RADARBONANG.ID - Suku Bajo dikenal memiliki kemampuan menyelam selama beberapa menit tanpa alat bantu pernapasan.
Keistimewaan masyarakat yang hidup di kawasan Indonesia, Malaysia, dan Filipina ini ternyata tidak hanya terbentuk dari kebiasaan, tetapi juga berkaitan dengan adaptasi biologis tubuh.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell pada 2018 menemukan bahwa masyarakat Bajau memiliki ukuran limpa rata-rata sekitar 50 persen lebih besar dibandingkan kelompok masyarakat yang tidak memiliki tradisi menyelam.
Baca Juga: Awalnya Meniru Batik Jawa, Kain Buatan Belanda Ini Malah Jadi Kebanggaan Masyarakat Afrika Barat
Limpa berperan penting dalam membantu tubuh menyimpan cadangan oksigen. Saat seseorang menyelam, organ tersebut dapat berkontraksi dan melepaskan sel darah merah tambahan ke dalam aliran darah.
Sel darah merah inilah yang membawa oksigen untuk menunjang fungsi tubuh ketika berada di bawah air.
Dalam tayangan kanal YouTube Kok Bisa?, dijelaskan bahwa kemampuan menyelam Suku Bajo berkaitan dengan penyesuaian genetik yang berlangsung dalam waktu panjang.
"Di tubuh orang Bajau terjadi penyesuaian genetik yang membuat ukuran limpa mereka lebih besar," dikutip dari kanal YouTube Kok Bisa?
Adaptasi Tubuh Suku Bajo terhadap Kehidupan Laut
Selama ratusan tahun, masyarakat Bajau menggantungkan kehidupan pada laut.
Mereka menangkap ikan, gurita, dan berbagai hasil laut lainnya dengan mengandalkan kemampuan menyelam secara tradisional.
Kebiasaan yang diwariskan lintas generasi tersebut diduga turut membentuk adaptasi biologis yang menguntungkan mereka ketika berada di dalam air.
Ukuran limpa yang lebih besar menjadi salah satu keunggulan karena memungkinkan tubuh memperoleh tambahan sel darah merah saat menyelam.
Meski demikian, kemampuan menyelam Suku Bajo tidak semata-mata ditentukan oleh faktor genetik.
Pengalaman dan latihan sejak usia dini juga berperan dalam membentuk keterampilan mereka.
Fenomena ini menjadi salah satu contoh menarik tentang bagaimana manusia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggalnya.
Kehidupan yang bergantung pada laut mendorong masyarakat Bajau mengembangkan keterampilan sekaligus memiliki karakteristik biologis yang mendukung aktivitas menyelam.
Perbedaan Kemampuan Suku Bajo dan Freediver Profesional
Kemampuan menyelam masyarakat Bajau kerap dibandingkan dengan para penyelam bebas atau freediver profesional.
Keduanya sama-sama mampu menahan napas selama beberapa menit, tetapi memiliki latar belakang kemampuan yang berbeda.
Para freediver umumnya mengembangkan kemampuan melalui latihan intensif dan teknik khusus.
Sementara itu, masyarakat Bajau memiliki keuntungan biologis berupa ukuran limpa yang lebih besar, di samping pengalaman menyelam yang diperoleh sejak kecil.
Saat menahan napas, dorongan untuk kembali bernapas terutama dipicu oleh meningkatnya kadar karbon dioksida dalam darah.
Seiring bertambahnya waktu, tubuh mengirimkan sinyal yang semakin kuat agar seseorang kembali mengambil napas.
Meski begitu, atlet penyelaman bebas yang terlatih dapat menahan napas jauh lebih lama melalui persiapan dan teknik tertentu.
Dalam kompetisi static apnea, sejumlah atlet bahkan mampu bertahan selama belasan hingga puluhan menit dalam kondisi khusus.
Penelitian mengenai Suku Bajo memperlihatkan bahwa kemampuan manusia beradaptasi dapat dipengaruhi oleh perpaduan faktor biologis, lingkungan, dan kebiasaan.
Ukuran limpa yang lebih besar menjadi salah satu keunggulan tubuh masyarakat Bajau saat menyelam, sekaligus memperkaya pemahaman tentang hubungan antara evolusi dan cara hidup manusia. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari