RADARBONANG.ID - Kabupaten Tuban memang dikenal kaya akan destinasi wisata alam yang memikat.
Di antara sekian banyak objek wisata yang tersebar di berbagai wilayah, dua nama gua menjadi ikon keindahan bawah tanah Bumi Wali—yakni Gua Akbar dan Gua Ngerong.
Keduanya sama-sama menjual pesona stalaktit dan stalakmit alami, namun dalam hal pendapatan, Gua Ngerong tampak lebih unggul.
Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Tuban, pada tahun 2024 lalu Gua Ngerong berhasil mencatat 35 ribu pengunjung.
Dengan harga tiket masuk Rp7.000 per orang, total pendapatan yang diperoleh mencapai sekitar Rp245 juta.
Sebaliknya, Gua Akbar yang terletak di pusat kota Tuban hanya dikunjungi sekitar 23 ribu wisatawan sepanjang tahun yang sama.
Dengan tiket masuk Rp8.000 per orang, total Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dihasilkan sekitar Rp184 juta—atau hanya sekitar 75 persen dari pendapatan Gua Ngerong.
Sementara itu, hingga September 2025, tren serupa masih terlihat.
Gua Ngerong sudah mencatat kunjungan sekitar 20 ribu wisatawan, sedangkan Gua Akbar baru mencapai 17 ribu pengunjung.
Daya Tarik Alami dan Sakral Gua Ngerong
Pengelola Gua Ngerong, Arif Marianto, menjelaskan bahwa destinasi yang terletak di Desa Rengel, Kecamatan Rengel itu sudah dibuka sebagai tempat wisata sejak era 1990-an.
Keunikan yang tetap dipertahankan hingga kini adalah ekosistem alaminya yang langka.
“Penyegaran (renovasi fasilitas, Red) pada objek wisata ini pastinya selalu dilakukan, hanya saja kami bersama warga desa telah bersepakat bersama-sama untuk menjaga warisan ekosistem dan sejarah yang ada di Gua Ngerong,” ujar Arif.
Salah satu ciri khas yang menjadi daya tarik utama adalah keberadaan sumber mata air alami dari pegunungan kapur serta dua penghuni sakralnya: ikan keramat dan ribuan kelelawar yang menggantung di langit-langit gua.
Kedua elemen alami ini dipercaya memiliki nilai spiritual tinggi oleh warga setempat, sehingga kawasan tersebut juga dianggap memiliki nilai kesakralan dan kearifan lokal.
Ramai di Musim Liburan
Menurut Arif, puncak kunjungan wisatawan biasanya terjadi saat libur panjang, seperti Tahun Baru, Lebaran, dan musim libur sekolah.
“Omset meningkat mulai 50–80 persen setiap kali momen liburan tiba, bahkan biasanya kami mengerahkan tenaga tambahan,” bebernya.
Selain menjadi tempat wisata alam, Gua Ngerong juga kerap dijadikan lokasi kirab budaya atau acara adat, seperti saat peringatan Hari Jadi Desa Rengel.
Momen tersebut menjadi daya tarik tambahan yang menggabungkan wisata alam dengan nilai budaya lokal.
Konsisten Ungguli Gua Akbar
Meskipun tidak seramai destinasi pantai di Tuban, Gua Ngerong tetap mampu mempertahankan pendapatan yang stabil.
Wisata yang dikelola oleh pemerintah desa ini bahkan secara konsisten mencatat hasil lebih baik dibanding Gua Akbar yang dikelola oleh Pemkab Tuban.
Konsistensi pengelolaan, keterlibatan masyarakat, serta pelestarian nilai-nilai lokal menjadi kunci keberhasilan Gua Ngerong.
Dari sini, bisa dipetik pelajaran bahwa keberhasilan wisata bukan semata diukur dari lokasi atau anggaran besar, melainkan dari komitmen pengelolaan dan partisipasi warga setempat. (*)
Editor : Amin Fauzie