Nyi Roro Kidul dan Keraton Jawa: Mengungkap Mitos, Ritual Labuhan, serta Makna di Baliknya

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 17:24 WIB
Nyi Roro Kidul bukan hanya sosok dalam cerita mistis Jawa. Legenda tentang penguasa Laut Selatan juga berkaitan dengan tradisi Labuhan Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo, Bantul. (bantulkab.go.id)
Nyi Roro Kidul bukan hanya sosok dalam cerita mistis Jawa. Legenda tentang penguasa Laut Selatan juga berkaitan dengan tradisi Labuhan Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo, Bantul. (bantulkab.go.id)

RADARBONANG.ID – Nama Nyi Roro Kidul sudah lama menjadi bagian dari cerita rakyat yang berkembang di pesisir selatan Pulau Jawa.

Sosok yang dikenal sebagai penguasa Laut Selatan itu kerap dikaitkan dengan kisah kerajaan gaib, hubungan spiritual dengan raja-raja Jawa, hingga berbagai pantangan yang dipercaya masyarakat setempat.

Di balik cerita mistis tersebut, terdapat tradisi budaya yang masih dijalankan hingga sekarang, yakni upacara Labuhan Keraton Yogyakarta.

Ritual ini menjadi salah satu bukti bahwa kisah tentang penguasa Laut Selatan tidak hanya hidup dalam cerita turun-temurun, tetapi juga memiliki tempat dalam tradisi dan identitas budaya masyarakat Jawa.

Salah satu lokasi penting dalam tradisi tersebut adalah Pantai Parangkusumo di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kawasan ini dikenal sebagai tempat pelaksanaan Labuhan sekaligus lokasi yang dikaitkan dengan legenda pertemuan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul.

Baca Juga: Olahraga Berlebihan Ternyata Bisa Ganggu Mental, Kenali Risiko Jika Tubuh Dipaksa Terus Bergerak

Legenda Pertemuan Panembahan Senopati dan Ratu Laut Selatan

Dalam legenda yang berkembang di masyarakat Jawa, kisah Nyi Roro Kidul berkaitan dengan Panembahan Senopati, tokoh yang dikenal sebagai pendiri Kerajaan Mataram Islam.

Menurut cerita tersebut, Panembahan Senopati pernah bertapa di kawasan Parangkusumo untuk memohon petunjuk kepada Tuhan agar dapat menjadi pemimpin yang baik.

Dalam pertapaannya, ia dipercaya bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul, sosok yang dikaitkan dengan kekuasaan atas Laut Selatan.

Pertemuan itu kemudian menjadi bagian dari cerita mengenai hubungan antara penguasa Mataram dan penguasa Laut Selatan.

Dalam legenda tersebut, Kanjeng Ratu Kidul disebut berjanji membantu Panembahan Senopati beserta keturunannya.

Kisah inilah yang kemudian dikaitkan dengan tradisi Labuhan yang dilaksanakan oleh Keraton Yogyakarta.

Pantai Parangkusumo dipilih sebagai salah satu lokasi ritual karena memiliki hubungan historis dan simbolis dengan legenda tersebut.

Meski begitu, cerita mengenai pertemuan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul merupakan bagian dari tradisi legenda dan kepercayaan masyarakat.

Kisah tersebut perlu dibedakan dari catatan sejarah yang dapat diverifikasi melalui dokumen atau bukti sejarah.

Mengapa Nyi Roro Kidul Dikaitkan dengan Keraton Yogyakarta?

Hubungan antara Nyi Roro Kidul dan Keraton Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari warisan budaya Kerajaan Mataram Islam.

Keraton Yogyakarta sendiri memiliki sejarah pendirian yang berkaitan dengan Perjanjian Giyanti pada 1755.

Perjanjian tersebut membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua kekuasaan, yakni Surakarta dan Yogyakarta.

Dalam tradisi keraton, hubungan dengan Kanjeng Ratu Kidul menjadi bagian dari narasi budaya yang diwariskan lintas generasi.

Kisah tersebut juga berkaitan dengan cara masyarakat Jawa memahami hubungan antara pemimpin, alam, leluhur, dan kekuatan yang diyakini berada di luar jangkauan manusia.

Keraton Yogyakarta hingga kini masih menyelenggarakan sejumlah upacara adat yang memiliki makna spiritual dan historis.

Salah satunya adalah Labuhan, yang dilakukan di tempat-tempat yang dianggap memiliki hubungan penting dengan perjalanan para pendahulu keraton.

Dengan demikian, keterkaitan Nyi Roro Kidul dengan keraton tidak semata-mata berkisar pada cerita tentang sosok gaib.

Hubungan tersebut juga menjadi bagian dari warisan simbolik dan tradisi yang membentuk identitas budaya Yogyakarta.

Labuhan Parangkusumo, Ritual yang Masih Bertahan

Labuhan merupakan upacara adat Keraton Yogyakarta dengan cara melabuhkan atau menghanyutkan benda-benda tertentu ke laut, serta menempatkan sebagian perlengkapan ritual sesuai tata cara yang berlaku.

Menurut penjelasan resmi Keraton Yogyakarta, pemilihan lokasi Labuhan berkaitan dengan petilasan yang memiliki nilai historis bagi keraton.

Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan para pendahulu sekaligus perwujudan doa untuk keselamatan dan kesejahteraan.

Pantai Parangkusumo menjadi salah satu lokasi utama pelaksanaan ritual tersebut.

Dalam legenda setempat, kawasan ini berkaitan dengan pertapaan Panembahan Senopati dan pertemuannya dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Tradisi Labuhan juga masih dijalankan dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Pada 19 Januari 2026, Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta melaporkan pelaksanaan Labuhan Parangkusumo sebagai bagian dari rangkaian peringatan kenaikan takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas. Prosesi tersebut disaksikan masyarakat serta wisatawan.

Keberlanjutan ritual tersebut menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat bertahan selama berabad-abad melalui tata cara, simbol, dan nilai yang diwariskan.

Bagi masyarakat yang menjalaninya, Labuhan bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan bagian dari penghormatan terhadap tradisi dan doa untuk kebaikan bersama.

Sesaji dan Simbol dalam Tradisi Jawa

Dalam pelaksanaan Labuhan, sejumlah benda disiapkan sebagai bagian dari perlengkapan ritual atau ubarampe.

Benda-benda tersebut dipilih dan diproses berdasarkan ketentuan adat keraton.

Sebagian perlengkapan kemudian dilabuhkan ke laut, sedangkan benda lainnya diperlakukan sesuai tata cara yang telah ditentukan.

Rangkaian prosesi itu menunjukkan bahwa ritual memiliki aturan tersendiri dan tidak dilakukan secara sembarangan.

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta menjelaskan bahwa Labuhan memiliki kaitan dengan kepercayaan tradisional mengenai hubungan manusia dengan kekuatan yang diyakini menguasai tempat tertentu.

Dalam perkembangannya, ritual tersebut juga dimaknai sebagai upaya memohon keselamatan dan ketenteraman bagi keraton serta masyarakat.

Bagi masyarakat modern, tradisi seperti ini dapat dipahami melalui beberapa sudut pandang.

Ada yang melihatnya sebagai praktik spiritual, sementara yang lain mempelajarinya sebagai bagian dari sejarah, antropologi, dan warisan budaya.

Perbedaan cara pandang tersebut tidak menghapus nilai penting tradisi dalam kehidupan masyarakat.

Justru, pemahaman terhadap konteks sejarah dan makna simboliknya membantu masyarakat melihat ritual secara lebih utuh, tanpa harus menganggap semua kisah mistis sebagai fakta yang terbukti. 

Antara Mitos, Kepercayaan, dan Fakta Sejarah

Popularitas Nyi Roro Kidul juga melahirkan berbagai cerita yang berkembang di luar tradisi keraton.

Kisah tentang larangan mengenakan pakaian berwarna tertentu di pantai selatan, penampakan sosok perempuan, hingga cerita mengenai kerajaan gaib kerap muncul dalam percakapan masyarakat.

Namun, cerita-cerita tersebut memiliki tingkat pembuktian yang berbeda.

Sebagian merupakan kepercayaan yang diwariskan secara lisan, sedangkan sebagian lainnya berkembang sebagai cerita populer tanpa bukti yang dapat memastikan kebenarannya.

Karena itu, penting untuk membedakan antara keberadaan tradisi budaya dan klaim mengenai peristiwa supernatural.

Pelaksanaan Labuhan, misalnya, dapat diamati dan didokumentasikan sebagai praktik budaya.

Sementara itu, kisah tentang perjanjian dengan penguasa Laut Selatan tetap berada dalam ranah legenda dan kepercayaan.

Pendekatan ini tidak berarti meremehkan keyakinan masyarakat.

Sebaliknya, membahas mitos dengan konteks yang tepat dapat membantu menjaga tradisi sekaligus menghindari penyebaran informasi yang tidak terverifikasi.

Warisan Budaya yang Terus Diceritakan

Kisah Nyi Roro Kidul memperlihatkan bagaimana legenda dapat bertahan melalui cerita rakyat, tradisi keraton, ritual, dan ingatan kolektif masyarakat.

Baca Juga: Mau Touring Jarak Jauh pada 2026? Ini Pilihan Motor Matic hingga Adventure yang Bisa Dipertimbangkan

Hubungannya dengan Keraton Yogyakarta, terutama melalui Labuhan Parangkusumo, menjadikan cerita tersebut lebih dari sekadar kisah mistis yang beredar dari mulut ke mulut.

Ada dimensi sejarah, simbolisme, dan praktik budaya yang dapat ditelusuri melalui sumber resmi.

Pada akhirnya, memahami Nyi Roro Kidul tidak harus selalu dimulai dari pertanyaan apakah sosok tersebut benar-benar ada.

Kisah ini juga dapat dipelajari melalui pertanyaan lain: mengapa masyarakat mempercayainya, bagaimana legenda itu berhubungan dengan sejarah kerajaan, dan mengapa tradisi yang berkaitan dengannya masih bertahan hingga sekarang.

Di situlah daya tarik mitos Nyi Roro Kidul. Ceritanya terus hidup bukan hanya karena unsur misteri, tetapi juga karena menjadi bagian dari cara masyarakat Jawa mewariskan nilai, identitas, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
Keraton Jawa Labuhan Parangkusumo mitos Jawa budaya mistis Nyi Roro Kidul