RADARBONANG.ID – Jangan kira memperkaya isi perpustakaan cuma tugas negara.
Di Tuban, banyak warga yang diam-diam ikut menyumbang ilmu — lewat tumpukan buku yang dulu mungkin cuma nganggur di lemari atau rak rumah berdebu.
Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Tuban, Masykuri, membenarkan bahwa geliat masyarakat untuk ikut menghidupkan Perpusda lewat hibah buku mulai terasa.
“Sebagian koleksi kami memang hibah dari masyarakat. Tahun ini juga sudah banyak masyarakat yang menghibahkan buku-buku mereka,” ujar Masykuri.
Masykuri mengaku belum bisa menyebut jumlah pastinya — mungkin karena saking banyaknya atau belum sempat direkap satu per satu.
Yang jelas, tiap pekan selalu saja ada tumpukan baru datang: mulai dari buku fiksi lawas, karya sastra modern, sampai buku motivasi dan kamus.
Buku yang Masuk Diverifikasi Kelayakannya
Namun, pihaknya tidak asal terima. Ada “sensor moral” dan “uji fisik” yang wajib dilalui setiap buku yang ingin jadi warga baru rak Perpusda.
“Buku yang disumbangkan tidak boleh mengandung unsur SARA, tidak boleh memuat konten dewasa, dan harus dalam kondisi layak dibaca,” jelas pejabat asal Bojonegoro itu.
Prosesnya pun cukup serius. Buku yang masuk akan diverifikasi satu per satu — dicek kondisi fisiknya, dicatat bibliografinya, dan diperiksa isinya.
“Kalau tidak memenuhi kualifikasi, maka buku tersebut akan kami simpan saja dan tidak kami layankan untuk pemustaka yang datang ke sini,” tambahnya.
Tak Ada Batasan Menyumbang
Menariknya, tak ada batasan berapa jumlah buku yang boleh disumbang. Mau satu, sepuluh, atau satu kardus penuh — semua boleh, selama masih layak dan tidak melanggar aturan.
“Yang terpenting, buku-buku tersebut tidak mengandung unsur-unsur yang dilarang. Jika memenuhi kriteria, maka buku hibah tersebut akan kami pajang di rak-rak buku dan kami layankan pada pemustaka,” tandasnya.
Gerakan donasi buku ini seperti napas baru bagi Perpusda. Di tengah tren minat baca yang kadang cuma jadi jargon, setidaknya masih banyak warga Tuban yang mau berbagi pengetahuan nyata.
Dan siapa tahu, buku lama kamu yang dulu cuma jadi ganjalan pintu, besok bisa jadi penyelamat bagi anak SMA yang sedang cari inspirasi menulis.
5 Buku Lama yang (Masih) Layak Kamu Sumbang ke Perpusda:
- Novel klasik — dari Laskar Pelangi sampai Siti Nurbaya, masih dicari pembaca muda.
- Buku pengembangan diri — motivasi, psikologi populer, atau tips karier tetap relevan.
- Ensiklopedia dan atlas — buat anak-anak SD yang butuh bahan belajar visual.
- Biografi tokoh inspiratif — dari Gus Dur, Soekarno, hingga Steve Jobs.
- Karya sastra daerah — buku berbahasa Jawa, sejarah lokal, atau budaya Tuban — justru yang paling langka.
Sumber : Radar Bonang