RADARBONANG.ID – Lamongan, sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Timur yang dikenal dengan kekayaan budaya dan kulinernya, kini tengah menghadapi kekhawatiran baru.
Bukan soal pembangunan infrastruktur atau problem sosial, melainkan tentang bagaimana sejumlah ikon khas daerah—yang dulu begitu melekat dengan identitas lokal—perlahan “pindah tangan” dan diklaim oleh kota lain, khususnya Semarang di Jawa Tengah.
Fenomena ini mencuat setelah sejumlah perubahan, baik dalam sejarah cita rasa, kepemilikan brand, maupun asosiasi populer di masyarakat.
Warisan budaya kuliner yang semula dianggap milik Lamongan kini makin sering disandingkan dengan identitas kota lain, terutama di media sosial dan lanskap digital.
Ini bukan sekadar nostalgia semata, tetapi persoalan bagaimana suatu komunitas mempertahankan warisan historis dan cultural belonging di tengah dinamika modern.
Wingko Babat: Dari Nama Asli hingga Kompleksitas Identitas
Salah satu contoh paling klasik ialah makanan tradisional wingko. Bagi masyarakat Lamongan, wingko bukan sekadar kue.
Sejarahnya berakar di Babat, sebuah kecamatan di Lamongan yang sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan dan transit.
Wingko Babat menjadi salah satu oleh-oleh khas yang identik dengan kota ini karena mudah ditemui di sepanjang rute transportasi yang melintas di Babat.
Namun, seiring waktu, identitas wingko Babat mengalami perubahan narasi. Ada versi sejarah yang menunjukkan bahwa para pembuatnya berpindah ke Semarang pada era 1940-an.
Di kota tersebut, wingko lambat laun lebih dikenal publik sebagai makanan tradisional Semarang, bukan lagi Lamongan.
Proses ini menunjukkan bagaimana sejarah makanan bisa berubah arah ketika dipengaruhi oleh migrasi budaya, urbanisasi, dan penerimaan pasar yang lebih luas.
Kini, ketika banyak turis dan pencinta kuliner menyebut “wingko Semarang”, sedikit sekali yang masih mengingat bahwa akar nama dan resep asli berasal dari Babat, Lamongan.
Belikopi dan Sponsor Persela: Kepindahan yang Lebih Kompleks
Fenomena serupa terjadi pada brand kopi legendaris yang dikenal luas di banyak kota: Belikopi.
Selama ini, brand tersebut menjadi bagian dari rutinitas warga Lamongan dan komunitas pecinta kopi yang gemar nongkrong sambil menikmati harga yang bersahabat.
Banyak yang melihat Belikopi sebagai bagian dari identitas kuliner lokal karena selain kualitasnya yang konsisten, kemudahan mengaksesnya menjadi bagian pengalaman keseharian warga.
Namun dinamika berubah ketika sang owner Belikopi memutuskan untuk berpindah dukungan sponsor dari klub sepak bola lokal Persela Lamongan ke klub PSIS Semarang.
Langkah ini bukan hanya perubahan sponsorship biasa, tetapi memberi sinyal perubahan afiliasi antara brand dan identitas lokal.
Belikopi yang semula menjadi bagian dari perjalanan Persela Lamongan—yang juga tak lepas dari kebanggaan warga—seolah ikut tergeser menjadi bagian dari narasi sepak bola Semarang.
Bagi banyak pendukung Persela, keputusan ini terasa berat karena berbicara tentang hubungan emosional antara brand, tim lokal, dan komunitas.
Sponsor bukan sekadar nama di jersey, tetapi juga simbol dukungan terhadap tim dan budaya lokal. Ketika identitas itu hilang atau berpindah kota, ada rasa kehilangan tersendiri yang dirasakan oleh warga.
Komunitas, Identitas, dan Masa Depan Lamongan
Isu yang tampaknya ringan ini sebenarnya memiliki dampak panjang pada bagaimana masyarakat memandang kelestarian budaya mereka.
Ketika ikon kuliner dan identitas populer perlahan diasosiasikan dengan kota lain, Lamongan sebagai tempat kelahiran sejarah tersebut terancam kehilangan aura kuatnya di mata generasi kini dan mendatang.
Kekhawatiran ini bukan sekadar persoalan milik—tetapi juga tentang bagaimana sejarah hidup dan karya komunitas dapat dipertahankan.
Pencipta, originalitas, dan konteks sosial menjadi pilar penting dalam bentuk warisan budaya. Ketika hal-hal itu mulai diambil alih, baik oleh migrasi nyata atau narasi baru, klaim asal menjadi lebih kabur.
Beberapa pengamat budaya menilai, fenomena ini mirip dengan proses rebranding tak resmi yang terjadi karena dinamika pasar, urbanisasi, dan ketimpangan ekonomi antara daerah yang berkembang dan yang stagnan.
Kota yang lebih maju cenderung menjadi “magnet” bagi brand dan pencipta konten, sementara daerah asalnya kerap kehilangan narasi asli karena keterbatasan akses pasar dan daya dukung ekonomi.
Refleksi Warga dan Upaya Pelestarian Lokal
Tidak sedikit warga Lamongan yang kemudian menyuarakan pentingnya pelestarian identitas lokal.
Bagi mereka, wingko Babat, Belikopi, dan simbol lainnya bukan hanya makanan atau brand.
Ia adalah bagian dari sejarah, pengingat akan akar budaya, dan koneksi emosional yang mengikat generasi lama dan muda.
Beberapa komunitas lokal telah mencoba mengorganisir kegiatan untuk menguatkan identitas tersebut.
Misalnya, festival kuliner lokal, lomba resep tradisional, atau dokumentasi sejarah makanan khas daerah yang menggandeng para tetua adat dan pakar budaya.
Upaya semacam ini dimaksudkan agar narasi tentang asal usul tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat.
Mereka berharap, destinasi-destinasi wisata kuliner dan ikon budaya Lamongan tetap dikenal sebagai bagian dari sejarah daerah ini, tanpa tergerus oleh narasi yang semakin dominan di kota lain.
Apakah Identitas Selalu Permanen?
Perubahan narasi tidak hanya terjadi pada Lamongan. Banyak daerah lain juga mengalami hal serupa ketika brand lokal atau warisan budaya mulai diklaim oleh daerah lain dengan basis ekonomi yang lebih kuat.
Fenomena globalisasi, mobilitas masyarakat, dan kekuatan media sosial turut mempercepat fenomena ini.
Namun, bagi warga Lamongan, ini sekaligus menjadi panggilan untuk merefleksikan ulang pentingnya menjaga hubungan emosional dan historis terhadap akar budaya.
Identitas lokal bukan barang yang statis; ia hidup bersama cara masyarakatnya menjaga, menghidupi, dan menceritakan ulang sejarahnya kepada generasi seterusnya.
Perpindahan narasi dari “wingko Babat” yang kini semakin sering dianggap sebagai milik Semarang, hingga perubahan hubungan brand besar seperti Belikopi, menunjukkan bagaimana identitas lokal rentan terhadap dinamika sosial dan ekonomi.
Fenomena ini lebih dari sekadar soal kehilangan “status”; ia mencerminkan tantangan besar bagi daerah seperti Lamongan dalam mempertahankan cerita asli mereka di tengah arus perubahan zaman.
Lamongan, dengan segala kekayaan budayanya, kini tengah berhadapan dengan satu pertanyaan penting: bagaimana melestarikan narasi lokal di tengah tekanan modernisasi dan dominasi pasar? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah ikon-ikon khasnya tetap hidup sebagai identitas, atau hanya menjadi kenangan indah yang perlahan diambil alih oleh narasi kota lain
Editor : Muhammad Azlan Syah