Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Cuaca Tak Bersahabat, Tren Wisata Tuban Awal 2026 Bergerak Naik-Turun

Shafa Dina Hayuning Mentari • Selasa, 20 Januari 2026 | 16:24 WIB
MENIKMATI SUASANA ALAM: Wahana kano destinasi wisata Silowo banyak diminati pengunjung yang ingin menikmati sensasi berperahu di sungai berair jernih.
MENIKMATI SUASANA ALAM: Wahana kano destinasi wisata Silowo banyak diminati pengunjung yang ingin menikmati sensasi berperahu di sungai berair jernih.

RADARBONANG.ID– Awal 2026 belum sepenuhnya ramah bagi sektor wisata Tuban.

Bukan soal fasilitas atau promosi, melainkan satu faktor yang tak bisa dikendalikan: cuaca.

Anomali cuaca dengan hujan yang datang tak menentu membuat grafik kunjungan wisata bergerak naik-turun, bahkan pada momentum libur yang biasanya jadi andalan.

Bagi pengelola destinasi, cuaca kini bukan sekadar latar, melainkan penentu utama ramai-sepinya pengunjung.

Hujan Pangkas Kunjungan hingga Separuh

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Kelapa Tuban, Muhasan, mengakui hujan berdampak langsung pada jumlah wisatawan. Penurunannya tidak kecil.

“Saat hujan melanda, penurunan bisa mencapai setengah dari total kunjungan normal. Wisatawan cenderung memilih tinggal di rumah saat hujan tiba,” ujarnya.

Wisatawan yang telanjur datang pun cenderung menahan diri. Aktivitas di bibir pantai ditunda, mereka memilih berteduh di warung-warung sambil menunggu hujan reda.

Akhir Pekan Masih Jadi Penopang

Dalam kondisi normal, Pantai Kelapa yang berada di Kelurahan Panyuran tetap menunjukkan denyut wisata yang stabil. Pada hari kerja, pengunjung berkisar 50–100 orang.

Lonjakan terjadi saat akhir pekan. Setiap Sabtu, jumlah kunjungan bisa menembus 500–1.000 orang, dan meningkat pada Minggu hingga 1.500–2.000 orang.

Namun, tidak semua hari libur memberi efek serupa. Muhasan mencontohkan libur Isra Mikraj pada 16 Januari lalu yang relatif sepi dibandingkan libur Natal atau hari libur nasional lain.

“Wisatawan luar kota yang sudah menjadwalkan kunjungan biasanya tetap datang meski hujan. Bagi mereka, Pantai Kelapa sudah jadi tujuan utama maupun tempat mampir yang ikonik,” tambahnya.

Antisipasi Keselamatan Jadi Prioritas

Menghadapi cuaca yang sulit diprediksi, pengelola mengingatkan pengunjung untuk lebih siap. Payung, jas hujan, hingga jaket dianjurkan dibawa sendiri.

Demi keselamatan, wisatawan juga dilarang berenang di laut saat cuaca buruk dan diarahkan memanfaatkan fasilitas kolam renang.

Langkah ini diambil untuk menjaga keamanan sekaligus kenyamanan, tanpa mematikan aktivitas wisata sepenuhnya.

Wisata Alam Lebih Terpukul

Kondisi serupa terjadi di Wisata Silowo yang berada di Kecamatan Merakurak. Ketua PokdarwisSilowo, Maliki, menyebut tren kunjungan awal 2026 justru lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Jika cuaca cerah, kami bisa menggaet 200 hingga 300 orang saat long weekend. Tapi kalau hujan turun, jumlahnya merosot hingga separuhnya,” katanya.

Pada hari kerja, jumlah pengunjung Silowo paling banyak hanya sekitar 50 orang.

Mayoritas wisatawan datang dari luar daerah, seperti Bojonegoro, Blora, Lamongan, Rembang, hingga Gresik—segmen yang sangat sensitif terhadap kondisi cuaca.

Menunggu Momentum Berikutnya

Para pengelola wisata di Tuban kini menaruh harapan pada perbaikan cuaca dan datangnya musim ziarah.

Meski diperkirakan tak seramai libur panjang sekolah, musim ini dinilai tetap mampu menggerakkan roda ekonomi wisata.

Di tengah anomali cuaca, sektor wisata Tuban belajar satu hal penting: promosi bisa dirancang, fasilitas bisa dibenahi, tetapi langit tetap punya kuasa sendiri. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Silowo #cuaca #Pokdarwis Tuban #wisata tuban #kabupaten tuban #destinasi wisata