RADARBONANG.ID - Kabupaten Tuban dikenal memiliki banyak potensi wisata yang luar biasa, baik yang dikelola pemerintah daerah maupun pihak swasta.
Namun, satu pertanyaan klasik masih sering muncul: mengapa tempat wisata milik Pemkab sering kali kalah pamor dan pendapatan dibanding destinasi yang dikelola swasta atau perorangan?
Contoh nyatanya terlihat dari tiga destinasi utama yang menjadi andalan pendapatan asli daerah (PAD) Tuban, yakni Pantai Boom, Gua Akbar, dan Pemandian Bektiharjo.
Tahun 2025 ini, total PAD dari ketiganya ditarget mencapai Rp 1,15 miliar, dengan rincian Pantai Boom sebesar Rp 450 juta, Pemandian Bektiharjo Rp 440 juta, dan Gua Akbar Rp 260 juta.
Namun, jika dibandingkan dengan wisata swasta seperti Pantai Kelapa di Kecamatan Palang, angka tersebut terlihat sangat timpang.
Padahal, secara potensi alam, keduanya sama-sama menawarkan keindahan bahari.
Bahkan, Pantai Boom sebenarnya jauh lebih dulu dikembangkan sebagai destinasi wisata dibanding Pantai Kelapa yang dulunya hanyalah pantai biasa penuh sampah dan rerimbunan pohon kelapa.
Setelah dikelola secara profesional oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) pada 2017 dan resmi dibuka pada Februari 2018, Pantai Kelapa berubah drastis.
Dalam waktu singkat, kawasan itu menjelma menjadi salah satu wisata bahari paling ramai dikunjungi di Tuban.
Kini, rata-rata pendapatan Pantai Kelapa mencapai Rp 600 juta per bulan atau sekitar Rp 7,2 miliar per tahun—jauh melampaui target PAD Pantai Boom.
Lantas, apa yang membuat hasil pengelolaan wisata pemerintah daerah dan swasta bisa berbeda sejauh itu?
Kepala Disbudporapar Tuban M. Emawan Putra mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama minimnya pengunjung di wisata Pemkab adalah persoalan kebersihan dan fasilitas penunjang.
“Salah satu faktor utamanya adalah tingkat kebersihan dan kelayakan fasilitas penunjang untuk wisatawan,” ujarnya.
Dia mencontohkan kondisi Pantai Boom yang masih banyak dipenuhi sampah di bibir pantainya, serta puing-puing bangunan Pasar Sore yang merusak keindahan panorama.
Meski sudah ada rencana penataan ulang, konsep integrasi wisata tersebut masih sebatas wacana.
“Secara perlahan akan mengintegrasikan destinasi strategis seperti Pasar Sore, Pantai Boom, Alun-Alun Tuban, dan Wisata Religi Sunan Bonang,” jelas Emawan.
Sementara itu, Ketua Pokdarwis Pantai Kelapa Muhasan mengatakan, meski jumlah kunjungan sempat menurun, pendapatan harian Pantai Kelapa masih stabil di kisaran Rp 18–20 juta per hari.
“Sebelumnya kalau ramai bisa mencapai Rp 30 juta saat akhir pekan, tapi sekarang hanya setengahnya saja,” tuturnya.
Pendapatan itu digunakan untuk membayar gaji 120 karyawan, biaya operasional, pemeliharaan sarana, hingga dana CSR untuk masyarakat sekitar.
Menariknya, letak Pantai Kelapa yang dekat dengan kawasan religi seperti Makam Sunan Bonang dan Asmoroqondi juga menjadi faktor penting yang mendatangkan rombongan wisatawan dari berbagai daerah.
Muhasan menegaskan bahwa kunci keberhasilan pengelolaan Pantai Kelapa terletak pada konsep Sapta Pesona: menjaga kebersihan, kenyamanan, keamanan, dan keramahan bagi pengunjung.
“Kalau wisatawan nyaman, mereka akan terkenang dan ingin datang lagi. Karena itu, kami berusaha menjaga kebersihan, keamanan, dan fasilitas agar tetap baik,” tegasnya.
Dari perbandingan tersebut, terlihat bahwa kunci utama keberhasilan sebuah destinasi wisata bukan semata pada besar kecilnya anggaran, tetapi pada komitmen pengelolaan yang profesional, kebersihan lingkungan, dan kenyamanan pengunjung.
Dua pantai di Tuban ini menjadi cermin nyata: potensi yang sama bisa menghasilkan hasil yang berbeda, tergantung pada siapa dan bagaimana dikelola. (*)
Editor : Amin Fauzie