RADARBONANG – Dari sebuah rumah sederhana di Dusun Ngasinan, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, aroma tanah basah menyambut setiap langkah yang datang.
Di sanalah Mbah Rasimah, perempuan sepuh yang akrab disebut sebagai pengrajin ampo terakhir di Tuban, masih setia mengabdikan hidupnya untuk melestarikan camilan tradisional berbahan tanah liat itu.
Dengan tangan terampil, ia menyerut balok tanah liat hitam—bukan tanah liat cokelat biasa—menjadi gulungan ampo yang telah mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb).
Meski usianya senja, Mbah Rasimah tetap produktif.
Semua proses, mulai dari memilih tanah terbaik, membersihkan secara manual, membentuk, hingga menjemur di bawah terik matahari, masih ia lakukan dengan telaten.
“Tanahnya khusus, bukan tanah liat yang berwarna coklat. Ini tanah liat hitam. Diambil dari tanah sawah yang bagian dalam,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bonang, Selasa (9/9).
Dari Tradisi ke Wisata Budaya
Kini, rumah produksi sederhana itu bukan hanya tempat membuat ampo, tetapi juga menjadi destinasi wisata budaya.
Hampir setiap pekan, rombongan pelajar datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan langsung proses pembuatannya.
Bahkan, turis mancanegara pun pernah singgah.
“Turis mancanegara pun turut singgah kemari beberapa waktu lalu, mencoba menyerut dan mencicipi ampo. Tampaknya setelah diakui sebagai warisan budaya tak benda, jadi semakin banyak yang datang kemari,” lanjutnya.
Ampo Makanan Tradisional Khas Tuban yang Menembus Pasar Modern
Jika dulu ampo hanya dijual di pasar tradisional, kini gulungan tanah liat khas Bumi Ronggolawe itu sudah merambah pasar modern.
Melalui anak, cucu, serta kerabat, Mbah Rasimah memanfaatkan media sosial dan marketplace sebagai jembatan pemasaran.
Produk yang awalnya terbatas di Tuban kini sudah dikirim hingga Kalimantan, Bali, dan Sumatera.
“Biasanya, mengirim ke pasar sampai 40 kilogram setiap minggu, jika ditambah dengan pengiriman secara online bisa lebih. (Pemasaran, Red) sekarang lebih mudah, tinggal pesan melalui online nanti kami kirimkan,” tutur nenek dengan kulit yang mulai keriput itu.
Produksi Meningkat, Harga Terjangkau
Seiring meningkatnya permintaan, produksi ampo pun kian berkembang. Bila dulu hanya dibuat dalam jumlah kecil, kini Mbah Rasimah dibantu anak-anaknya mampu menghasilkan lebih banyak gulungan ampo.
Harga jualnya pun terjangkau, Rp10 ribu per kilogram ke tengkulak, atau mulai Rp11 ribu bila dibeli lewat platform online.
“Sekarang banyak juga kota-kota yang memproduksi ampo, tapi memang yang lebih dikenal itu ampo Tuban. Alhamdulillah kami bisa bersaing dengan daerah-daerah lain,” ungkap generasi kelima pengrajin ampo itu.
Perjalanan panjang Mbah Rasimah menjaga tradisi menderes tanah liat menjadi bukti bahwa warisan budaya bisa tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Ampo yang dulu hanya dikenal di sudut desa kini telah menjelma menjadi identitas kuliner Tuban yang mendunia. (*)