RADARBONANG.ID – Tradisi menghitung kecocokan pasangan berdasarkan weton masih hidup dan dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa hingga saat ini.
Meski zaman terus berkembang, perhitungan weton tetap menjadi salah satu pertimbangan yang kerap digunakan sebelum melangsungkan pernikahan.
Bagi sebagian orang, weton bukan sekadar hitungan hari lahir, melainkan bagian dari warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.
Melalui perhitungan tertentu, weton dipercaya dapat memberikan gambaran mengenai kecocokan, karakter, hingga potensi perjalanan rumah tangga pasangan.
Namun, bagaimana sebenarnya cara menghitung kecocokan pasangan berdasarkan weton Jawa?
Baca Juga: Harga Pertamax Naik hingga Rp16.250 per Liter, Menkeu Pastikan Dampaknya ke Inflasi Relatif Kecil
Apa Itu Weton?
Weton merupakan sistem penanggalan tradisional Jawa yang menggabungkan dua unsur, yaitu hari dalam kalender Masehi dan pasaran Jawa.
Hari dalam kalender umum terdiri dari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Sementara pasaran Jawa terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Setiap orang memiliki kombinasi hari dan pasaran yang berbeda sesuai tanggal kelahirannya.
Sebagai contoh, seseorang bisa lahir pada Selasa Pon, Jumat Kliwon, Minggu Legi, atau kombinasi lainnya.
Kombinasi tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai neptu.
Memahami Nilai Neptu
Dalam tradisi Jawa, setiap hari dan pasaran memiliki nilai angka yang disebut neptu.
Nilai neptu hari adalah sebagai berikut:
- Minggu = 5
- Senin = 4
- Selasa = 3
- Rabu = 7
- Kamis = 8
- Jumat = 6
- Sabtu = 9
Sedangkan nilai neptu pasaran Jawa adalah:
- Legi = 5
- Pahing = 9
- Pon = 7
- Wage = 4
- Kliwon = 8
Untuk mendapatkan neptu weton seseorang, nilai hari dan pasaran dijumlahkan.
Sebagai contoh:
- Jumat Kliwon = 6 + 8 = 14
- Selasa Pon = 3 + 7 = 10
- Minggu Legi = 5 + 5 = 10
Angka inilah yang nantinya digunakan dalam perhitungan kecocokan pasangan.
Cara Menghitung Kecocokan Pasangan
Setelah mengetahui neptu masing-masing pasangan, langkah berikutnya adalah menjumlahkan kedua nilai tersebut.
Misalnya:
- Pasangan pertama memiliki weton Jumat Kliwon dengan neptu 14.
- Pasangan kedua memiliki weton Selasa Pon dengan neptu 10.
Total neptu pasangan tersebut adalah:
14 + 10 = 24
Hasil penjumlahan ini kemudian dicocokkan dengan kategori yang terdapat dalam primbon Jawa.
Makna Hasil Perhitungan Weton
Dalam tradisi Jawa, hasil penjumlahan neptu pasangan dipercaya dapat menunjukkan gambaran kehidupan rumah tangga mereka.
Beberapa kategori yang paling dikenal antara lain:
Pegat
Kategori ini sering diartikan sebagai hubungan yang berpotensi menghadapi konflik besar atau perpisahan. Namun dalam praktiknya, banyak orang Jawa modern tidak lagi menganggapnya sebagai vonis mutlak.
Ratu
Ratu dianggap sebagai salah satu hasil terbaik. Pasangan yang memperoleh kategori ini dipercaya memiliki hubungan harmonis, dihormati lingkungan sekitar, dan mampu membangun keluarga yang disegani.
Jodoh
Kategori ini menunjukkan kecocokan yang baik. Pasangan dipercaya memiliki keselarasan karakter dan hubungan yang relatif harmonis.
Topo
Pasangan dengan hasil Topo diyakini akan menghadapi berbagai ujian atau kesulitan di awal kehidupan rumah tangga. Namun jika mampu melewatinya bersama, hubungan mereka dapat menjadi lebih kuat.
Tinari
Kategori Tinari sering dikaitkan dengan keberuntungan dan kelancaran rezeki. Pasangan dipercaya memiliki peluang hidup yang cukup baik secara ekonomi.
Padu
Padu menggambarkan pasangan yang cenderung sering berbeda pendapat atau terlibat pertengkaran. Meski demikian, konflik tersebut tidak selalu berujung pada perpisahan.
Sujanan
Kategori ini sering dikaitkan dengan godaan pihak ketiga atau masalah kesetiaan dalam hubungan.
Pesthi
Pesthi dianggap sebagai salah satu kategori yang paling baik. Pasangan dipercaya dapat menjalani kehidupan rumah tangga yang damai, tenteram, dan penuh ketenangan.
Tradisi yang Masih Bertahan hingga Kini
Meski hidup di era modern, tradisi menghitung weton masih banyak ditemui di berbagai daerah di Jawa.
Beberapa keluarga masih menggunakan weton sebagai bahan pertimbangan sebelum menentukan tanggal pernikahan maupun melihat kecocokan calon pasangan.
Tradisi ini umumnya dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan nilai-nilai leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi sebagian masyarakat, weton bukan sekadar hitungan angka, tetapi juga bagian dari identitas budaya Jawa yang kaya akan filosofi kehidupan.
Apakah Weton Menentukan Masa Depan Pernikahan?
Pertanyaan ini sering muncul di tengah masyarakat modern.
Perlu dipahami bahwa weton merupakan bagian dari tradisi budaya, bukan metode ilmiah untuk memprediksi masa depan seseorang.
Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa hasil perhitungan weton dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah pernikahan.
Banyak pasangan dengan hasil weton yang dianggap kurang cocok tetap mampu membangun rumah tangga yang harmonis selama puluhan tahun.
Sebaliknya, pasangan yang memperoleh hasil weton terbaik juga tetap dapat menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan berumah tangga.
Komunikasi Tetap Menjadi Kunci Utama
Para pakar hubungan menilai bahwa keberhasilan sebuah pernikahan lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor nyata seperti komunikasi, komitmen, kepercayaan, kedewasaan emosional, dan kemampuan menyelesaikan konflik.
Kesamaan nilai hidup, tujuan masa depan, serta rasa saling menghargai juga memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hubungan.
Karena itu, weton sebaiknya dipandang sebagai bagian dari tradisi budaya yang patut dihormati, bukan sebagai penentu mutlak nasib sebuah pernikahan.
Pada akhirnya, keharmonisan rumah tangga dibangun melalui usaha bersama, bukan semata-mata melalui hasil perhitungan angka.
Weton tetap menjadi salah satu warisan budaya Jawa yang menarik untuk dipelajari. Namun kebahagiaan dalam hubungan tetap bergantung pada bagaimana dua orang saling memahami, menghormati, dan tumbuh bersama sepanjang perjalanan hidup mereka.
Editor : Muhammad Azlan Syah