RADARBONANG.ID – Usia boleh menua, tapi semangat membangun Tuban tak boleh surut. Rabu (12/11), Kabupaten Tuban resmi menginjak usia ke-732 tahun.
Bupati Aditya Halindra Faridzky menegaskan bahwa perayaan ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum memperkuat arah pembangunan dengan satu kompas: Lanjutkan Karya Bersama.
Tema Hari Jadi Tuban (HJT) tahun ini, kata Kepala Dinas Kominfo-SP Tuban Arif Handoyo, mencerminkan tekad kuat Mas Lindra—sapaan akrab sang bupati—untuk menjaga ritme pembangunan yang sudah terbentuk.
“Mas Bupati menegaskan bahwa tema Lanjutkan Karya Bersama merupakan panggilan hati sekaligus seruan untuk meneruskan perjuangan pembangunan yang telah diwariskan para pendahulu dengan semangat kebersamaan,” ujar Arif.
Mas Lindra, lanjutnya, kerap mengingatkan bahwa kemajuan Tuban hari ini berdiri di atas pondasi panjang perjuangan para tokoh yang menanamkan keringat dan cinta untuk Bumi Wali.
“Apa yang kita lakukan hari ini tidak dimulai dari nol, tapi melanjutkan kerja besar yang telah diletakkan para pendiri Tuban yang berhati bumi wali dan berjiwa Ronggolawe,” kata mantan kabag hukum Setda Tuban itu.
Momentum yang Tak Boleh Hilang
Menurut Arif, diksi Lanjutkan menggambarkan tekad Pemkab Tuban menjaga momentum positif. Di tengah berkurangnya dana transfer pusat, Mas Lindra memilih tidak mundur.
Orang nomor satu di Tuban itu justru memanfaatkan keterbatasan sebagai momen untuk memperkuat kolaborasi antarlembaga.
“Mas Bupati selalu menegaskan, berkurangnya dana transfer ke daerah (TKD) bukan alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan publik. Ini justru momentum untuk memastikan setiap rupiah anggaran memberi manfaat maksimal bagi rakyat,” tegasnya.
Sementara kata Karya berarti hasil yang nyata. Tak ada pembangunan tanpa bukti di lapangan.
“Mas Bupati selalu menekankan bahwa setiap langkah pemerintah dan setiap keringat rakyat harus melahirkan karya yang bisa dilihat, dirasakan, dan dibanggakan,” jelas Arif.
Sedangkan Bersama, lanjutnya, adalah ruh dari seluruh gerak pembangunan Tuban. Sinergi antara kabupaten dan desa menjadi kunci dalam mewujudkan visi Mbangun Deso Noto Kutho.
Karena itu, arah pembangunan di tingkat desa terus disinkronkan dengan program kabupaten, termasuk dalam pengelolaan APBDes yang transparan dan tepat sasaran.
Ziarah: Dari Mengingat ke Meneladani
Rangkaian HJT ke-732 dimulai dengan ziarah ke makam para tokoh besar Tuban. Bupati Aditya Halindra Faridzky bersama Wabup Joko Sarwono, Forkopimda, pimpinan OPD, hingga tokoh masyarakat, menabur bunga di berbagai makam leluhur pada Senin (10/11), bertepatan dengan Hari Pahlawan.
Rute ziarah dimulai dari Taman Makam Pahlawan, berlanjut ke makam Sunan Bonang di Kutorejo, Ronggolawe di Sidomulyo, Bupati Tuban ke-22 Sujono Putro di Jadi, Dandang Wacana di Prunggahan Kulon, hingga ke makam Brawijaya V di Atas Angin dan Ibrahim Asmoro Qondi di Gesikharjo.
Bagi Mas Lindra, kegiatan ini bukan sekadar ritual tahunan. “Ziarah bukan seremoni, tapi momentum untuk merenungkan perjuangan para leluhur. Dari mereka kita belajar tentang pengabdian, keberanian, dan semangat membangun Tuban yang harus terus kita lanjutkan,” ujarnya tegas.
Dari Refleksi ke Aksi Nyata
Bupati Tuban Mas Lindra menegaskan, Hari Jadi Tuban adalah ajang refleksi, bukan pesta simbolik.
“Kita ingin semangat para pendahulu menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya dan membawa Tuban menjadi kabupaten yang berdaya saing tinggi, sejahtera, dan berkarakter,” katanya.
Baginya, ziarah juga menjadi simbol kesatuan. Antara pemerintah, Forkopimda, dan masyarakat bersatu dalam satu napas: kerja nyata untuk rakyat.
“Momentum Hari Jadi bukan sekadar perayaan, tapi refleksi. Kita di sini karena perjuangan panjang para pendahulu. Sekarang tugas kita adalah melanjutkannya,” tegas bupati dua periode itu.
Puncak peringatan HJT ke-732 digelar Rabu di Alun-Alun Tuban, dengan Mas Lindra bertindak sebagai inspektur upacara.
Aura kebanggaan dan semangat gotong royong terasa kental—sebuah pengingat bahwa di usia ke-732 tahun, Tuban bukan sekadar bertahan, tapi terus bergerak menuju masa depan yang lebih terang.
Dari tema hingga tindakan, Mas Lindra terlihat tak mau hanya meninggalkan jejak seremonial.
Bupati kelahiran 1992 itu ingin meninggalkan warisan: Tuban yang kuat dari desa, maju di kota, dan sejahtera untuk semua. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah