RADARBONANG.ID - Meluasnya kasus keracunan makanan bergizi gratis (MBG) membuat banyak orang tua dan wali murid merasa cemas, tak terkecuali di Tuban.
Mereka berharap program pemerintah ini dievaluasi terlebih dahulu sebelum kembali dilanjutkan.
Di lembaga pendidikan Ash-Shomadiyah Tuban, hasil sosialisasi menunjukkan hampir separuh wali murid merasa khawatir anak-anak mereka bisa menjadi korban keracunan.
Kekhawatiran itu muncul setelah maraknya kasus keracunan siswa di beberapa daerah akibat menu makanan yang disuplai dari dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).
“Pekan lalu, kami menyosialisasikan sekaligus mengabarkan kepada para wali murid—bahwa mulai pekan ini akan menerima program MBG. Berdasarkan hasil sosialisasi—setelah melihat banyaknya siswa yang mengalami keracunan, orang tua siswa berharap program ini dievaluasi terlebih dahulu,” ujar Pengasuh Ponpes Ash-Shomadiyah Tuban, Riza Shalihuddin Habibie, Senin (29/9).
Gus Riza menjelaskan, ada sekitar 300 siswa calon penerima MBG dari jenjang MI, MTs, dan MA di Ash-Shomadiyah.
Namun, pada hari pertama penyaluran, makanan yang dijanjikan tak kunjung datang.
“Anak-anak sudah menunggu, bahkan ada yang sudah membawa sendok dan peralatan makan dari rumah, malahan pihak SPPG melakukan pembatalan penyaluran melalui pesan singkat,” bebernya.
Dia juga mengaku tidak mengetahui SPPG mana yang bertanggung jawab, sebab selama ini tidak ada koordinasi dengan pihak sekolah.
“Kesannya mendadak semua dan tanpa ada koordinasi,” jelasnya.
Menurutnya, idealnya pihak SPPG berkoordinasi lebih dulu dengan sekolah dan melakukan sosialisasi ke wali murid agar mereka yakin bahwa makanan yang diterima anak-anak aman dan bergizi sesuai standar.
Dia menilai pelaksanaan MBG terkesan terburu-buru.
“Saya pikir, program MBG ini terburu-buru. Kesannya hanya memperluas sasaran penerima MBG saja. Padahal, kasus keracunan di banyak daerah, termasuk di Tuban sendiri—di SMKN Palang, hasil penyelidikannya seperti apa juga belum tuntas? Harusnya, fokus melakukan evaluasi terlebih dahulu. Apalagi banyak orang tua yang trauma,” tegasnya.
Meski demikian, Gus Riza menegaskan pihaknya tetap menerima program MBG dengan catatan khusus untuk menjaga keamanan siswa.
Dia menyebut ada tiga tahapan tester yang perlu dilakukan: quality control di tingkat SPPG, pengawasan saat distribusi, serta pengecekan ulang sebelum makanan dikonsumsi siswa.
“Setidaknya untuk mengantisipasi adanya siswa yang keracunan, kami menyiapkan tiga tahapan tester. Dimulai quality control di tingkat SPPG, kemudian waktu pengirimannya juga dikontrol, dan sebelum dikonsumsi anak-anak juga harus dipastikan lagi kelayakannya,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa sekolah harus benar-benar dilibatkan dalam program ini, mulai dari mengetahui siapa penanggung jawab SPPG hingga bagaimana standar quality control diterapkan.
“Kami (pihak sekolah, Red) juga harus tahu, SPPG mana yang bertanggung jawab, siapa kepala SPPG-nya, hingga quality control seperti apa, pihak sekolah harus benar-benar dilibatkan. Jangan tiba-tiba langsung dikirim begitu saja,” tandasnya. (*)
Editor : Amin Fauzie