RADARBONANG.ID - Desa Sumurgeneng di Kecamatan Jenu, Tuban, sempat viral pada tahun 2021.
Bagaimana tidak, desa ini viral karena warganya yang tiba-tiba jadi miliarder berkat ganti rugi lahan dari Pertamina.
Saat itu, tiap warga yang lahannya terkena proyek kilang minyak GRR Pertamina Rosneft mendapat kompensasi fantastis, sekitar Rp 2-3 miliar per orang.
Tapi belakangan, tepatnya sepekan terakhir ini, jagat media sosial kembali dihebohkan dengan kabar yang kurang menyenangkan.
Ada video viral di platform X (dulu Twitter) yang memperlihatkan seorang warga desa ini tengah menjual puluhan ternak.
Pemilik akun @TukangBedah00 misalnya, mengunggah video dan threads di X dengan judul "NASIB KAMPUNG MILIARDER TUBAN, DULU KAYA RAYA KINI WARGA HARUS JUAL TERNAKNYA".
Video yang diunggah pada 3 Januari itu langsung viral dan telah ditonton lebih dari 5,8 juta kali.
Isu pun berkembang, katanya, “Kampung Miliarder” ini sekarang bangkrut.
Warganet langsung heboh dan bersimpati dengan kabar tersebut. Banyak yang merasa kasihan, mengira uang miliaran yang dulu diterima warga telah habis.
Namun, ternyata kabar ini nggak sepenuhnya benar.
Ketika Radar Bonang memantau kondisi terkini Kampung Miliarder pada Kamis (9/1), ternyata faktanya masih jauh dari kata bangkrut.
Rumah-rumah mewah masih berdiri megah dengan pagar-pagar tinggi. Pun Mobil-mobil mahal juga masih terlihat parkir di garasi.
Salah satu warga, Matraji, mengaku perekonomiannya justru makin meningkat sejak menerima kompensasi dari Pertamina empat tahun lalu.
Dengan lahan 6 hektar yang ia jual, ia mendapat Rp 3,7 miliar! Meski ia enggan menyebutkan sisa tabungannya, Matraji memastikan hidupnya jauh lebih baik sekarang.
Warga lainnya, Riyono, juga membagikan kisahnya. Dari uang Rp 2,2 miliar yang ia dapat, Riyono langsung membeli lahan sawah di luar kecamatan.
Lahan tersebut kini digarapnya untuk menghasilkan pendapatan tetap.
Jadi, apakah benar “Kampung Miliarder” bangkrut? Faktanya, sebagian besar warganya masih hidup makmur.
Tapi, kabar ini jadi pengingat penting untuk kita semua. Kata orang bijak, “Hidup itu seperti roda; kadang di atas, kadang di bawah.” Yang penting adalah bagaimana kita belajar dan terus bertahan, apapun situasinya. (*)
Editor : Amin Fauzie