Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Mengenal Tradisi Unik Kampung Jalawastu di Brebes: Bahasa Sunda dan Ritual Ngasa

Muhammad Azlan Syah • Rabu, 24 Desember 2025 | 22:05 WIB

Salah satu Tim Jawa Pos Radar Tuban ketika berkunjung ke Kampung Budaya Jalawastu, Brebes, pada 23 Maret 2022. Menyusuri jejak tradisi, bahasa, dan kearifan lokal yang tetap lestari di tengah zaman.
Salah satu Tim Jawa Pos Radar Tuban ketika berkunjung ke Kampung Budaya Jalawastu, Brebes, pada 23 Maret 2022. Menyusuri jejak tradisi, bahasa, dan kearifan lokal yang tetap lestari di tengah zaman.
Salah satu Tim Jawa Pos Radar Tuban ketika berkunjung ke Kampung Budaya Jalawastu, Brebes, pada 23 Maret 2022. Menyusuri jejak tradisi, bahasa, dan kearifan lokal yang tetap lestari di tengah zaman.
Salah satu Tim Jawa Pos Radar Tuban ketika berkunjung ke Kampung Budaya Jalawastu, Brebes, pada 23 Maret 2022. Menyusuri jejak tradisi, bahasa, dan kearifan lokal yang tetap lestari di tengah zaman.

RADARBONANG.ID – Di lereng perbukitan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, terdapat sebuah kampung kecil yang punya tradisi unik dan berbeda dari lingkungan sekitarnya.

Kampung Jalawastu, yang termasuk dalam wilayah Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, menarik perhatian karena budaya dan cara hidup warganya yang masih sangat kental dengan nilai-nilai tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Kampung ini hingga kini tetap menjaga tradisi leluhur yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu, dan menjadi salah satu contoh nyata pelestarian adat di era modern. 

Baca Juga: Paradoks Pariwisata Bali: Kunjungan Wisatawan Meningkat, tapi Okupansi Hotel dan Pendapatan Daerah Malah Turun

Bahasa Sunda di Tengah Jawa

Salah satu hal yang membuat Kampung Jalawastu begitu unik adalah penggunaan bahasa Sunda sehari-hari oleh warganya.

Meskipun kampung ini berada di provinsi Jawa Tengah, bahasa yang dominan digunakan dalam interaksi keseharian adalah bahasa Sunda, mirip dengan dialek yang dipakai masyarakat Baduy di Provinsi Banten.

Keunikan ini luar biasa karena sebagian besar masyarakat kampung ini berasal dari etnis Jawa, namun tetap mempertahankan logat dan kosakata Sunda yang kuat.

Sebagian kata bahkan dipengaruhi oleh bahasa Jawa Brebesan, menunjukkan adanya akulturasi linguistik yang kaya. 

Penggunaan bahasa Sunda ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari identitas sosial masyarakat yang dipelihara secara sadar.

Tradisi tutur ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pelajar linguistik dan wisatawan budaya yang ingin memahami ragam bahasa di Indonesia dari dekat.

Memeluk Kepercayaan Sunda Wiwitan

Selain bahasa, sistem kepercayaan masyarakat Jalawastu juga memiliki daya tarik tersendiri.

Masyarakat kampung ini sampai kini masih menjaga ajaran Sunda Wiwitan, sebuah kepercayaan leluhur yang berakar kuat pada konsep keseimbangan antara alam, manusia, dan sang pencipta.

Meskipun mayoritas warga juga menganut agama Islam, upacara-upacara adat Sunda Wiwitan tetap dilaksanakan sebagai bagian dari ritual budaya kampung. 

Sunda Wiwitan merupakan agama tradisional yang lebih mengutamakan hubungan spiritual antara manusia dengan alam dan leluhur.

Nilai ini tercermin dalam berbagai praktik sehari-hari masyarakat Jalawastu, seperti tata cara bercocok tanam, aturan adat, hingga ritual syukur yang dilakukan setiap tahunnya.

Upacara Adat Ngasa: Ungkapan Syukur dan Harmoni Komunitas

Upacara adat paling terkenal di Kampung Jalawastu adalah ritual Ngasa. Tradisi ini menjadi puncak kegiatan adat setiap tahun dan biasanya dirayakan pada Selasa Kliwon di Mangsa Kasanga, yang jatuh dalam penanggalan Jawa sekitar bulan Maret atau April.

Ritual ini dipusatkan di kawasan hutan adat yang dianggap sakral oleh warga, di mana para tetua adat membacakan mantera dan doa-doa tradisional sebagai bentuk syukur atas hasil bumi dan permohonan keselamatan. 

Ritual Ngasa bukan sekadar acara seremonial, tetapi merupakan media penting untuk memperkuat kerukunan dan solidaritas sosial dalam komunitas.

Nilai-nilai seperti gotong royong, rasa saling menghormati, serta kebersamaan tergambar jelas dalam setiap tahapan upacara.

Setelah ritual utama selesai, warga biasanya berkumpul untuk menyantap hidangan bersama, mempererat hubungan antargenerasi dan memperkuat rasa persaudaraan. 

Aturan Adat yang Masih Dipatuhi

Kampung Jalawastu juga dikenal karena aturan adat yang unik dan masih sangat dipatuhi oleh warganya.

Beberapa pantangan dan aturan yang dijalankan antara lain larangan penggunaan bahan bangunan modern seperti semen, keramik, dan genteng untuk membangun rumah.

Hal ini bertujuan menjaga harmoni antara lingkungan alam dan kehidupan manusia, serta mempertahankan estetika tradisional yang telah ada sejak dulu. 

Selain itu, tradisi pertanian tradisional juga tetap dijaga. Masyarakat menghargai alam sebagai sumber keberlanjutan hidup dengan cara yang sangat bijak dan penuh rasa hormat.

Mereka percaya bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan mereka sendiri.

Baca Juga: Kenapa Avatar: The Last Airbender Beda dengan Avatar James Cameron

Warisan Budaya Tak Benda yang Diakui

Keunikan budaya Kampung Jalawastu telah diakui secara nasional dengan penetapan beberapa tradisi sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

Status ini menunjukkan bahwa budaya lokal kampung ini memiliki nilai historis dan kultural yang tak ternilai dan perlu dilestarikan demi generasi mendatang. 

Dengan segala kearifan lokal yang dimilikinya, Kampung Jalawastu menjadi bukti bahwa tradisi adat bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi masih relevan dan hidup di tengah dinamika kehidupan modern.

Kampung ini mengajarkan bahwa pelestarian budaya lokal merupakan bentuk penghormatan terhadap akar sejarah dan identitas sebuah komunitas.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#budaya lokal Jawa Tengah #adat Sunda Wiwitan Brebes #tradisi Jalawastu #ritual Ngasa #desa adat Jalawastu #Kampung Jalawastu Brebes