RADARBONANG.ID – Aroma ketidakberesan pada pasokan BBM jenis pertalite mulai menyeruak di Tuban.
Pos layanan pengaduan konsumen yang dibuka di SPBU 54.623.05 Sleko sejak Senin (27/10) langsung diserbu warga.
Dalam dua hari, meja layanan penuh oleh keluhan yang bunyinya hampir sama: mesin mendadak brebet usai minum pertalite.
Admin SPBU Sleko, Johan Wahyudi, mengakui pihaknya tak menyangka serbuan aduan akan seheboh ini.
Johan bahkan mengaku nyaris tak bisa meninggalkan kursinya.
Mulai buka layanan pukul 08.00 sampai 16.00, ruangannya nyaris tak pernah kosong dari warga yang datang menuntut solusi.
“Hingga hari ini (Selasa, 28 Oktober) dari pagi sampai sore cukup ramai konsumen melapor, tercatat ada sekitar 55 laporan masuk dengan keluhan kendaran yang mayoritas hampir sama,” beber dia kepada wartawan Radar Bonang.
Mayoritas laporan mengarah pada kejadian Jumat hingga Minggu lalu, ketika warga mengisi pertalite dan tak lama kemudian mesin motor “batuk-batuk”.
Pola Kerusakan Seragam
Johan membeberkan pola kerusakan yang dialami konsumen cukup seragam.
Mulai dari harus menguras tangki, ganti busi, hingga service ringan.
Bagi warga, kerusakan ini bikin dompet ikut sesak napas.
“Ada yang sampai harus menguras tangki yang berisi pertalite hingga ganti busi, rata-rata kerugian yang dialami konsumen mencapai Rp 400 hingga Rp 500 ribu,” ungkapnya.
Sesuai instruksi dari Pertamina, pos pengaduan di SPBU Sleko menjadi pusat laporan untuk wilayah Kabupaten Tuban. Layanan dibuka hingga Rabu (29/10).
Belum Bisa Pastikan Bentuk Ganti Rugi
Namun soal kompensasi, masyarakat belum bisa bernapas lega. Johan belum dapat memastikan bentuk ganti rugi, bila nantinya terbukti ada kesalahan pada BBM.
“Kami menunggu arahan dari Pertamina, yang jelas aduan ini akan kami teruskan pada pimpinan untuk segera ditindaklanjuti,” tegas dia.
Di luar ruangan, keresahan warga terdengar lantang. Ahmad, warga Kelurahan Sidorejo yang menjadi salah satu pelapor, berharap masalah ini tidak menguap begitu saja tanpa pertanggungjawaban.
“Harusnya ada kompensasi, banyak masyarakat yang dirugikan akibat BBM pertalite ini,” ujar dia saat ditemui selepas keluar dari ruangan pos pengaduan.
Pertamina Tunggu Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Terpisah, Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel pertalite dari Fuel Terminal Tuban.
“Masih menunggu hasilnya keluar setelah ini akan dilakukan pengkajian sebelum mengambil langkah selanjutnya,” tandasnya.
Sementara uji laboratorium masih berjalan, warga berharap kasus ini tak berakhir dengan kalimat klasik: “sedang dievaluasi”.
Sebab, bagi para pemakai motor harian, kerusakan Rp 400–500 ribu itu bukan angka receh. Apalagi bila penyebabnya berasal dari BBM yang dibeli di SPBU resmi.
Publik kini menanti: apakah ada kejelasan kompensasi atau kasus ini akan kembali jadi “drama rutin” tiap kali kualitas BBM dipertanyakan? (*)
Editor : Amin Fauzie