RADARBONANG.ID - Tradisi Tabuik merupakan salah satu warisan budaya Minangkabau yang paling ikonik dan masih lestari hingga kini di Kota Pariaman, Sumatera Barat.
Setiap tahunnya, ribuan masyarakat lokal hingga wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara memadati kota pesisir tersebut untuk menyaksikan prosesi budaya yang digelar dalam rangka memperingati peristiwa Asyura.
Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga identitas kuat masyarakat Pariaman.
Tabuik berasal dari kata “tabut” yang berarti peti atau tandu. Dalam tradisi ini, Tabuik digambarkan sebagai bangunan tinggi berornamen khas, menyerupai menara bertingkat yang dihiasi ukiran dan warna mencolok.
Baca Juga: Tersedak Tanpa Makan atau Minum, Kenapa Bisa Terjadi? Ini Penjelasan Medisnya
Bangunan tersebut kemudian diarak secara massal oleh masyarakat sebelum akhirnya dibuang ke laut.
Prosesi ini sarat makna filosofis dan nilai kebersamaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Sejarah Tabuik di Pariaman diyakini berakar dari budaya masyarakat keturunan India Muslim yang datang ke wilayah pesisir Sumatera Barat pada abad ke-19.
Tradisi ini kemudian berakulturasi dengan budaya Minangkabau dan berkembang menjadi ritual adat yang khas.
Meski berangkat dari kisah wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husain, pelaksanaan Tabuik di Pariaman lebih menonjolkan aspek budaya dan sosial dibanding ritual keagamaan.
Prosesi Tabuik berlangsung selama beberapa hari dan terdiri dari sejumlah tahapan, mulai dari pembuatan kerangka Tabuik, pengumpulan dana masyarakat, hingga arak-arakan besar yang menjadi puncak acara.
Dua Tabuik utama, yakni Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang, diarak oleh kelompok masyarakat yang berbeda.
Iringan gandang tasa yang menghentak menambah semarak suasana dan menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton.
Puncak tradisi Tabuik biasanya digelar pada tanggal 10 Muharam. Ribuan orang memadati Pantai Gandoriah untuk menyaksikan momen saat Tabuik dibuang ke laut.
Prosesi ini melambangkan pelepasan kesedihan sekaligus pengingat bahwa manusia harus kembali kepada Sang Pencipta.
Meski tampak meriah, nilai spiritual dan simbolik tetap menjadi inti dari pelaksanaan tradisi ini.
Bagi masyarakat Pariaman, Tabuik bukan sekadar festival tahunan, melainkan sarana memperkuat solidaritas sosial.
Proses persiapan hingga pelaksanaan melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemuda, hingga anak-anak.
Nilai gotong royong, kebersamaan, dan rasa memiliki terhadap budaya lokal tercermin kuat dalam setiap tahap tradisi ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, Tradisi Tabuik juga berperan penting dalam mendukung sektor pariwisata daerah.
Pemerintah setempat menjadikan Tabuik sebagai agenda budaya unggulan yang mampu mendongkrak kunjungan wisata.
Berbagai kegiatan pendukung seperti pertunjukan seni, bazar kuliner, dan pameran UMKM turut digelar untuk memperkaya pengalaman pengunjung.
Meski mengalami berbagai penyesuaian seiring perkembangan zaman, esensi Tradisi Tabuik tetap dijaga.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Takut Berubah? Psikologi Menjelaskan Dampaknya terhadap Kebahagiaan
Masyarakat Pariaman berupaya mempertahankan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya agar tidak tergerus modernisasi.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu bertahan dan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Dengan keunikan sejarah, kekayaan simbolik, serta daya tarik visual yang kuat, Tradisi Tabuik di Pariaman layak menjadi salah satu kebanggaan budaya Indonesia.
Lebih dari sekadar tontonan, Tabuik adalah cerminan perjalanan sejarah, identitas, dan semangat kolektif masyarakat Minangkabau yang terus hidup hingga kini.
Editor : Muhammad Azlan Syah