RADARBONANG.ID - Meskipun beberapa wilayah Tuban mulai diguyur hujan bahkan ada yang mengalami banjir, sejumlah desa masih menghadapi kekeringan ringan.
Dari laporan terbaru, sedikitnya dua desa telah mengajukan permintaan bantuan air bersih, yaitu Desa Ngandong di Kecamatan Grabagan dan Desa Bader di Kecamatan Jatirogo.
“Sementara ini baru dua desa tersebut yang mengajukan permintaan dropping air bersih,” ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Sudarmaji, kepada Jawa Pos Radar Bonang, Minggu (14/9).
Darmaji menambahkan, proses dropping air rutin dilaksanakan sejak Selasa (9/9) dengan mengerahkan dua truk tangki setiap hari.
Distribusi dilakukan secara bergantian di dua lokasi darurat tersebut.
Meski permintaan tahun ini lebih sedikit dibanding musim kemarau sebelumnya, BPBD tetap memantau potensi kekeringan.
“Tahun ini merupakan musim kemarau basah, jadi tidak semua desa mengalami krisis air,” tegas mantan Camat Plumpang itu.
Tahun lalu, tercatat 46 desa di 14 kecamatan masuk kategori rawan kekeringan, meningkat signifikan dibanding 2023 yang hanya 14 desa di 7 kecamatan.
BPBD Tuban juga menyiapkan langkah antisipatif, termasuk pemetaan ulang wilayah rawan kekeringan dan koordinasi dengan pemerintah desa serta kecamatan untuk memastikan laporan cepat jika terjadi krisis air.
“Kami selalu melakukan koordinasi lintas sektor, agar distribusi air bisa langsung dilakukan jika ada laporan dari desa,” jelasnya.
Selain itu, BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap menghemat penggunaan air bersih, terutama di wilayah perbukitan dengan sumber air terbatas.
“Armada tambahan selalu kami siagakan jika nantinya permintaan meningkat,” pungkas Sudarmaji. (*)