Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Tak Lagi Soal Jarak! Jalur Domisili SMA Kini Andalkan Nilai, Ini Strategi Lolos SPMB 2025

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 27 Juni 2025 | 02:00 WIB
Foto ilustrasi siswa SMA. Pendaftaran penerimaan murid baru jenjang SMA 2025 kini tak lagi menggunakan zonasi, tapi nilai akademik menjadi faktor utama.
Foto ilustrasi siswa SMA. Pendaftaran penerimaan murid baru jenjang SMA 2025 kini tak lagi menggunakan zonasi, tapi nilai akademik menjadi faktor utama.

RADARBONANG.ID – Perubahan besar kembali terjadi dalam sistem Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMA 2025.

Kini, nilai akademik menjadi faktor utama dalam jalur domisili, menggantikan dominasi sistem zonasi berbasis jarak yang pernah berlaku di era Menteri Pendidikan sebelumnya.

Aturan ini tertuang dalam Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025 dan telah resmi diberlakukan untuk proses seleksi tahun ajaran baru.

Kabar baik bagi siswa berprestasi dari daerah terpencil—jarak rumah ke sekolah bukan lagi penghalang.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Bojonegoro-Tuban, Hidayat Rahman menegaskan, kuota 35 persen untuk jalur domisili SMA kini mengutamakan nilai rapor, bukan jarak fisik ke sekolah.

Prioritas jarak hanya diberlakukan jika nilai akademik antara calon siswa benar-benar identik.

“Sekarang, yang punya nilai tinggi lebih berpeluang diterima, meskipun domisili jauh. Sistem ini justru mendorong kompetisi akademik yang sehat,” jelasnya kepada Radar Bonang.

Contoh nyata: siswa dari Kecamatan Montong bisa diterima di SMAN 1 Tuban, meski jaraknya lebih jauh dari siswa lain di Kecamatan Tuban—selama nilai rapornya unggul.

Jika Nilai Sama, Lalu Apa? Ini Sistem Pemeringkatan Resminya

Jika semua aspek sama, maka pendaftar lebih awal akan diutamakan.

Adapun kuota domisili terbagi dua yakni 20 persen jalur domisili reguler dan 15 persen jalur domisili sebaran.

Total 35 persen dari pagu tiap sekolah negeri. Pendaftaran jalur ini dibuka 26–27 Juni 2025, jadi orang tua dan calon siswa wajib menyusun strategi sejak awal.

SMK Masih Prioritaskan Jarak Domisili

Berbeda dari SMA, SPMB jalur domisili untuk SMK tetap pakai parameter jarak, tanpa mempertimbangkan nilai rapor.

Jika jarak sama, baru dilihat usia, lalu waktu pendaftaran.

Transformasi kebijakan SPMB ini mencerminkan upaya pemerintah untuk menyeimbangkan persebaran siswa berdasarkan kualitas, bukan sekadar lokasi.

Ini berdampak langsung pada minat masuk ke sekolah unggulan meningkat, kinerja akademik siswa SMP terdorong sejak dini, dan pemerataan kualitas pendidikan di daerah pinggiran. (*)

Editor : Amin Fauzie
#masuk ke sekolah unggulan #jalur domisili #Rapor #penerimaan murid baru #jenjang SMA 2025 #spmb #tuban #sistem zonasi