata juga dapat menjadi penanda dari mana penutur tersebut berasal.
Tidak mengherankan jika seseorang yang berasal dari Tuban dapat dikenali hanya melalui percakapannya, terutama ketika menggunakan bahasa Jawa dalam suasana yang santai.
Dialek Tuban Tidak Selalu Sama di Setiap Daerah
Meski sering disebut sebagai bahasa atau dialek Tuban, penggunaannya tidak selalu seragam di seluruh wilayah Kabupaten Tuban.
Kajian mengenai pemetaan dialek di Kecamatan Palang menunjukkan adanya variasi bahasa yang berkaitan dengan kondisi geografis.
Penelitian lain mengenai bahasa Jawa di Kabupaten Tuban juga mencatat adanya perbedaan unsur leksikal antarwilayah, meskipun perbedaannya relatif kecil.
Artinya, tidak semua kosakata yang dianggap khas Tuban otomatis digunakan oleh seluruh masyarakat Tuban.
Penggunaan sebuah kata dapat dipengaruhi oleh wilayah tempat tinggal, usia penutur, lingkungan pergaulan, hingga kebiasaan keluarga.
Karena itu, daftar istilah khas Tuban sebaiknya tidak dianggap sebagai kamus mutlak yang harus digunakan semua warga.
Justru variasi tersebut menjadi bagian menarik dari perkembangan bahasa di daerah.
Bahasa Lokal Bukan Sekadar Cara Bicara
Di tengah semakin kuatnya penggunaan bahasa Indonesia, bahasa gaul, dan istilah internet, bahasa daerah tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
Kata seperti "leh", "ndhêngêr", "ngêmpròs", hingga penggunaan imbuhan "-em" dan "-nem" bukan hanya sekadar variasi dalam percakapan.
Di baliknya terdapat kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi warga Tuban, istilah tersebut mungkin terdengar biasa karena sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun, bagi orang luar daerah, beberapa kata bisa terasa seperti kode yang harus dipahami terlebih dahulu.
Menariknya, penggunaan bahasa lokal juga dapat menjadi penanda kedekatan.
Baca Juga: 50 Contoh Judul Skripsi Kualitatif Jurusan Pendidikan hingga Komunikasi Lengkap dengan Penjelasannya
Dalam lingkungan keluarga, pertemanan, atau komunitas tertentu, bahasa daerah membuat percakapan terasa lebih akrab.
Karena itu, keberadaan dialek Tuban bukan hanya persoalan linguistik. Bahasa juga menjadi bagian dari identitas daerah.
Jadi, kalau suatu saat mendengar percakapan warga Tuban dan menemukan kata yang terdengar asing, jangan buru-buru bingung.
Bisa jadi, kata tersebut merupakan salah satu kekayaan bahasa lokal yang membuat Tuban memiliki karakter tersendiri.
Dan kalau kamu sendiri sudah terbiasa menggunakan "leh", paham ketika mendengar "wis ndhêngêr?", atau pernah memakai kata "ngêmpròs", mungkin tanpa sadar kamu sedang ikut menjaga salah satu bagian dari identitas bahasa Tuban.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang