RADARBONANG.ID — Bagi masyarakat Aceh, Peusijuek bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan ritual adat yang sarat doa, harapan, dan nilai spiritual.
Peusijuek, yang sering disebut sebagai ritual tepung tawar, hadir dalam berbagai fase kehidupan masyarakat Aceh, mulai dari kelahiran, pernikahan, menempati rumah baru, hingga keberangkatan ibadah haji.
Tradisi ini menjadi simbol permohonan keselamatan, keberkahan, dan ketenteraman hidup.
Secara etimologis, kata peusijuek berasal dari bahasa Aceh yang berarti “mendinginkan” atau “menyejukkan”.
Maknanya bukan sekadar fisik, tetapi juga batin. Ritual ini bertujuan menenangkan hati, meredam potensi konflik, serta menghadirkan kedamaian dalam setiap peristiwa penting yang dijalani seseorang atau kelompok.
Baca Juga: Inggris Siapkan Langkah Hukum, X Terancam Sanksi Berat hingga Pemblokiran
Peusijuek biasanya dipimpin oleh tokoh adat, ulama, atau orang yang dituakan dalam masyarakat.
Prosesi dilakukan dengan penuh khidmat, diiringi bacaan doa-doa yang memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal.
Perpaduan inilah yang membuat Peusijuek tetap relevan dan diterima luas oleh masyarakat Aceh hingga kini.
Dalam ritual Peusijuek, terdapat sejumlah perlengkapan khas yang memiliki makna simbolis. Bahan utama berupa beras padi, beras ketan, air, daun-daunan tertentu, serta tepung tawar.
Beras melambangkan kemakmuran dan kecukupan pangan, sementara air melambangkan kesucian dan kehidupan.
Daun-daunan yang digunakan biasanya dipilih secara khusus karena dipercaya membawa kesejukan dan kebaikan.
Prosesi Peusijuek dilakukan dengan cara menaburkan atau menyentuhkan bahan-bahan tersebut secara simbolis kepada orang yang dipeusijuek.
Gerakan ini disertai doa agar yang bersangkutan diberikan keselamatan, dijauhkan dari marabahaya, serta diberi kelapangan rezeki dan umur panjang.
Dalam konteks pernikahan, Peusijuek menjadi ritual penting sebelum atau sesudah akad nikah.
Prosesi ini dimaknai sebagai doa agar rumah tangga yang dibangun berjalan harmonis, dijauhkan dari perselisihan, dan dipenuhi keberkahan.
Begitu pula dalam peristiwa kelahiran anak, Peusijuek dilakukan sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar sang anak tumbuh sehat dan berakhlak baik.
Peusijuek juga sering dilakukan saat seseorang hendak memulai perjalanan penting, seperti merantau atau menunaikan ibadah haji.
Ritual ini dipandang sebagai bentuk pelepasan yang penuh doa, agar perjalanan yang ditempuh diberi kelancaran dan keselamatan hingga kembali ke tanah air.
Di tengah modernisasi, Peusijuek tetap bertahan sebagai identitas budaya Aceh.
Meski zaman berubah, masyarakat masih memandang ritual ini sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial.
Bahkan, Peusijuek kerap hadir dalam acara-acara resmi pemerintahan, penyambutan tamu kehormatan, hingga peresmian bangunan, sebagai simbol penerimaan dan penghormatan.
Baca Juga: Sete Gibernau Bongkar Kontroversi Cara Balap Valentino Rossi yang Lama Tersembunyi
Namun, tantangan tetap ada. Generasi muda yang tumbuh di era digital kerap memandang tradisi adat sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman.
Karena itu, peran keluarga dan lembaga adat menjadi penting untuk terus mengenalkan makna filosofis Peusijuek, agar tidak sekadar menjadi ritual formalitas tanpa pemahaman nilai di baliknya.
Peusijuek mencerminkan cara masyarakat Aceh memaknai kehidupan dengan penuh kehati-hatian, keseimbangan, dan doa.
Tradisi ini mengajarkan bahwa setiap langkah besar dalam hidup sebaiknya diawali dengan niat baik, restu bersama, dan harapan akan keselamatan.
Di situlah Peusijuek bukan hanya ritual adat, melainkan cerminan nilai hidup masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi kebersamaan, spiritualitas, dan kearifan lokal.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah