RADARTUBAN.ID – Peringatan haul ke-516 Sunan Bonang mencapai puncaknya pada Kamis malam (10/7), dengan ribuan umat muslim dari berbagai penjuru daerah memadati kawasan pusat kota Tuban.
Acara yang berlangsung sejak pagi hari ini diawali dengan Tahlil Akbar di cungkup makam Sunan Bonang, dilanjutkan dengan pengajian umum pada malam harinya.
Untuk pertama kalinya sejak revitalisasi Alun-Alun Tuban rampung akhir 2023 lalu, panggung pengajian haul kembali digelar di tengah-tengah alun-alun.
Sebelumnya, kegiatan ini dipindahkan ke Jalan RA Kartini karena keterbatasan ruang.
Sejumlah tokoh penting hadir dalam tahlil akbar tersebut, termasuk Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, jajaran Forkopimda, serta pimpinan OPD Pemkab Tuban.
Yang menarik, Bupati Tuban periode 2011–2021, Fathul Huda, juga tampak hadir.
Ini menjadi momen bersejarah, karena untuk pertama kalinya sejak pelantikan periode keduanya, Mas Lindra dan Kiai Huda kembali duduk berdampingan dalam satu majelis haul.
Keduanya tampak akrab, duduk bersama Wakil Bupati Joko Sarwono, kiai, dan tokoh masyarakat lainnya.
Sebagaimana tradisi, haul Sunan Bonang turut dihadiri para pemangku makam para Wali Songo dan wali-wali lainnya dari berbagai daerah.
Mereka tergabung dalam Paguyuban Pemangku Makam Aulia (PPMA).
Beberapa di antaranya berasal dari makam Sunan Ampel Surabaya, Sunan Giri Gresik, Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Kalijaga Kadilangu, Sunan Muria, Sunan Gunungjati Cirebon, Sunan Kudus, hingga makam Fatahilah dan Raden Fatah Demak.
Pemangku makam Asmoroqondi dan Sunan Bonang sendiri bertindak sebagai tuan rumah dalam acara ini.
Arus peziarah membanjiri Tuban sejak malam hari hingga menjelang subuh.
Mereka datang dari berbagai kota, baik menggunakan mobil pribadi, kendaraan umum, hingga sepeda motor.
Antusiasme tersebut mencerminkan tingginya kecintaan umat terhadap sosok Sunan Bonang.
Usai mengikuti tahlil akbar, Bupati Aditya Halindra Faridzky menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat yang hadir.
Menurutnya, haul Sunan Bonang bukan hanya seremonial tahunan, tapi menjadi momentum penting untuk mengenang perjuangan dakwah Wali Songo yang hingga kini tetap hidup di hati umat.
“Ini luar biasa, beliau panutan bagi generasi penerusnya, bagaimana dalam dakwahnya melakukan dengan pendekatan kultural budaya, sehingga diterima masyarakat,” ucapnya.
Mas Lindra juga mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban selama pelaksanaan acara.
“Alhamdulillah, hingga saat ini semua berjalan dengan tertib,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Haul Sunan Bonang, Ahmad Hidayatur Rohman atau akrab disapa Gus Dayat, menyebut jumlah peziarah diperkirakan menembus angka 200 ribu.
“Ini bukti begitu banyaknya masyarakat yang cinta terhadap Sunan Bonang,” ungkapnya.
Gus Dayat juga menuturkan bahwa rangkaian acara haul sudah dimulai sejak 28 Juni.
Dimulai dari ziarah bersama, pertemuan alim ulama pada 1 Juli, tahtimul Quran bin nadhor pada 6 Juli, serta tahtimul Quran bil gaib pada 8 Juli.
Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan PPMA, pentas salawat hadrah pada 9 Juli, serta khitanan massal, tahlil akbar, dan pengajian umum sebagai puncak acara pada 10 Juli.
Haul Sunan Bonang kembali membuktikan diri sebagai magnet spiritual dan budaya, mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan Wali Songo. (*)
|
|