RADARBONANG.ID – Sehari setelah angin puting beliung mengamuk di Kecamatan Semanding, Tuban, luka itu belum sempat mengering. Selasa (9/12) pagi, denyut desa masih tersendat.
Warga tersisa berkutat dengan puing: genteng patah berserakan, kayu ambruk menumpuk, dan rumah-rumah yang kemarin berdiri hangat kini hanya menyisakan rangka.
Di Dusun Krajan, Desa Penambangan, Ma’rifatin Soimah, 31, tampak duduk lama di depan rumahnya.
Perempuan yang akrab disapa Rifa itu menatap kosong sisa bangunan yang tinggal tulang kayu. Genteng bertumpuk di halaman, seperti penanda betapa cepat segalanya runtuh.
Di sisinya, tiga anak kecil duduk rapat, menempel pada sang ibu. Tidak ada tawa, tidak ada permainan.
Trauma belum pergi. Sesekali Rifa merangkul anak-anaknya, menenangkan ketakutan yang masih tersisa sejak Senin sore.
“Rumah kami tidak dapat ditempati lagi, jadi sementara mengungsi di rumah orang tua di desa sebelah. Anak-anak semalam menangis tidak dapat tidur nyenyak, sepertinya masih trauma,” ujarnya lirih.
Ingatan sore kelabu itu masih utuh. Sekitar pukul 15.00, angin datang berputar, menghantam tanpa aba-aba.
“Saya takut rumah ini ambruk ketika melihat genteng dan kayu berjatuhan, saya dan anak-anak bersembunyi di balik bilik kamar tidak berani keluar sembari menunggu suami pulang kerja,” tutur ibu tiga anak tersebut.
Mengungsi ke Rumah Kerabat
Kerusakan parah membuat Rifa tak punya pilihan selain mengungsi bersama suami dan anak-anaknya ke rumah orang tua di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding.
“Sementara mengungsi, sembari menunggu kondisi rumah selesai diperbaiki,” ucapnya pasrah.
Tak jauh dari rumah Rifa, Lina, 35, merasakan kepedihan serupa. Halaman rumahnya dipenuhi pecahan genteng dan kayu yang ambruk. Tempat tinggalnya tak lagi aman.
“Kondisinya tidak memungkinkan untuk ditempati, kami sementara mengungsi di rumah kerabat. Tak hanya kami, mungkin sekitar puluhan warga lainnya di desa setempat juga mengungsi sambil menunggu kondisi rumah pulih kembali,” jelasnya.
Bencana ini tak sekadar merusak bangunan. Ia merenggut rasa aman. Listrik sempat padam, pohon-pohon tumbang membahayakan lingkungan sekitar. “Kerugian ditaksir mencapai puluhan juta.
Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah. Pohon banyak yang tumbang dan membahayakan,” keluh Lina.
BPBD: Sepuluh Desa dan Kelurahan Terdampak
Skala bencana dipertegas data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban. Kepala Pelaksana BPBD Tuban, Sudarmaji, menyampaikan bahwa hasil asesmen sementara mencatat sedikitnya 10 desa dan kelurahan terdampak angin kencang tersebut.
“Berdasarkan data sementara, total ada 282 rumah mengalami kerusakan, ada dua fasilitas lembaga pendidikan yang juga terdampak,” ungkapnya.
Penanganan darurat langsung dilakukan. BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BPBD Kabupaten Tuban menurunkan personel ke lapangan.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Tuban bergerak membersihkan pohon tumbang, membuka akses jalan yang tertutup, serta membantu pembersihan rumah-rumah warga yang rusak.
Di tengah cuaca yang kian sulit diprediksi, Sudarmaji mengingatkan warga agar tetap waspada. “Kami menghimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dengan perubahan cuaca yang cepat berubah dan sulit diprediksi.
Terutama bagi masyarakat yang berada di daerah rawan bencana,” tandas mantan Camat Plumpang itu.
Di Semanding, puting beliung bukan sekadar angka dalam laporan. Ia hadir dalam tatapan anak-anak yang sulit tidur, rumah-rumah yang roboh, dan warga yang harus mengungsi tanpa kepastian kapan bisa kembali.
Gotong royong menjadi tumpuan pertama. Namun pemulihan yang sesungguhnya masih panjang—dan sangat dinanti. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah