RADARBONANG.ID – Bumi Wali kembali diselimuti duka mendalam. Rabu malam (9/8) sekitar pukul 23.00, KH Kholilurrohman, Mustasyar PCNU Tuban masa khidmat 2022–2028, wafat setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Tuban.
Kiai karismatik yang akrab disapa Mbah Kholil ini dikenal sebagai sosok panutan yang senantiasa memberikan nasihat meneduhkan bagi para kader Nahdlatul Ulama di Kabupaten Tuban.
Jenazah beliau dimakamkan di kompleks Makam Sunan Bonang, Kamis siang (10/8) sekitar pukul 12.00, bertepatan dengan puncak peringatan Haul ke-516 Sunan Bonang.
Ribuan petakziah dari berbagai kalangan mengiringi kepergian beliau ke peristirahatan terakhir.
Kehadiran para pelayat menggambarkan betapa besar cinta masyarakat kepada ulama yang selalu menghadirkan kesejukan dalam setiap nasihatnya itu.
Amrullah Ali Moebin, mantan Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNU) Tuban, mengenang almarhum sebagai sosok yang kehadirannya sangat dinanti dalam setiap pertemuan NU.
"Meski sudah sepuh, Kiai Kholil selalu terlihat semangat saat memberikan wejangan di depan para pengurus NU," kenangnya.
Gus Aam—sapaan akrab Amrullah—menyampaikan, Mbah Kholil senantiasa mengingatkan bahwa NU adalah organisasi yang mengemban risalah rahmatan lil alamin.
Kehadiran NU di manapun harus membawa manfaat nyata bagi masyarakat.
"Termasuk dalam hal menjaga keutuhan NKRI, Kiai Kholil juga selalu mengingatkan itu. Beliau selalu ngendikan bahwa NU memiliki andil besar dalam berdirinya NKRI. Untuk itu, NKRI ini harus selalu dijaga," ungkapnya.
Dalam setiap momentum politik seperti pemilu, Kiai Kholil juga tak henti berpesan kepada kader NU untuk menjaga ukhuwah dan menghindari perpecahan.
“Saya ingat betul pesan ini, beliau ngendikan: NU harus solid dan kuat dalam menghadapi situasi yang bersifat pragmatis. Kepentingan ummat harus dikedepankan dan menjadi prioritas dari kepentingan yang bersifat individual,” ujar Gus Aam.
Dikutip dari Tabloid Nusa, Abdul Rozak, pengasuh Pondok Pesantren Kalijogo Semanding, menyampaikan bahwa KH Kholil adalah sosok yang hidupnya benar-benar diwakafkan untuk jam’iyah NU.
“Yang menarik dari beliau, meski termasuk ulama besar, tapi selalu tidak mau dipublikasikan,” tuturnya.
Menurutnya, Mbah Kholil adalah pribadi sederhana, ramah, dan bijaksana.
“Beliau kiai yang sangat sederhana. Dan keilmuannya juga sangat luas, baik ilmu agama maupun pengetahuan formalnya,” tandasnya.
Kepergian KH Kholilurrohman meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Tuban dan Nahdliyin.
Namun, jejak perjuangan dan keteladanan beliau akan terus menjadi pelita bagi generasi penerus.
Semoga Allah SWT menempatkan beliau di sisi terbaik-Nya. Aamiin. (*)
Editor : Amin Fauzie