Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Dari Puasa Ramadan ke Tirakat Kejawen, Ini Ragam Laku Spiritual dengan Metode Puasa Pada Masyarakat Jawa

Muhammad Azlan Syah • Jumat, 20 Februari 2026 - 21:05 WIB

Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Dalam tradisi Kejawen, tirakat puasa juga menjadi jalan penyucian batin. Mengenal ragam puasa Jawa dari mutih hingga tapa kungkum.
Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Dalam tradisi Kejawen, tirakat puasa juga menjadi jalan penyucian batin. Mengenal ragam puasa Jawa dari mutih hingga tapa kungkum.

RADARBONANG.ID - Bulan Ramadan menjadi momen istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Selama sebulan penuh, umat Islam menjalankan ibadah puasa sebagai kewajiban spiritual untuk menahan lapar, haus, serta mengendalikan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Puasa dalam Islam bukan sekadar menahan diri secara fisik, tetapi juga sarana membersihkan jiwa, melatih kesabaran, dan meningkatkan ketakwaan.

Menariknya, praktik menahan diri atau tirakat ternyata juga dikenal dalam berbagai tradisi budaya di Nusantara, termasuk dalam ajaran Kejawen.

Baca Juga: Ribuan Pengguna Terdampak, Google Beberkan Penyebab YouTube Error

Dalam tradisi spiritual masyarakat Jawa ini, puasa memiliki ragam bentuk dengan tujuan yang beragam, mulai dari penyucian diri hingga pendalaman batin.

Dalam laku Kejawen, puasa sering disebut sebagai tirakat. Laku ini dipercaya mampu membantu seseorang mencapai ketenangan batin, kejernihan pikiran, hingga kedekatan dengan Sang Pencipta.

Puasa Mutih, Laku Paling Populer

Salah satu puasa paling dikenal adalah puasa mutih. Sesuai namanya, “mutih” berarti putih.

Selama menjalani puasa ini, pelaku hanya mengonsumsi nasi putih dan air putih tanpa garam, gula, atau lauk tambahan.

Biasanya dilakukan dalam hitungan hari ganjil, bahkan ada yang hingga 40 hari.

Puasa mutih dimaknai sebagai proses menyucikan diri. Warna putih melambangkan kebersihan lahir dan batin.

Selain itu, pembatasan rasa diyakini dapat membantu mengendalikan hawa nafsu dan keinginan duniawi.

Puasa Ngeruh dan Ngrowot

Ada pula puasa ngeruh, yakni membatasi konsumsi makanan yang berasal dari makhluk bernyawa seperti daging dan ikan.

Praktik ini lebih menekankan pengendalian diri melalui pola makan sederhana.

Sementara itu, puasa ngrowot dilakukan dengan tidak mengonsumsi nasi dan menggantinya dengan umbi-umbian atau buah.

Filosofinya adalah kembali pada kesederhanaan dan tidak bergantung pada satu sumber makanan pokok saja.

Puasa Ngebleng dan Pati Geni

Dalam tingkat tirakat yang lebih berat, dikenal puasa ngebleng dan pati geni.

Puasa ngebleng dilakukan dengan berdiam diri di ruang tertutup untuk berdoa dan bermeditasi dalam kondisi minim cahaya.

Adapun pati geni secara harfiah berarti “mematikan api”. Pelaku tidak makan, tidak minum, dan tidak menyalakan cahaya atau api selama kurun waktu tertentu.

Laku ini melambangkan upaya memadamkan hawa nafsu dan energi negatif dalam diri.

Puasa Weton dan Senen Kemis

Sebagian masyarakat Jawa juga menjalankan puasa berdasarkan perhitungan hari kelahiran atau weton.

Puasa weton biasanya dilakukan saat hari pasaran kelahiran tiba dan sering disertai ritual mandi kembang serta doa khusus.

Selain itu, puasa Senen Kemis juga dikenal luas. Praktiknya mirip dengan puasa sunnah dalam Islam, dilakukan setiap Senin dan Kamis sebagai bentuk latihan spiritual rutin.

Baca Juga: Dulu Main Layangan Sampai Lupa Waktu, Sekarang Scroll TikTok Sampai Maghrib: Ngabuburit Berubah atau Kita yang Berubah?

Tapa Jejeg dan Kungkum

Bentuk tirakat lain yang cukup ekstrem adalah tapa jejeg, yaitu berdiri dalam waktu lama tanpa makan dan minum, serta tapa kungkum, yakni berendam di air pada waktu tertentu sambil berdoa.

Kedua praktik ini menekankan ketahanan fisik sekaligus fokus batin.

Air dalam tapa kungkum melambangkan penyucian, sementara berdiri tegak dalam tapa jejeg melambangkan keteguhan hati.

Meski berbeda secara tata cara dan landasan keyakinan, baik puasa dalam Islam saat Ramadan maupun tirakat dalam Kejawen sama-sama mengajarkan nilai pengendalian diri, kesederhanaan, dan refleksi spiritual.

Momentum Ramadan dapat menjadi pengingat bahwa tradisi menahan diri telah lama menjadi bagian dari perjalanan spiritual manusia, termasuk dalam khazanah budaya Jawa.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#puasa weton dalam budaya Jawa #tirakat Kejawen #jenis puasa Kejawen #tradisi puasa Jawa