RADARBONANG.ID – Suasana Alun-Alun Tuban kembali ramai oleh ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang memilih turun ke lapangan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah daerah.
Aksi ini bukan tanpa alasan. Mereka menuntut kejelasan nasib yang hingga kini tak kunjung mendapat respons pasti dari Pemkab Tuban.
Selama dua hari berturut-turut, Sabtu (11/10) dan Minggu (12/10), para PKL memadati kawasan alun-alun, membuka lapak seadanya, dan menegaskan sikap: kembali berjualan di tempat lama mereka sebelum direlokasi.
Ketua PC PMII Tuban, Ahmad Wafa Amrillah, yang juga menjadi bagian dari tim advokasi, menyebut aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah daerah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil.
“Yang diharapkan teman-teman PKL ini hanya solusi dari pemerintah daerah, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan. Seakan nasib mereka tidak begitu penting. Padahal, mereka memiliki anggota keluarga yang harus dihidupi dari berjualan,” tegas Wafa.
Menurut Wafa, relokasi yang diberlakukan Pemkab Tuban justru membuat banyak pedagang kehilangan pelanggan karena lokasi baru sepi pengunjung.
Sementara kebutuhan hidup tidak bisa ditunda. Ia menilai, kebijakan yang diterapkan seolah tanpa perencanaan matang dan tidak memberi solusi yang realistis bagi para PKL.
“Keinginan teman-teman PKL ini sangat sederhana, mereka hanya ingin dimanusiakan, dianggap ada—sebagai manusia yang sama-sama harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara kebijakan relokasi tanpa perencanaan yang matang, itu bukan solusi,” tandasnya.
Dia juga menegaskan bahwa aksi protes ini akan terus berlanjut hingga pemerintah daerah memberikan kejelasan dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat kecil.
Wafa berharap Pemkab Tuban segera turun tangan untuk mencari solusi terbaik agar situasi tidak semakin memanas.
“Semoga semua berakhir dengan baik,” pungkasnya.
Dengan tekanan ekonomi yang makin berat, para PKL berharap kebijakan yang diambil pemerintah bukan sekadar formalitas, melainkan benar-benar berpihak pada mereka yang menggantungkan hidup dari lapak-lapak kecil di jantung kota. (*)
Editor : Amin Fauzie