RADARBONANG.ID – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto, di Kecamatan Tambakboyo, Tuban, tengah jadi sorotan tajam.
Bukan tanpa sebab, kasus temuan belatung dalam menu makanan pada hari pertama pelaksanaan, Senin (14/7), telah memicu keresahan yang meluas di kalangan siswa dan orang tua.
Temuan yang viral tersebut menimbulkan kecurigaan publik akan potensi adanya ketidakberesan dalam pengelolaan MBG, terutama karena distribusinya dinilai sangat eksklusif dan minim transparansi.
Seorang siswa SMKN Tambakboyo berinisial AR mengungkapkan kepada wartawan bahwa sejak insiden tersebut, dirinya tidak berani lagi menyentuh kotak makanan MBG yang disajikan dalam wadah stainless.
Siswa tersebut bahkan menyebut, banyak teman-temannya memilih langsung membuang makanan itu. Menurutnya, trauma akibat melihat belatung masih melekat kuat.
"Menjijikan," ujarnya sambil menyebut kondisi itu membuatnya mual hanya dengan melihat makanan—fenomena yang dalam budaya Jawa dikenal sebagai mbunek-mbunek.
Sentimen serupa juga diungkapkan oleh MM, siswa SMAN Tambakboyo.
Dia mengaku sempat kehilangan nafsu makan sehari setelah kejadian.
"Kalau kemarin sempat mual, hari ini sudah mendingan, tapi tetap masih was-was," keluhnya.
Trauma para siswa ini hanyalah puncak gunung es. Camat Tambakboyo, Ari Wibowo Waspodo, menegaskan bahwa sebagian besar keluhan justru disampaikan siswa kepada orang tua mereka.
Akibatnya, banyak wali murid yang cemas dan mempertanyakan kelayakan menu yang diberikan kepada anak-anaknya.
Tak tinggal diam, Wakil Ketua DPRD Tuban, Lutfi Firmansyah, menyebut insiden tersebut sebagai bentuk kegagalan serius dalam implementasi program prioritas nasional.
Menurutnya, hal ini tidak boleh dianggap sepele dan perlu evaluasi menyeluruh.
Dia menegaskan bahwa SPPG sebagai mitra Badan Gizi Nasional (BGN) harus bekerja secara profesional, dengan memastikan bahan makanan segar dan sesuai SOP.
“SPPG harus menjamin makanan layak konsumsi dan memenuhi gizi harian siswa-siswi,” tegas politisi yang juga Ketua DPC Gerindra Tuban itu.
Dia juga mengingatkan agar para pengelola tidak hanya mengejar keuntungan semata, namun mengutamakan misi program—yakni memenuhi asupan gizi para pelajar.
Dinas Pendidikan Tuban pun menanggapi serius kasus ini.
Kepala Disdik Tuban, Abdul Rakhmat, mengaku akan segera mengevaluasi pelaksanaan program MBG, terutama terkait peran dan tanggung jawab pihak SPPG.
Dia menyebut, sejauh ini belum ada laporan lanjutan dari penyedia makanan sejak pelaksanaan dimulai.
“Kami tidak akan menunggu lama. Koordinasi lintas sektor akan segera dilakukan agar penyebab permasalahan ini segera terungkap,” tegasnya.
Dia juga memastikan pihaknya akan melayangkan komplain resmi kepada SPPG sebagai penyedia menu MBG.
“Kami akan beri peringatan keras kepada SPPG agar lebih berhati-hati, terutama dalam persiapan makanan bergizi untuk siswa. Jangan sampai kejadian serupa terulang, baik di Tambakboyo maupun di tempat lain,” pungkas Rakhmat.
Program MBG yang sejatinya bertujuan mulia—meningkatkan gizi anak-anak sekolah—terancam kehilangan kepercayaan publik jika insiden seperti ini tak segera ditangani.
Tak hanya mencederai nama baik program, temuan belatung di makanan juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan psikologis siswa.
Masyarakat kini menanti langkah tegas dari pihak berwenang, baik dari DPRD, Disdik, maupun pengelola MBG.
Akankah program yang digadang-gadang mampu menciptakan generasi sehat dan cerdas ini kembali mendapatkan kepercayaan, atau justru tenggelam oleh isu-isu pengelolaan yang lalai? (*)
Editor : Amin Fauzie