RADARBONANG.ID – Program yang digadang-gadang sebagai penggerak ekonomi kerakyatan di tingkat desa di Kabupaten Tuban, yakni Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), masih jalan di tempat.
Hingga pertengahan Oktober 2025, dari 328 KDMP yang terbentuk, baru 19 koperasi yang benar-benar aktif beroperasi.
“Dari jumlah yang aktif tersebut, sudah ada beberapa KDMP yang mulai melakukan konsultasi dan pengajuan pembiayaan. Masih menunggu respons dari BUMN yang terlibat sebagai calon mitra bisnisnya,” ujar Abdul Afif, Kepala Bidang Koperasi Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (Diskopumdag) Tuban.
Sejak peresmian besar-besaran pada Juli lalu, geliat KDMP tak kunjung menggeliat signifikan. Tidak ada penambahan KDMP aktif sejak akhir September.
309 koperasi lainnya masih ‘mati suri’ alias belum bergerak menjalankan usaha.
Banyak ‘Nunggu Bola’
Beberapa KDMP yang mulai menunjukkan geliat bisnis di antaranya KDMP Punggulrejo, Dagangan, Parengan, dan KKMP Latsari Kecamatan Tuban.
Mereka mulai konsultasi untuk pengajuan pembiayaan dan kemitraan.
Namun, proses ini tak bisa cepat karena tergantung respons BUMN yang menjadi mitra utama dalam program KDMP.
Sementara sebagian besar KDMP lainnya masih tertahan di meja administrasi. Banyak yang baru sebatas mengajukan pembiayaan dan melengkapi syarat.
Pemerintah daerah pun mulai menyalakan alarm percepatan.
“Kami terus mendorong percepatan agar 328 KDMP di Bumi Ronggolawe segera beroperasi dalam dua bulan ke depan,” tegas Afif.
Pendamping ‘Dikerahkan’
Untuk mengejar target itu, Diskopumdag mengerahkan 33 asisten bisnis.
Para pendamping ini akan mengawal koperasi dari nol: mulai dari penyusunan rencana usaha, bimbingan teknis, sampai membantu proses administrasi.
“Pendamping tersebut akan ditugaskan memberikan bimbingan teknis, mendampingi penyusunan rencana usaha, hingga membantu proses administrasi koperasi,” lanjutnya.
Afif mengakui, percepatan operasionalisasi KDMP kini menjadi pekerjaan rumah berat.
“Kami terus berupaya mendorong dan mendampingi setiap KDMP yang belum aktif agar segera menjalankan minimal satu unit usaha,” tandasnya.
Usaha Masih Seragam
Meski belum banyak bergerak, unit usaha KDMP yang telah berjalan relatif homogen. Mayoritas bergerak di sektor penjualan kebutuhan pokok seperti sembako, agen elpiji, serta jasa pembayaran listrik.
“Sejauh ini jumlah dan unit usaha KDMP masih tetap sama seperti sebelumnya,” ujarnya.
Kondisi ini memperlihatkan kontras besar antara ambisi dan realisasi di lapangan. Program KDMP yang semula dijanjikan sebagai mesin ekonomi desa, kini justru terganjal di tahap awal.
Dengan target waktu dua bulan hingga akhir tahun, Pemkab Tuban harus berpacu untuk menyalakan mesin ratusan KDMP yang masih “parkir”.
Jika tidak, program raksasa ini berpotensi hanya menjadi papan nama yang tak pernah benar-benar bergerak. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah