RADARBONANG.ID — Di kawasan Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat, terdapat sebuah praktik yang unik sekaligus mengundang kritik dari pegiat lingkungan: ritual membuang pakaian dalam dan bra di area gunung yang dipercaya sebagai cara untuk “membuang sial”.
Kepercayaan ini telah menjadi bagian dari kebiasaan sebagian peziarah yang datang ke sana, namun dampaknya pada alam kini menjadi sorotan serius.
Menurut salah satu pegiat budaya setempat, Nace Permana, praktik ini sudah berlangsung sejak lama sebagai bagian dari tradisi ziarah yang dipercaya mampu menghilangkan kesialan dalam hidup seseorang.
Baca Juga: Split Bill Dibilang Pelit? Bagi Banyak Pasangan, Ini Justru Tanda Hubungan Dewasa
Ritual ini kerap dilakukan oleh pengunjung pada malam Jumat Kliwon atau menjelang malam Satu Suro.
Namun kini aktivitas tersebut tidak lagi eksklusif pada waktu-waktu tertentu, tetapi kerap dilakukan hampir setiap hari oleh peziarah maupun pendatang yang ikut mempercayai mitos itu.
Asal Usul Kepercayaan Buang Sial
Awalnya, ritual buang sial ini berakar dari praktik mandi di mata air yang terletak di puncak Gunung Sanggabuana.
Ada empat mata air yang diyakini memiliki nilai spiritual, yaitu Pancuran Emas, Pancuran Kejayaan, Pancuran Kahuripan, dan Pancuran Sumur Tujuh.
Setelah mandi di mata air, peziarah kemudian diminta oleh pemandu atau kuncen untuk membuang pakaian yang melekat di badan, yang dianggap sebagai simbol pelepasan kesialan dan memulai hidup baru dengan hati bersih.
Dulu, ritual tidak seramai sekarang. Bahkan pakaian yang dibuang bukan hanya celana dalam maupun bra; beberapa generasi sebelumnya juga melepaskan pakaian yang dikenakan saat mandi.
Namun seiring waktu, praktik ini menjadi lebih populer dan umumnya yang dibuang adalah celana dalam, karena dianggap paling efektif dalam simbolisme ritual ini.
Mitos dan Realita di Lapangan
Tingkat popularitas ritual ini meningkat karena mitos yang menyertainya.
Bagi sebagian peziarah, membuang celana dalam selepas mandi di pancuran dianggap mampu menarik berkah dan “membersihkan” jiwa dari kesialan.
Ritual ini bahkan tak lagi hanya dilakukan oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh pendatang dari luar daerah yang percaya akan kekuatan tradisi tersebut.
Namun di balik kepercayaan ini, muncul masalah baru: lingkungan alam di Gunung Sanggabuana mulai tercemar karena sampah pakaian dalam dan bra yang berserakan di lereng gunung.
Lahan hutan yang seharusnya alami kini menjadi tempat pembuangan barang tekstil yang sulit terurai.
Dampak Lingkungan dan Komersialisasi Ritual
Lebih jauh, pembina Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), Bernarld T Wahyu, mengatakan bahwa makna ritual telah bergeser dari sebuah kepercayaan personal ke praktik yang berpotensi diraih sebagai ladang bisnis oleh beberapa pihak.
Di beberapa kasus, hadirnya kuncen baru yang menawarkan layanan ritual dengan biaya tertentu justru memperkuat praktik ini tanpa mempertimbangkan dampak ekologisnya.
Menurut Bernard, biaya pemanduan dan ritual kepada kuncen sering dibebankan kepada peserta, dengan tarif rata-rata sekitar Rp 250 ribu per orang, mencakup panduan menuju mata air serta perlengkapan upacara ritual.
Biaya ini menjadi sumber pemasukan bagi warga setempat dan para pemandu, apalagi ketika jumlah peziarah meningkat signifikan.
Sementara itu, sebagian masyarakat setempat melihat sisi positif dari kedatangan peziarah, karena aktivitas ini membantu perputaran ekonomi lokal.
Pedagang kecil, penjual makanan, hingga jasa pemandu mengalami peningkatan permintaan saat musim ritual atau kunjungan peziarah berlangsung.
Mitos vs Kelestarian Alam
Kontras antara nilai tradisi dan kebutuhan pelestarian alam menciptakan dilema di Gunung Sanggabuana.
Di satu sisi, praktik ritual telah lama menjadi bagian dari cerita masyarakat, merefleksikan cara pandang terhadap kesialan dan keberkahan.
Di sisi lain, dampak nyata berupa pencemaran lingkungan menuntut evaluasi serius.
Baca Juga: Slow Morning, Tren Baru Anak Kota: Seni Memulai Hari Tanpa Mengecek HP 30 Menit Pertama
Para aktivis konservasi menyarankan pendekatan yang lebih seimbang: menjaga nilai budaya tanpa merusak alam.
Upaya ini mencakup peningkatan edukasi kepada peziarah bahwa membuang sampah tekstil di kawasan hutan bukan cara tepat untuk menghormati tradisi, dan bahwa nilai ritual bisa disalurkan melalui simbol-simbol lain yang ramah lingkungan.
Gunung Sanggabuana, yang dikenal dengan panorama alamnya yang hijau dan mata air yang jernih, seharusnya tetap lestari agar generasi mendatang juga bisa menikmati keindahan serta cerita budaya yang dibawanya.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah