RADARBONANG.ID - Tuban kembali melahirkan kabar membanggakan. Muhammad Dawam Multazam Rahmatullah, remaja asal Desa Tanggir, Kecamatan Singgahan, berhasil mencatat sejarah dengan lolos sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, di usia yang masih sangat muda—baru 15 tahun.
Santri Pondok Pesantren Mumtaza Banjarnegara itu kini masih duduk di kelas 9 SMP.
Meski begitu, kemampuannya di bidang akademik, terutama bahasa Arab dan hafalan Alquran, membuatnya sukses menembus seleksi ketat di salah satu kampus Islam paling bergengsi di dunia.
Dawam mengaku sempat kaget ketika ustadznya menyarankan ikut seleksi ke Al-Azhar.
“Awalnya kaget ketika ustad saya menyarankan untuk ikut seleksi menjadi mahasiswa di Al-Azhar karena saya masih SMP. Ada 7 anak lain yang juga ditawari ke Al-Azhar, tapi mereka semua senior saya,” ujarnya dengan nada bangga.
Seleksi yang dilalui Dawam bukan perkara mudah. Dia harus mengikuti ujian tahdid mustawa atau tes bahasa Arab, hingga penyetaraan ijazah (hadatsah muadalah).
Hasilnya, Dawam meraih nilai mutaqodim awal atau level 5 dari 6 tingkatan.
“Kalau yang 6 itu benar-benar sudah profesional,” katanya.
Tak hanya itu, Dawam juga menjalani karantina selama 30 hari dengan bimbingan syekh Al-Azhar melalui Zoom.
Rutinitas belajarnya sangat padat: pagi hingga sore belajar kitab, malam menghafal Alquran hingga pukul 10 malam, dan dini hari pukul 03.00 melanjutkan hafalan.
“Di Al-Azhar, syarat utamanya bukan umur, tapi kemampuan siswanya,” jelas anak ketiga dari lima bersaudara itu.
Lolos Bersama Ribuan Peserta
Persaingan untuk masuk Al-Azhar sangat ketat. Dawam harus bersaing dengan 350 peserta dari Afwaja Center, konsultan pendidikan Indonesia ke Timur Tengah.
Jika dihitung secara nasional, jumlah pesertanya mencapai ribuan.
“Alhamdulillah dari pesantren saya, semuanya lolos ke Mesir,” katanya penuh syukur.
Meski masih sangat muda, Dawam tak merasa minder.
“Hanya deg-degan saat ujian. Takut tidak maksimal. Tapi alhamdulillah lancar,” ujarnya lega.
Karena usianya belum genap 17 tahun, Dawam belum memiliki KTP.
Untuk mengurus visa dan paspor, ia menggunakan Kartu Identitas Anak (KIA) serta penyetaraan ijazah SMA.
Rencananya, ia akan berangkat ke Mesir pada 24 September 2025.
“Tekad, doa, dan dukungan keluarga menjadi bekal saya. Insyaallah saya siap menapaki perjalanan baru di negeri para ulama,” ucap Dawam optimistis.
Sementara itu, sang ibunda, Lina Nuryati, mengaku bangga sekaligus khawatir melepas anaknya yang masih belia ke luar negeri.
“Saat pihak pesantren memberikan informasi jika Dawam bisa melanjutkan pendidikan ke Mesir, kami sebenarnya khawatir, karena dia kan masih belum memiliki KTP dan masih di bawah umur. Tapi setelah diberi pengertian dengan pihak pesantren, insyaallah kami ikhlas,” katanya.
Meski bangga, Lina mengakui masih ada kendala biaya.
“Sejujurnya kami masih mencari biaya untuk Dawam berangkat ke Mesir. Tapi untuk anak, apa pun kami akan usahakan meski kami hanya petani,” tuturnya dengan penuh haru. (*)
Editor : Amin Fauzie