RADARBONANG.ID – Tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjala di Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali menarik perhatian masyarakat.
Prosesi yang digelar pada malam Selasa Kliwon, 19 Oktober 2026, mencatat sejumlah gambar dan tanda yang muncul pada kain mori pembungkus cupu.
Berdasarkan catatan hasil pembukaan yang diberitakan Sorot.co, terdapat 27 gambar dan tanda yang ditemukan di sejumlah sisi kain.
Simbol yang tercatat beragam, mulai dari gambar perempuan, Pulau Sulawesi, tokoh pewayangan, hewan, hingga angka delapan dan tiga.
Selain gambar tersebut, sejumlah kondisi benda dalam prosesi juga menjadi perhatian.
Tutup peti pada sisi timur ditemukan berlubang, sedangkan bunga yang berada di dalam peti dilaporkan dalam kondisi gosong.
Temuan lainnya adalah dua lembar kain mori yang berada dalam kondisi lembap, sementara lembaran lainnya kering.
Baca Juga: Bertepatan Dua Tahun Prabowo-Gibran, Greenpeace Bentangkan Kritik soal Bencana dan Kerusakan Hutan
Posisi tiga cupu yang menjadi bagian utama tradisi tersebut juga dicatat dalam prosesi tahunan ini.
Gambar Perempuan hingga Pulau Sulawesi Muncul
Salah satu gambar yang tercatat dalam pembukaan Cupu Kyai Panjala 2026 adalah sosok perempuan yang menghadap ke timur. Gambar perempuan lainnya juga ditemukan menghadap ke utara.
Selain itu, terdapat gambar Pulau Sulawesi pada sisi timur kain mori.
Simbol lain yang tercatat antara lain perahu kecil, dua anak yang digambarkan seperti kakak beradik sedang berlari, serta gambar ikan berjumlah lima ekor.
Sejumlah tokoh pewayangan juga muncul dalam catatan pembukaan.
Di antaranya Semar, Petruk, Bagong, Narada, dan Burisrawa. Ada pula gambar Garuda, gunungan, serta kepala kuda.
Gambar hewan yang ditemukan cukup beragam, mulai dari burung, anjing laut, anjing, mentok, gajah, hingga ayam jantan dan ayam betina.
Tidak hanya gambar makhluk hidup dan tokoh pewayangan, kain mori juga memuat simbol angka. Angka delapan dan angka tiga tercatat muncul pada sisi timur.
Berbagai gambar tersebut menjadi bagian dari dokumentasi tradisi yang diwariskan masyarakat setempat dari generasi ke generasi.
Tutup Peti Berlubang dan Bunga Dilaporkan Gosong
Selain simbol pada kain mori, kondisi peti penyimpanan cupu turut menjadi perhatian dalam pembukaan tahun ini.
Dalam laporan hasil prosesi, bagian tutup peti pada sisi timur ditemukan berlubang.
Bunga yang berada di dalam peti juga disebut berada dalam kondisi gosong setelah tutup dibuka.
Sementara itu, dari lembaran kain mori pertama hingga terakhir, dua lembar dilaporkan lembap. Lembaran lainnya berada dalam kondisi kering.
Posisi ketiga cupu juga masuk dalam catatan. Cupu Semar Kinandu dan Cupu Palang Kinantang berada dalam posisi tegak. Adapun Cupu Kentiwiri tercatat miring ke arah selatan dan timur.
Temuan-temuan tersebut merupakan hasil pengamatan yang dicatat dalam prosesi pembukaan.
Laporan yang tersedia tidak menjelaskan penyebab tutup peti berlubang maupun kondisi bunga yang gosong.
Tradisi yang Dipercaya Memuat Simbol Masa Depan
Cupu Kyai Panjala merupakan tradisi budaya yang terus dilestarikan masyarakat di wilayah Gunungkidul.
Prosesi pembukaannya dikenal karena adanya kepercayaan bahwa gambar pada kain mori dapat menjadi simbol yang dikaitkan dengan berbagai peristiwa pada masa mendatang.
Karena itu, gambar yang muncul setiap tahun kerap menjadi bahan pembicaraan dan penafsiran di tengah masyarakat.
Simbol seperti tokoh pewayangan, hewan, pulau, maupun angka dapat memiliki beragam makna menurut penafsiran masing-masing orang.
Meski demikian, makna setiap gambar tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan bentuk yang terlihat.
Penafsiran mengenai kaitannya dengan kejadian tertentu merupakan bagian dari kepercayaan dan tradisi masyarakat, bukan kepastian tentang masa depan.
Dokumentasi hasil pembukaan menjadi penting untuk menjaga catatan tradisi sekaligus memberikan gambaran mengenai simbol-simbol yang ditemukan dari tahun ke tahun.
Baca Juga: Jual Kaos Bergambar Orang Utan saat Karhutla, Irfan Hakim Ungkap Tujuan Sebenarnya
Pelestarian Budaya Tetap Menjadi Hal Utama
Pembukaan Cupu Kyai Panjala tidak hanya menarik perhatian karena beragam gambar yang muncul.
Tradisi ini juga memperlihatkan upaya masyarakat mempertahankan warisan budaya yang diwariskan antargenerasi.
Pencatatan simbol, kondisi kain mori, dan posisi cupu menjadi bagian dari dokumentasi prosesi.
Informasi tersebut dapat membantu masyarakat mengenal tradisi setempat tanpa harus menganggap setiap simbol sebagai ramalan yang pasti terjadi.
Dengan kembali digelarnya prosesi pada 2026, Cupu Kyai Panjala tetap menjadi salah satu tradisi yang menarik perhatian masyarakat Gunungkidul.
Berbagai gambar yang ditemukan pun kembali mengundang rasa ingin tahu, sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami warisan budaya tersebut secara bijak.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : sorot.co