RADARBONANG.ID – Perahu-perahu nelayan di pesisir Karangsari, Kecamatan Tuban, kini berbaris rapi di tepi laut—bukan karena cuaca buruk, tapi karena isi jeriken yang kosong.
Sudah hampir sepekan lebih mereka tak melaut. Bukan tak mau, tapi solar raib entah ke mana.
Pantauan Jawa Pos Radar Tuban Selasa(4/11), suasana di kampung nelayan itu tak seperti biasanya.
Tak ada suara mesin kapal yang meraung di pagi hari. Hanya bunyi ombak pelan, seolah ikut menertawakan nasib para nelayan yang lagi-lagi terpaksa diam di darat.
“Sudah hampir sepuluh hari tidak melaut, bahan bakar (solar) saja sulit dicari, bagaimana mau berangkat,” keluh Mohammad (48), nelayan Karangsari yang kini lebih sering nongkrong di perahu daripada di laut.
Beli Solar Dibatasi 60 Liter
Menurutnya, kelangkaan solar kali ini bukan cuma membuat mereka gigit jari, tapi juga membuat perut makin menjerit.
Meski punya izin resmi membeli solar di SPBU, antreannya panjang, stoknya tipis, dan aturan makin ketat.
“Sekarang beli solar dibatasi, cuma boleh 60 liter. Padahal kapal kecil aja butuh minimal 100 liter buat sekali melaut. Jelas nggak cukup,” tambahnya dengan nada getir.
Kisah serupa dialami Arif (44), nelayan yang biasanya bisa tiga kali melaut dalam sepekan.
Kini? Satu kali pun sudah syukur. Pendapatan kotor yang biasa mencapai Rp15 juta sekali berangkat - jumlah tersebut masih dibagi dengan sejumlah awal kapal yang ikut melaut - pun lenyap begitu saja.
“Sekarang sudah sepekan tak melaut, penghasilan turun drastis,” ujarnya.
Arif tak heran jika banyak perahu kini hanya jadi “pajangan laut”. Menurutnya, fenomena solar langka selalu datang menjelang akhir tahun—seolah sudah jadi “musim paceklik BBM” tahunan. “Lagi-lagi masyarakat kecil yang jadi korban,” ujarnya, lirih tapi sarkas.
Pemerintah Koordinasi dengan Pertamina Patra Niaga
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (Diskopumdag) Tuban, Gunadi, memastikan pihaknya tidak tinggal diam.
Pemerintah sedang berkoordinasi dengan Pertamina Patra Niaga untuk menormalkan pasokan solar.
“Kami akan tingkatkan koordinasi dengan Pertamina, juga melakukan pengawasan dan monitoring berkala di lapangan agar stok aman dan tak diselewengkan,” tegas Gunadi.
Langkah ini diharapkan bukan sekadar janji di atas meja rapat. Sebab bagi para nelayan, setiap hari tak melaut berarti tak ada ikan, tak ada uang, dan dapur pun dingin.
Dan di tengah laut yang luas itu, hanya satu hal yang kini benar-benar mereka rindukan—bau solar di tangan, bukan di angan. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah