RADARBONANG.ID - Kabupaten Tuban memiliki beragam destinasi wisata yang dikelola oleh pemerintah daerah maupun pihak swasta.
Masing-masing memiliki daya tarik serta karakter pengelolaan yang berbeda.
Namun, perbedaan paling mencolok terlihat dari sisi pendapatan—di mana wisata yang dikelola swasta sering kali mencatat hasil lebih tinggi dibanding destinasi yang berada di bawah pengelolaan pemerintah daerah.
Baca Juga: Mengapa Wisata yang Dikelola Pemerintah Kalah dari Swasta? Ini Penjelasannya
Pantai Boom dan Pantai Kelapa misalnya, keduanya sama-sama menawarkan pesona bahari.
Bedanya, Pantai Boom dikelola oleh pemerintah setempat, sedangkan Pantai Kelapa berada di bawah pengelolaan swasta.
Hal serupa juga terlihat pada Gua Akbar dan Gua Ngerong. Meski keduanya sama-sama mengandalkan keindahan alam bawah tanah, pengelolaan keduanya berbeda.
Begitu pula antara Pemandian Bektiharjo dan wisata air Silowo di Desa Mandirejo, Kecamatan Merakurak, Tuban.
Keduanya sama-sama memanfaatkan potensi sumber mata air alami yang menyegarkan, namun perbedaan mencolok terlihat dari sisi pendapatan.
Pada tahun 2024 lalu, wisata air Silowo berhasil membukukan pendapatan hampir Rp800 juta.
Angka ini dua kali lipat lebih besar dibandingkan Pemandian Bektiharjo yang hanya mengantongi sekitar Rp440 juta dalam periode yang sama.
Ketua Pokdarwis Silowo, Maliki, mengungkapkan bahwa kunci kesuksesan wisata yang dikelola oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis) adalah kecerdasan dalam mengambil peluang.
“Wisata yang dikelola pokdarwis dituntut cerdas dalam mengambil peluang. Sebab, tidak ada modal lain yang bisa diandalkan kecuali mencari sendiri. Beda dengan wisata yang dikelola pemerintah daerah, yang pendanaan operasionalnya ditanggung oleh APBD,” ujarnya.
Inovasi menjadi kata kunci bagi Silowo untuk bertahan dan terus menarik pengunjung.
Maliki menambahkan, “Kuncinya (dalam mengelola wisata, Red) harus terus berinovasi. Ketika dulu (wisata Silowo, Red) banyak diminati karena fasilitas perahu kano, kini ditambah beberapa tempat baru, seperti kolam renang anak dan pemandian dengan pancuran. Tidak kalah penting sebagai penunjang, juga menyiapkan spot foto baru agar pengunjung bisa tetap berfoto.”
Namun, tahun 2025 menjadi masa yang cukup menantang bagi sektor pariwisata lokal.
Menurut Maliki, jumlah kunjungan wisata mengalami penurunan tajam hampir di semua tempat wisata, termasuk di Silowo.
“Tahun lalu, jumlah pengunjung saat akhir pekan bisa ratusan. Sekarang, bisa tembus 200 pengunjung saja alhamdulillah,” bebernya.
Penurunan ini tentu berdampak langsung pada pendapatan.
Dengan jumlah wisatawan yang menurun hingga 50 persen, target pendapatan tahun 2025 pun sulit tercapai.
“Tapi target kami tetap Rp800 juta dalam setahun, semoga bisa,” tandas Maliki penuh harap.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Tuban, Muhammad Emawan Putra, menjelaskan bahwa pengembangan Pemandian Bektiharjo memiliki tantangan tersendiri.
“Berbeda dengan wisata Pantai Boom dan Gua Akbar yang dokumen kepemilikan lahannya jelas dimiliki pemkab, Pemandian Bektiharjo masih belum jelas statusnya. Faktor inilah yang menjadi dilema bagi kami untuk melakukan perbaikan atau semacamnya,” keluhnya.
Emawan juga menegaskan bahwa meski pendapatan wisata yang dikelola pemerintah daerah kalah jauh dibandingkan yang dikelola swasta atau pokdarwis, pencapaian target tetap berjalan baik.
“Kendati pendapatan dari ketiga wisata yang dikelola Pemkab Tuban kalah jauh dibanding wisata swasta atau yang dikelola pokdarwis, namun setiap tahun selalu mencapai target. Alhamdulillah masih selalu mencapai target,” tandasnya.
Dari perbandingan ini, tampak jelas bahwa kemandirian dan inovasi menjadi faktor pembeda antara wisata yang dikelola oleh pemerintah dan yang dikelola oleh masyarakat.
Di tengah keterbatasan, Pokdarwis Silowo berhasil membuktikan bahwa kreativitas bisa menjadi modal utama dalam menggerakkan ekonomi wisata daerah. (*)
Editor : Amin Fauzie