RADARBONANG.ID - Hidup segan, mati tak mau. Ungkapan itu kini melekat pada kondisi Terminal Tipe C Jatirogo, Tuban.
Bangunan yang berdiri sejak 1996 itu kian memprihatinkan.
Cat kusam, tembok retak, hingga atap yang runtuh menjadi pemandangan sehari-hari.
Lebih miris lagi, hampir tak ada angkutan umum yang bersedia masuk ke terminal yang berlokasi di Desa Sadang, Kecamatan Jatirogo, tersebut.
Saat wartawan menunggu hampir dua jam pada Rabu (24/9), tak satu pun kendaraan umum terlihat menurunkan atau menaikkan penumpang di dalam terminal.
Justru, angkutan lebih memilih berhenti di tepi jalan raya depan terminal.
Kepala UPTD Terminal Tipe C Jatirogo, Karnoto, tak menampik fakta ini.
Menurutnya, penumpang sudah enggan masuk ke terminal dan lebih nyaman menunggu di pinggir jalan.
“Lokasi terminal ini sudah tidak strategis, bahkan penumpang sudah ogah untuk masuk terminal,” ujarnya.
Perubahan perilaku masyarakat yang kini banyak menggunakan transportasi pribadi juga membuat fungsi terminal meredup.
“Kalau pun ada yang masih menggunakan transportasi umum, biasanya menunggu di pinggir jalan, tidak sampai masuk ke terminal,” tambahnya.
Kondisi ini memaksa petugas terminal melakukan monitoring kendaraan di jalan raya, bukan di dalam terminal, yang jelas jauh dari efisiensi.
Padahal, pada masa jayanya setelah beroperasi tahun 1996, Terminal Jatirogo pernah melayani hingga 50 bus per hari dengan empat trayek aktif.
Kini sepi, hanya tersisa satu trayek, yakni Jatirogo–Bojonegoro, dengan rata-rata delapan bus per hari.
Tren penurunan angkutan umum terjadi sejak 2005, membuat fungsi terminal makin tergerus.
Tahun 2023 menjadi periode terakhir terminal ini masih menarik retribusi Rp 1.500 per kendaraan.
Saat itu target PAD Rp 15 juta per tahun hanya tercapai 70 persen.
Sejak 2024, retribusi dihentikan. Kini, hanya Bus Si Mas Ganteng, layanan gratis dari Pemkab Tuban, yang masih terlihat bersandar dengan trayek Jatirogo–Bancar dan Jatirogo–Singgahan.
Soal masa depan terminal, Karnoto menilai perlu langkah berani, termasuk pemindahan lokasi ke titik yang lebih strategis.
Dia juga mengungkap hambatan status Terminal Jatirogo yang masih bertipe C, sehingga bus antarkota tidak bisa masuk.
“Status kepemilikan tanah Terminal Jatirogo menjadi pengganjal terminal ini mendapatkan predikat sebagai terminal tipe B, hingga saat ini status kepemilikan tanah masih dimiliki pemerintah desa setempat,” jelasnya.
Dengan segala keterbatasan itu, Terminal Jatirogo kini hanya menyisakan cerita masa lalu.
Keberadaannya pun berada di persimpangan: direvitalisasi agar kembali hidup atau dibiarkan perlahan menghilang dari fungsi aslinya. (*)
Editor : Amin Fauzie